Apakah Dalam Shalat Jahriyyah Makmum Membaca Al Fatihah

“Apakah Dalam Shalat Jahriyyah Makmum Membaca Al Fatihah”

Nomor Pertanyaan 747

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh …

Bagaimana cara makmum membaca Al Fatihah dalam shalat Maghrib dan yang lainnya…?

Apakah wajib dibaca Al Fatihah itu setelah bacaan imam dan Amiin…?

Apa hukum diam si imam setelah membaca Al Fatihah supaya si makmum membacanya?

Maafkan saya karena saya orang ‘ajam (non arab) dan tidak bisa bahasa arab kecuali sedikit…

Jazakumullahu khairan…

Penanya: Abu Usamah Ath Thabariy…

Al Lajnah Asy Syar’iyyah di Al Minbar menjawab:

Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh…

Semoga Allah melimpahkan barakah kepadamu dan menambahkan kepadamu semangat kuat dalam mempelajari urusan agamamu dan dakwah kepadanya…

Saudaraku penanya:

“Sesungguhnya membaca surat Al Fatihah adalah wajib atas imam, makmum dan munfarid dalam setiap raka’at, dan ini adalah pendapat yang paling bahagia dengan kebenaran. Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Barangsiapa melaksanakan shalat yang mana dia tidak membaca Ummul Qur’an di dalamnya, maka ia (shalatnya) itu adalah khidaj -tiga kali- lagi tidak sempurna.” Maka dikatakan kepada Abu Hurairah: Sesungguhnya kami berada di belakang imam.” Maka ia berkata: Bacalah pada dirimu, karena sesungguhnya saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: Allah ta’ala berfirman:

فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: حَمِدَنِي عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: {الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: {مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ} ، قَالَ: مَجَّدَنِي عَبْدِي – وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي – فَإِذَا قَالَ: {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ}  قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ: {اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

 “Aku telah membagi shalat di antara-Ku dan di antara hamba-Ku dua bagian dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta. Bila si hamba membaca الحمد لله رب العالمين maka Allah ta’ala berkata: hamba-Ku memuji-Ku, dan bila membaca الرحمن الرحيم maka Allah ta’ala berkata: hamba-Ku telah menyanjung-Ku, dan bila membaca مالك يوم الدين maka berkata: hamba-Ku telah mengagungkan-Ku, kemudian bila membaca إياك نعبد وإيك نستعين maka berkata: Ini adalah antara-Ku dengan hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta, kemudian bila membaca اهدنا الصراط المستقيم صراط الذين انعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين maka berkata: Ini bagi hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang yang dia minta.” (HR Muslim no. 395) dan dalam satu riwayat: Abu As Sa-ib Maula Hisyam ibnu Zuhrah berkata: Maka saya berkata: Wahai Abu Hurairah sesungguhnya saya kadang berada di belakang imam. Berkata: maka ia menyentuh tangan saya dan berkata: Bacalah Al Fatihah itu pada dirimu wahai orang Persia… kemudian menuturkan hadits. (HR Abu Dawud)

Al Imam Al Khaththabiy rahimahullah berkata dalam Al Ma’alim: “(maka ia (shalatnya) itu adalah khidaj) yakni kurang dengan kekurangan yang merusak dan membatalkan.” Selesai

Al Bukhari mengeluarkan dalam juz Al Qira’ah dari Anas radliyallahu ‘anhu: “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat dengan para sahabatnya, kemudian tatkala telah menyelesaikan shalatnya maka beliau menghadapkan wajahnya kepada mereka terus berkata: “Apakah kalian membaca di dalam shalat kalian sedangkan imam membaca? Maka mereka diam, maka beliau mengatakannya tiga kali, maka seseorang atau orang-orang mengatakan: “Sesungguhnya kami melakukan (nya),” maka beliau berkata: jangan kalian lakukan dan hendaklah orang di antara kalian membaca Fatihatul Kitab pada dirinya.”

Dari Ubadah ibnu Ash Shamit radliyallahu ‘anhu berkata: (Adalah kami dahulu berada di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat fajar, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca dan terus bacaan terasa berat terhadapnya, kemudian tatkala selesai maka beliau berkata:

لَعَلَّكُمْ تَقْرَءُونَ خَلْفَ إِمَامِكُمْ» قُلْنَا: نَعَمْ هَذًّا يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: لَا تَفْعَلُوا إِلَّا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَإِنَّهُ لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِهَا

 “Mungkin kalian membaca di belakang imam kalian? Maka kami berkata: “Ya ini (kami melakukan ini) wahai Rasulullah,” maka beliau berkata: “Jangan kalian lakukan kecuali terhadap Fatihatul Kitab, karena sesungguhnya tidak (ada) shalat bagi orang yang tidak membacanya.” (HR Ahmad, Abu Dawud dan yang lainnya)

