Hukum Menggerakkan Telunjuk Dalam Tasyahhud

“Hukum Menggerakkan Telunjuk Dalam Tasyahhud”

Nomor Pertanyaan 455

Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh

Di sana ada dua pendapat pada masalah menggerakkan telunjuk di tasyahhud (awal dan akhir). Pendapat pertama mengatakan pensyariatan penggerakan, sedang pendapat kedua mengatakan tidak disyari’atkan penggerakan.

Saya memohon dari anda sekalian untuk menjelaskan masalah ini semoga Allah menjaga kalian dan memberikan kepada kalian balasan kebaikan…

 

Al Lajnah Asy Syar’iyyah di Al Minbar Menjawab:

Wa’alaikumusalam wa rahmatullah wa barakatuh

Al Imam ibnu Qudamah Al Maqdisiy mengatakan: “Dan ia meletakkan tangan kanannya di atas pahanya yang kanan dan menggenggamkan jari manis dan kelingking darinya dan melingkarkan ibu jari dengan jari tengah serta mengisyaratkan dengan telunjuk, yaitu jari yang dekat ibu jari, berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Wail ibnu Hajar: (Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan sikutnya yang kanan di atas pahanya yang kanan, kemudian melipatkan jari manis dan jari kelingkingnya, dan membuat lingkaran dengan jarinya yang tengah dan ibu jari, serta mengangkat telunjuk seraya mengisyaratkan dengannya)… dan tidak menggerakkannya, berdasarkan apa yang diriwayatkan Abdullah ibnu Az Zubair: (Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan dengan jarinya dan tidak menggerakkannya) diriwayatkan Abu Dawud, dan dalam satu lafadh: (Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila duduk berdoa maka beliau meletakkan tangan kanannya di atas paha kanannya, dan tangan kirinya di atas paha kirinya dan mengisyaratkan dengan jarinya).” Selesai (Al Mughni 2/87-88) dan dari Nafi: “Bahwa ibnu Umar bila shalat maka ia mengisyaratkan dengan jarinya dan mengikutkan pandangannya kepadanya, dan berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: لَهِيَ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنَ الْحَدِيدِ (Sungguh ia itu lebih keras terhadap syaithan daripada besi) yaitu telunjuk.” Berkata di dalam Majma Az Zawaid: “Diriwayatkan oleh Al Bazzar, dan Ahmad sedang di dalamnya ada Katsir ibnu Zaid yang dinilai tsiqah oleh ibnu Hibban  dan dinilai dlaif oleh selainnya.” (2/334)

Dan adapun yang diriwayatkan Ahmad dalam Al Musnad 4/318, ibnu Khuzaimah dalam shahihnya “714”, Ibnul Jarud dalam Al Muntaqa “208”, ibnu Hibban dalam shahihnya “485” dan Al Baihaqi dan As Sunan 2/132 dari jalur zaidah Ibnu Qudamah, telah menyampaikan kepada kami ‘Ashim ibnu Kulaib, telah menyampaikan kepadaku ayahku, dari Wail ibnu Hujur mengabarkannya (…kemudian beliau menggenggamkan antara jari-jarinya dan membuat lingkaran terus mengangkat jarinya maka saya melihatnya menggerakkannya…) maka ini isnad yang shahih, akan tetapi lafadh: (menggerakkannya) adalah syadz (ganjil), karena menyendiri dengannya Zaidah ibnu Qudamah di antara murid-murid ‘Ashim ibnu Kulaib, yaitu:

  1. Bisyr Ibnul Mufadldlal, pada An Nasai 3/35.
  2. Khalid ibnu Abdillah Al Wasithiy, pada Al Baihaqi 2/131.
  3. Zuhair ibnu Muawiyyah, pada Ahmad 4/318 dan Ath Thabaraniy 22/84
  4. Sufyan Ats Tsauriy, pada Abdurrazzaq “2522” dan Ath Thabaraniy 22/81
  5. Sufyan ibnu ‘Uyainah, pada Ahmad 4/318, Al Humaidiy “885” An Nasai 3/34 dan Ath Thabaraniy dalam Al Mu’jam Al Kabir 22/78.
  6. Abul Ahwash Salam ibnu Sulaim, pada Ath thayalisiy “1020” dan Ath Thabaraniy 22/83.
  7. Syu’bah, pada Ahmad 4/316, ibnu Khuzaimah “697” dan Ath Thabaraniy 22/83.
  8. Abdullah ibnu Idris Al Audiy, pada ibnu Majah “912”
  9. Abdul Wahid ibnu Ziyad Al ‘Abdiy, pada Ahmad 4/316
  10. Qais ibnu Ar Rabi’, pada Ath Thabraniy 22/79
  11. Abu ‘Uwanah Al Wadldlah, pada Ath Thabaraniy 22/90.

Mereka ats tsiqat al atsbat (tsiqah lagi kokoh) dari murid-murid Ashim itu tidak menyebutkan penggerakan yang mana Zaidah menyendiri dengannya, dan ini tergolong dalil paling jelas yang menunjukkan wahm (kekeliruan) Zaidah dalam penuturan lafadh “menggerakkannya” dalam teks hadits…

Dan di antara ulama ada yang menerima tambahan ini dan menilainya sebagai bagian tambahan orang tsiqah dan menggabungkan antara lafadh mengisyaratkan dengan menggerakkan dengan cara mengisyaratkan dengan telunjuk ke arah kiblat dan menggerakkannya pelan-pelan seraya tetap di atas isyaratnya ke arah kiblat. Wallahu a’lam.

Dijawab oleh anggota Al Lajnah Asy Syariyyah.

Syaikh Abu Humam Bakr ibnu Abdil Aziz Al Atsariy

 

Penerjemah: Abu Sulaiman 2 Muharram 1433 H.

sumber :http://millahibrahim.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s