Terjemahan kitab Al-Haqaiq

Bagian 1

Kitab Al-Haqaiq

Fie Tauhid

Pengarang

Fadhilatusysyaikh

Ali bin Khudair Al-Khudair

-Semoga Alloh mencukupi beliau, kedua orang tuanya, keluarganya dan para gurunya, para muridnya dan semua kaum muslimin.-

القصسم- بر يد ة

Al-Qashim – di musim dingin

Diberi Mukadimah oleh Fadhilatusysyaikh Al-Allamah Hamuud bin Uqla Asysyu’abiey

–Semoga Alloh menjaganya dan kewara’annya

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Pengantar dari Samahah putera Al-Alamah Asysyeikh Hamud bin Uqla Asysyu’abiey.

Segala puji bagi Alloh Rabb semesta alam, sholawat dan sallam tercurah atas Nabi pilihan yang diutus, Nabi kita Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Kepada keluarganya, para sahabatnya seluruhnya, amma ba’du:

Sesungguhnya pengarang mempelajari dan menjelaskan kitab tauhid dan aqidah sangat penting dan seutama-utama perkara yang agung, karena ilmu tauhid adalah yang paling utama, Alloh Ta’ala berfirman:

ó فَٱعْلَمْ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ

“Maka Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah ..”(QS. Muhammad,:19).

 

Terutama pada jaman sekarang dimana jaman yang dipenuhi dengan keterasingan dan kebodohan dalam hal tauhid dan aqidah kecuali manusia yang dirahmati oleh Alloh maka penyebaran kitab tauhid ini lebih penting untuk didahulukan dari pada ibadah yang lain yang mendekatkan kepada Alloh dan jihad.

Tidak diragukan pada jaman ini dengan memulai dakwah ini dengan dakwah tauhid sebagaimana disana terdapat kesungguhan untuk menyusun, mempelajari, kitab-kitab tauhid, dan aqidah diantaranya pula kitab-kitab Syeikh Al-Allamah Muhammad bin Abdil Wahhab –rahimahulloh- dan dalam kitab-kitab risalah dari para aimmah dakwah Al-Mubarokah.

Dan aku telah mempelajari ketiga kitab karya Fadhilatusysyeikh Ali bin Khudair Al-Khudair, diantaranya : kitab kumpulan dan tajrid mengenai penjelasan kitab tauhid, juz pertama, kitab Al-Haqaieq Fie At Tauhid, dan kitab penjelasan dan kesempurnaan mengenai membongkar dua syubhat (kitab Kasyfu Syubhatain), maka aku mendapatkan pentingnya dan bermanfaatnya kitab ini dari tiap-tiap babnya .

Maka hanya kepada Alloh kita memohon agar penulisan kitab ini diterima olehNya dan dijadikan sebagai amal shalih dan taufik diberikan Alloh atasnya.

Sebagaimana kami telah mendorong dan memotivasi setiap kaum muslimin untuk bersemangat dalam mempelajari tauhid dan jihad dan agar menghinakan musuh-musuh dienNya. Karena dialah Alloh Wali yang Maha berkuasa atas segala sesuatu, Sholawat dan salam atas Nabi kita Muhammad Shallallahu alaihi Wa Sallam, kepada keluarganya dan para sahabatnya seluruhnya.

Didiktekan oleh Fadhilatusysyeikh

Al-Allamah Hamuud bin Uqla Asy-syu’abiey

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Secuil rangkuman mengenai kehidupan pengarang

Nama: Ali bin Khudair bin Fahd Ali Khudair lahir pada tahun 1374 H di Riyadh

Lulus kuliah dari perkuliahan Ushuluddien di Universitas Al-Imam Al-Qashim tahun 1403 H

Para guru-gurunya:

Mulai belajar ilmu pada masa mudanya di dirosah (madrasah) Tsanawiyah awalnya pada madrasah Al-Quran dan tilawah serta tajwid kepada Fadhilatusysyeikh Abdur Rouf Al-Hanawi –rahimahulloh-

Dia belajar juga sebelum memasuki kuliahnya kepada Fadhilatusysyeikh Ali bin Abdillah Al-Jardan dan Fadhilatusysyeikh Al-Qadhi Muhammad bin Muhaiji’ (Syeikh kibar dalam hukum (hakim besar) waktu jaman Asysyeikh Muhammad bin Ibrahim) –semoga Alloh merahmati mereka dan menentramkan ruhnya di dalam jannahNya-.