Al Imam Al Khaththabi rahimahullah berkata: “Hadits ini menegaskan bahwa membaca Al Fatihah adalah wajib atas orang yang di belakang imam, baik si imam itu menjaharkan bacaan ataupun membacanya pelan, sedangkan isnadnya adalah jayyid lagi tidak ada celaan di dalamnya.” Selesai (Aunul Ma’bud 3/30)

Al Imam Al Bukhari rahimahullah berkata dalam juz Al Qira’ah: “Al Hasan, Said ibnu Jubair, Maimun ibnu Mahran serta kalangan tabiin dan ahlul ilmi yang tidak terhitung jumlahnya mengatakan: Sesungguhnya (makmum) membaca di belakang imam walaupun ia menjaharkan.” Selesai. Dan berkata di dalamnya: “Dan Umar Ibnul Khaththab berkata: Bacalah di belakang imam. Saya berkata: Meskipun engkau membaca? Ia berkata: Ya, meskipun aku membaca. Dan begitu juga dikatakan oleh Ubay ibnu Ka’ab, Hudzaifah Ibnu Yaman dan Ubadah radliyallahu ‘anhum. Dan hal serupa itu disebutkan dari Ali ibnu Abi Thalib, Abdullah ibnu ‘Amr, Abu Sa’id Al Khudriy dan sejumlah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Al ‘Adhim Abadiy rahimahullah berkata: “Membaca di belakang imam baik dalam apa yang dia baca sirr (pelan) maupun dalam apa yang dia jaharkan inilah pendapat yang haq, dan ini dianut oleh Asy Syafi’iy, Ishaq, Al Auza’iy, Al Laits ibnu Sa’ad dan Abu Tsaur, dan ia dikatakan oleh ‘Urwah ibnu Az Zubair, Sa’id ibnu Jubair, Al Hasan Al Bashriy dan Makhul.” Selesai (Aunul Ma’bud 3/30)

Dan adapun ulama yang berpendapat bahwa bacaan itu wajib atas imam dan munfarid tidak atas makmum, maka mereka berdalil dengan hal-hal berikut:

  1. Firman Allah ta’ala:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

 “Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” [Al A’raf: 204]

Akan tetapi ayat ini ayat yang umum, dan hadits ‘Ubadah adalah khusus, sedangkan dalil khusus itu didahulukan terhadap dalil umum.

  1. Hadits Abu Musa secara marfu’:

وَإِذَا قَرَأَ فَأَنْصِتُوا

“Dan bila ia membaca maka diamlah (simaklah)” (HR Muslim no. 404)

Akan tetapi di katakan padanya apa yang di katakan pada ayat tadi. Al Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

وَلَا دَلَالَةَ فِيهِ لِإِمْكَانِ الْجَمْعِ بَيْنَ الْأَمْرَيْنِ فَيُنْصِتُ فِيمَا عَدَا الْفَاتِحَةَ

“Dan tidak ada dilalah di dalamnya karena mungkin dilakukan penggabungan antara dua hal itu: di mana dia diam pada selain Al Fatihah.” Selesai (Fathul Bari 2/314)

  1. Hadits Abu Hurairah secara marfu’:

مَنْ كَانَ لَهُ إِمَامٌ، فَقِرَاءَةُ الْإِمَامِ لَهُ قِرَاءَةٌ

 “Barangsiapa memiliki imam, maka bacaan imam adalah bacaan baginya.” (HR Ibnu Majah no. 850)

Akan tetapi ia itu hadits dlaif lagi tidak sah, diriwayatkan oleh ibnu Majah; dan berkata di dalam “Az Zawaid”: Dalam isnadnya ada Jabir Al Ju’fiy kadzdzab (pendusta), dan hadits ini juga menyelisihi apa yang diriwayatkan oleh enam (ulama penulis kitab hadits) dari hadits ‘Ubadah.” Selesai. Dan Al Hafidh ibnu Hajar berkata dalam At Taqrib: “Jabir ibnu Yazid Al Ju’fiy…dlaif rafidliy (lemah lagi penganut paham rafidlah).” Selesai. Dan diriwayatkan oleh Ath Thabraniy juga, dan ada dalam Majma Az Zawaid: “Diriwayatkan oleh Ath Thabraniy dalam Al Ausath dan di dalamnya ada Abu Harun Al ‘Abdiy sedang dia itu matruk.” Selesai.

Al Imam ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Dan hadits ini telah diriwayatkan dari banyak jalur yang tidak sah sesuatu pun darinya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Selesai (Tafsir Al-Qur’an Al ‘adhim 1/22)

Al Hafidh ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Hadits yang lemah menurut para huffadh, sedang jalur-jalur dan cacat-cacatnya telah dikumpulkan Ad Daruquthniy dan yang lainnya.” Selesai (Fathul Bari 2/314)

  1. Kalangan Malikiyyah telah berhujjah dengan amalan Ahli Madinah, Al Imam Ibnul ‘Arabiy Al Malikiy rahimahullah berkata: “Adapun Jahar, maka tidak ada jalan untuk membaca di dalamnya karena tiga alasan: pertama, bahwa ia itu amalan ahli Madinah…” selesai.