Guru-gurunya yang lain

  • Samahah para putera Asysyeikh Hamuud bin Uqla Asysyu’abiey –semoga Alloh memberikan dia taufik dan menjaganya serta kewaraannya- dan Alloh semoga memberinya balasan kebaikkan terhadap Islam dan kaum muslimin, beliau belajar kepadanya mengenai tauhid dan aqidah serta selainnya.
  • Fadhilatusysyeikh Muhammad bin sholih Al-Mansur-rahimahulloh dan semoga Alloh menentramkan ruhnya dan menempatkannya di dalam jannahNya- beliau belajar kepadanya empat tahun dari tahun 1409 H sampai 1413 H, mengenai ilmu tauhid, Fiqh, Ilmu waris, Hadits dan nahwu.
  • Fadhilatusysyeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin – rahimahulloh dan semoga Alloh menenangkan ruhnya di dalam jannahNya – beliau belajar kepadanya 4 tahun dari tahun 1400 H hingga tahun 1403 H mengenai ilmu fiqh.
  • Fadhilatusysyeikh Abdulloh bin Muhammad bin Abdillah Alu Syeikh –semoga Alloh memberikan taufik padanya dan menjaganya serta kewara’annya – beliau belajar kepadanya dalam bidang Fiqh.
  • Fadhilatusysyeikh Azzahid Muhammad bin Sulaiman Al-Alith, dibacakan kepadanya kitab mengenai Zuhud (kitab Zuhud karya Imam Waki’ dan Al-Wara’ karya Ahmad bin Hanbal- semoga Alloh merahmati mereka semua-).
  • Dan banyak Syeikh-Syeikh yang beliau belajar kepada mereka dari kalangan para ulama – semoga Alloh senantiasa memberikan taufik dan pertolonganNya pada mereka, menjaganya, merahmatinya dari yang sudah meninggal diatara mereka -.

Pengalaman mengajarnya

  • Mengajar di halaqah alamiyah dengan memulai pengajarannya pada bidang aqidah dan fiqh, awal mengajarnya di dalam mesjid-mesjid tahun 1405 H dalam bidang Fiqh, Musthalahul hadits, jumlah murid tidak lebih dari lima orang, dan dia terus-menerus mengajar sampai waktu mendatang. Kajiannya setiap hari diadakan setelah sholat shubuh dan sholat Isya. Murid-muridnya bertambah banyak dari lulusanya menjadi hakim dan dokter.

Karangan-karangannya

Yang paling umum karangan-karangannya meliputi tauhid diantaranya kitab yang berada disisi kami, kitab Al-Haqaiq fie Tauhid, kitab Al-Jam’u Wa ajrid fie Syarh kitab tauhid, kitab At Tawdhieh Wa Tataatu ‘alakasyfi syubuhaati dan kitab yang di dalamnya membahas tentang hukum-hukum Fiqh.

Kepada Alloh lah kami berdo’a agar memberikan taufik kepadanya, menjaganya, memberkahinya, mengampuni dirinya, kedua orang tuanya dan keluarganya.

Kepada Alloh lah kami berdo’a agar dikaruniakan taufik dan penjagaan terhadap guru-gurunya baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.

Dan hanya kepada Alloh lah kami berdo’a agar membela dan menolong diennya dan kaum muslimin dan agar memuliakan jihad dan mujahidin serta menghinakan musuh-musuhNya.