Akan tetapi amalan ahli Madinah saja tidak ada nilai hujjah di dalamnya menurut Jumhur ahli Ushul.

Adapun tentang hukum diam imam setelah bacaan Al Fatihah dalam shalat Jahriyyah, maka dalam hal itu tidak ada dalil shahih lagi sharih yang menunjukkan pensyari’atan hal itu… sungguh telah diriwayatkan dari Samurah ibnu Jundub berkata: “Dua saktah (sikap diam) yang saya hapal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Selesai.

Adapun saktah pertama, maka ia itu setelah takbiratul ihram, di mana Al Bukhari dan Muslim telah mengeluarkan dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu berkata:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْكُتُ بَيْنَ التَّكْبِيرِ وَبَيْنَ القِرَاءَةِ

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diam sejenak antara takbir dengan bacaan.” (HR Bukhari no. 744)

Dan adapun saktah yang kedua, maka ulama telah berselisih di dalamnya, di antara mereka ada yang mengatakan: Bahwa ia setelah selesai dari bacaan al fatihah dan di antara mereka ada yang mengatakan: bahwa ia setelah selesai dari bacaan semuanya sebelum ruku’. Al Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Dan diperselisihkan perihal yang kedua, di mana diriwayatkan bahwa ia itu setelah Al Fatihah, dan ada yang mengatakan bahwa ia itu setelah bacaan dan sebelum ruku.” Selesai (Zadul Ma’ad 1/208)

Ini andaikata hadits itu shahih, akan tetapi hadits itu tidak shahih sebagaimana yang telah kami utarakan; syaikh Al Albaniy -semoga Allah memaafkannya- berkata: “Hadits ini menurut saya adalah mu’allal (tercacat) dengan sebab inqitha’ (keterputusan sanad), karena ia termasuk riwayat Al Hasan dari Samurah, sedang dia walaupun secara umum telah mendengar darinya, akan tetapi dia itu mudallis dan telah meriwayatkannya dengan lafadh عن (dari), sedang dia tidak menegaskan bahwa ia telah mendengar hadits ini darinya, sehingga terbuktilah kedlaifannya.” Selesai (Tamamul Minnah hal 188)

Dan terakhir: Sesungguhnya kami mengecualikan dari hukum bacaan Al Fatihah bagi makmum, keadaan bila dia masbuq sehingga tidak mendapatkan kecuali ruku di belakang imam, berbeda dengan pendapat Dhahiriyyah yang tidak menganggap raka’at ini, Al Imam ibnu Hazim rahimahullah berkata: “Bila dia datang sedangkan imam dalam posisi ruku’ maka hendaklah dia ruku’ bersamanya, dan dia jangan menganggap raka’at itu, karena dia tidak mendapatkan berdiri dan bacaan.” Selesai (Al Muhalla 3/145)

Dan dalil pengecualian kami ini adalah hadits Abu Bakrah radliyallahu ‘anhu: Bahwa ia mendapatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan ruku’, maka ia bergegas dan ruku’ sebelum masuk dalam barisan, kemudian ia masuk dalam barisan. Kemudian tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelesaikan shalatnya maka beliau bertanya tentang siapa yang melakukan hal itu, maka Abu Bakrah berkata: Saya Wahai Rasulullah.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

زَادَكَ اللهُ حِرْصًا وَلاَ تَعُدْ

“Semoga Allah menambahkan semangat (keinginan) kepadamu, dan jangan kamu ulangi” (HR Al Bukhari)

Di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyuruhnya untuk mengulang raka’at, sebagaimana beliau perintahkan orang yang shalat tanpa thumaninah agar mengulang shalatnya.

Itu disebabkan karena pria itu tidak mendapatkan posisi berdiri yang merupakan tempat bacaan Al Fatihah, di mana tatkala dia tidak mandapatkan tempatnya maka gugurlah apa yang wajib di tempat itu, seperti halnya orang yang buntung tangannya adalah tidak wajib membasuh ‘adlud-nya sebagai pengganti dzira’-nya,[1] akan tetapi kewajiban gugur darinya karena lenyap tempatnya. Wallahu a’alam.

Dijawab oleh anggota Al Lajnah Asy Syar’iyyah

Syaikh Abu Humam Bakr ibnu Abdil Aziz Al Atsariy

Penerjemah: Abu Sulaiman 3 Muharram 1433 H


[1] ‘adlud adalah bagian tangan antara sikut dengan ketiak, sedang dzira’adalah bagian tangan dari sikut sampai jari-jari. (pent).

 

sumber : http://millahibrahim.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s