Sholawat dan sallam kepada Nabi kami Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, kepada keluarganya dan para sahabatnya semua.

Ditulis oleh salah satu dari murid-murid beliau

Terjemahan kitab Al-Haqaiq

Mengenai Tauhid

Pengarang

Fadhilatu Asysyaikh Ali bin Hudhair al-khudair

 

Alih bahasa : Abu Syamil Dhiya’ul Haq

 

Segala puji hanya kepunyaan Alloh semata pengatur semesta alam, shalawat serta sallam atas Nabi yang mulia dan yang diutus Nabi kami Muhammad Shallallahu Alaihi Wa sallam kepada keluarganya, para sahabatnya dan seluruhnya wa ba’du, Alloh memudahkan dalam mengumpulkan kitab ini, kitab yang membahas seputar hakekat Islam, syirik, kafir dijelaskan pula di dalamnya mengenai nama-nama dien, hukum-hukumnya, perbedaan diantara keduanya, hakekat dari ditegakannya hujjah, hakekat permasalahan-permasalahan yang bersifat dhahirah, hakekat permasalahan-permasalahan yang samar, perbedaan diantara keduanya, kaidah dasar (ushul), syariat-syariat, dan yang berkaitan dengannya berdasarkan petunjuk dalil dari Al-kitab (Al-Qur’an), Sunnah dan ijma. Disisi lain dituturkan pula perkataan hujjah dari para ulama yang bermanfaat yang menjelaskan beberapa keteledoran dan kekeliruan yang banyak dilakukan pada hari ini disebabkan telah meninggalkan perbedaan-perbedaan (diantara nama dan hukum) tersebut.

Ibnu Taimiyah – rahimahulloh – telah berkata, “dan sesungguhnya Alloh telah membedakan antara apa yang sebelum risalah kenabian dengan apa yang setelah risalah kenabian mengenai perkara-perkara dalam hal nama-nama dan hukum-hukum serta hubungan diantara keduanya dalam hal nama-nama dan hukum-hukum. (Al-Fatawa,20/37).

Beliau juga berkata,”mengetahui batasan-batasan dalam hal nama dalam dien ini adalah wajib terutama yang berkaitan dengan batasan apa yang telah Alloh turunkan kepada RasulNya”.

Ibnu Jarir – rahimahulloh – berkata mengenai tafsir dari surat Al-A’raaf dari ayat 30.

 

فَرِيقًا هَدَىٰ وَفَرِيقًا حَقَّ عَلَيْهِمُ ٱلضَّلَٰلَةُ ۗ إِنَّهُمُ ٱتَّخَذُوا۟ ٱلشَّيَٰطِينَ أَوْلِيَآءَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُم مُّهْتَدُونَ

“Sebagian diberiNya petunjuk dan sebagian lagi sepantasnya menjadi sesat. Mereka menjadikan setan-setan sebagai pelindung selain Alloh. Mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk.”

 

Ibnu Jarir – rahimahulloh – menjelaskan, “bahwa ayat ini termasuk dalil yang paling jelas dalam menjelaskan tentang kekeliruan ucapan orang yang mengklaim bahwa Alloh tidak akan menyiksa seseorang dikarenakan perbuatan maksiatnya yang dilakukan atau kesesatan yang diyakininya kecuali bila dia melakukannya setelah mengetahui kebenaran, lalu dia melakukannya sebagai bentuk pembangkangan terhadap Robbnya. Karena jika seandainya pernyataan itu benar, maka tidak ada perbedaan antara kelompok yang sesat dimana dia mengira bahwa dia berada diatas kebenaran dengan kelompok yang memang diatas kebenaran, padahal Alloh telah membedakan antara keduanya didalam hal perkara nama dan hukum.

Asysyaikh Abdul Lathif telah berkata di dalam Minhaju At Tasisi halaman 12 : “Banyak sekali umat ini binasa disebabkan karena mereka tidak mengetahui batasan-batasan dan hakikat-hakikat suatu hal dan perbuatan. Dan banyak sekali kekeliruan, keraguan, penyimpangan yang terjadi dengan disebabkan orang tidak mengetahui hakekat suatu nama atau suatu hal, seperti Islam dan syirik merupakan dua hal yang berlawanan, tidak bisa bergabung  keduanya dan tidak bisa lepas kedua-duanya, dan bodoh dalam perkara keduanya secara hakekat banyak terjadi dikalangan manusia dengan melakukan kesyirikan dan peribadahan kepada orang-orang shalih dikarenakan meniadakan mengetahui hakekat dan bentuk-bentuknya”. Selesai.

Berkata putra Syaikh Hasan bin Adil Wahhab yakni Syaikh Abdurrahman dalam risalah Ashlu dien al-Islam,“maka sesungguhnya barang siapa yang melakukan kesyirikan maka sesungguhnya dia telah meninggalkan tauhid karena kedua-duanya adalah perkara yang saling berlawanan dan tidak mungkin bersatu.

Berkata Asysyaikh Abdulloh Aba Buthain, “Dan diantara hal-hal yang wajib diperhatikan adalah mengetahui batasan-batasan apa yang telah Alloh turunkan kepada RasulNya karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala mencela orang yang tidak mengetahui batasan-batasan apa yang telah Alloh turunkan kepada RasulNya maka Alloh Ta’ala berfirman,”

 

ٱلْأَعْرَابُ أَشَدُّ كُفْرًۭا وَنِفَاقًۭا وَأَجْدَرُ أَلَّا يَعْلَمُوا۟ حُدُودَ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌۭ

“Orang-orang arab badui itu lebih kuat kekafiran dan kemunafikannya dan sangat wajar tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Alloh kepada RasulNya.” (At Taubah, :97).

(Risalah Al-Intishar).

Bagian pertama

Kitab Hakikat Islam dan Syirik

1.     Bab. Hakikat Islam.

Alloh Ta’ala berfirman:

فَإِنْ حَآجُّوكَ فَقُلْ أَسْلَمْتُ وَجْهِىَ لِلَّهِ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِ ۗ وَقُل لِّلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْأُمِّيِّۦنَ ءَأَسْلَمْتُمْ ۚ فَإِنْ أَسْلَمُوا۟ فَقَدِ ٱهْتَدَوا۟ ۖ وَّإِن تَوَلَّوْا۟ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ ٱلْبَلَٰغُ ۗ وَٱللَّهُ بَصِيرٌۢ بِٱلْعِبَادِ

“Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), Maka Katakanlah: “Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku”. .. (QS. Ali-Imran, :20)

 

Alloh Ta’ala berfirman :

بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌۭ فَلَهُۥٓ أَجْرُهُۥ عِندَ رَبِّهِۦ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“ (tidak demikian) bahkan Barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, Maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al-Baqarah, :112).

Alloh Ta’ala berfirman :

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًۭا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌۭ وَٱتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًۭا ۗ وَٱتَّخَذَ ٱللَّهُ إِبْرَٰهِيمَ خَلِيلًۭا

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus?…(QS. AnNisaa, :125).

 

Dan di dalam hadits Rasulullah Shallallahu alaihi Wa sallam bersabda:

“Islam dibangun diatas lima perkara : syahadat bahwa tidak ada sembahan yang haq kecuali Alloh….”(Hadits Muttafaq alaihi dari hadits Umar -semoga Alloh meridhoinya-)

 

Pasal

Alloh Ta’ala berfirman :

فَٱعْلَمْ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَٱسْتَغْفِرْ لِذَنۢبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَىٰكُمْ

“Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal”. (QS. Muhammad, :19).

 

Dan telah diriwayatkan oleh Imam Muslim –rahimahulloh- hadits dari Utsman –semoga Alloh meridhoinya- bahwa Rasululloh Shallallahu alaihi Wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang mati sedangkan dia mengetahui bahwa tidak ada sembahan yang hak untuk di ibadahi kecuali Alloh maka dia masuk kedalam Jannah.”

 

Alloh Ta’ala berfirman:

قُولُوٓا۟ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَآ أُنزِلَ إِلَىٰٓ إِبْرَٰهِۦمَ وَإِسْمَٰعِيلَ وَإِسْحَٰقَ وَيَعْقُوبَ وَٱلْأَسْبَاطِ وَمَآ أُوتِىَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَآ أُوتِىَ ٱلنَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍۢ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُۥ مُسْلِمُونَ

“Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada Kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. (QS. Al – Baqarah, :136).

 

Dalam Al-Hadits :

“Aku diperintahkan untuk memerangi setiap manusia hingga mereka mengatakan tidak ada sesembahan yang haq kecuali Alloh dan  Muhammad utusan Alloh mendirikan sholat dan menunaikan zakat…”) (Al-Hadits, Muttafaq alaihi, hadits dari Abu Hurairah –semoga Alloh meridhoinya).

 

Alloh Ta’ala berfirman :

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا۟ وَجَٰهَدُوا۟ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلصَّٰدِقُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujaraat, :15).

 

Didalam Al-Hadits, Rasululloh Shallallahu alaihi Wa sallam bersabda:

“Tidaklah seseorang bertemu dengan Alloh (di hari kiamat) dengan berpegang kepada keduanya (Alloh dan RasulNya) tanpa keraguan sedikitpun kecuali dia pasti akan masuk surga.” (Hr. Muslim dari Sahabat Abu Hurairah –semoga Alloh meridhoinya-).

 

Alloh Ta’ala berfirman :

إِذَا جَآءَكَ ٱلْمُنَٰفِقُونَ قَالُوا۟ نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُۥ وَٱللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ لَكَٰذِبُونَ

“ Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” (QS. Al-Munafiqun, :1).

 

Dan dalam Hadits Rasululloh Shallallahu alaihi Wa sallam bersabda “dan barang siapa mati sedangkan dia bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang haq kecuali Alloh dalam keadaan jujur dari dalam hatinya niscaya dia masuk ke dalam surga” ( HR Ahmad dari hadits Muadz – semoga Alloh meridhoinya – ).

 

Alloh Ta’ala berfirman :

إِنَّهُمْ كَانُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ

“ Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri,” (QS, Ashshafaat, : 35).

Dan dalam hadits Rasululloh Shallallahu alaihi Wa Sallam bersabda, “tidak akan masuk kedalam surga yang di dalam hatinya terdapat sifat sombong walaupun sebesar biji dzarrah.” (HR. Muslim dari hadits ibnu Mas’ud – semoga Alloh meridhoinya – )

Alloh Ta’ala berfirman :

إِنَّآ أَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ فَٱعْبُدِ ٱللَّهَ مُخْلِصًۭا لَّهُ ٱلدِّينَ

“ Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS, Azumar, :2)

 

Dan didalam Al-Hadits : Rasululloh Shallallahu alaihi Wa Sallam bersabda : “Maka sesungguhnya Alloh telah mengharamkan neraka bagi siapa saja yang mengatakan bahwa tidak ada sembahan yang haq untuk di ibadahi kecuali Alloh dengan mengharapkan wajahNya.” (HR. Muttafaq alaihi hadits dari Utban –semoga Alloh meridhoinya).

Alloh Ta’ala berfirman:

يُؤْتِى ٱلْحِكْمَةَ مَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُؤْتَ ٱلْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِىَ خَيْرًۭا كَثِيرًۭا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ

“ Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS, Al-Baqarah , :269).

Dalam Al-Hadits Rasululloh Shallallahu alaihi Wa Sallam bersabda, “barang siapa yang mengatakan laailaaha illallah dan kafir kepada selain Alloh maka haramlah harta dan darahnya,” (HR. Muslim dari hadits Abi Malik Al-Asyja’i dari bapaknya)

Pasal

Berkata ibnu Hazam –rahimahulloh- telah berkata kebanyakan dari ahli Islam bahwa setiap orang yang berkeyakinan di dalam hatinya dengan keyakinan dalam hatinya tanpa disertai keraguan di dalamnya lalu dia berkata dengan lisannya bahwa tidak ada sembahan yang haq kecuali Alloh dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Alloh dan sesungguhnya setiap apa yang datang  darinya adalah benar dan dia baro kepada setiap dari selain din Muhammad Shallallahu alaihi Wa sallam maka dia Muslim mu’min tidak ada selainnya. (Al-Fashl, 4/35).

Syaikh Sulaiman bin Abdillah bin Muhammad bin Abdil Wahhab –rahimahulloh- berkata : “sesungguhnya perkataan dua kalimat syahadat tanpa mengetahui maknanya dan tanpa beramal dengan konsekuensinya dari komitmen diatas tauhid, meninggalkan kesyirikan dan kafir kepada thaghut maka tidaklah bermanfaat ucapan syahadatnya itu sesuai kesepakatan para ulama”. (Kitab AtTaisir).

Syaikh Abdullah Abu Buthain berkata : “dan sesungguhnya telah jelas dalil-dalil yang ada didalam Al-kitab (Al-Qur’an) dan Assunnah dan kesepakatan umat bahwa ikhlas sebagai syarat dalam amal dan perkataan.”

Syaikh Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdil Wahhab – rahimahulloh- berkata : “para ulama telah sepakat baik dari kalangan salaf maupun kholaf dari kalangan para sahabat, tabi’in dan para Imam serta seluruh jama’ah ahlis sunnah bahwa seseorang tidak dikatakan muslim kecuali dengan meninggalkan kesyirikan akbar dan baro darinya.” (Ad Duror, 11/545-546).

  1. 2.     Bab. Hakikat Kesyirikan.

Alloh Ta’ala berfirman

وَأَنَّ ٱلْمَسَٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا۟ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدًۭا

“ Dan Sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (QS. Al-Jiin, :18).

Alloh Ta’ala berfirman:

 وَقَالَ ٱللَّهُ لَا تَتَّخِذُوٓا۟ إِلَٰهَيْنِ ٱثْنَيْنِ ۖ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌۭ وَٰحِدٌۭ ۖ فَإِيَّٰىَ فَٱرْهَبُونِ

“ Allah berfirman: “Janganlah kamu menyembah dua Tuhan; Sesungguhnya Dialah Tuhan yang Maha Esa, Maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut”. (QS. An Nahl, :51).

 

Alloh Ta’ala berfirman :

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ كَمَا ٱسْتَخْلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ ٱلَّذِى ٱرْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًۭا ۚ يَعْبُدُونَنِى لَا يُشْرِكُونَ بِى شَيْـًۭٔا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

“ Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An Nuur, :55).

 

 

 

 

Alloh Ta’ala berfirman :

أَمْ لَهُمْ شُرَكَٰٓؤُا۟ شَرَعُوا۟ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنۢ بِهِ ٱللَّهُ ۚ وَلَوْلَا كَلِمَةُ ٱلْفَصْلِ لَقُضِىَ بَيْنَهُمْ ۗ وَإِنَّ ٱلظَّٰلِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌۭ

“ Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang Amat pedih.” (QS. Asy Syura, :21).

 

Dan Alloh berfirman :

أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ ءَامَنُوا۟ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُوٓا۟ إِلَى ٱلطَّٰغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوٓا۟ أَن يَكْفُرُوا۟ بِهِۦ وَيُرِيدُ ٱلشَّيْطَٰنُ أَن يُضِلَّهُمْ ضَلَٰلًۢا بَعِيدًۭا

“ Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut, Padahal mereka telah diperintah mengingkari Thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS. An Nisaa : 60)

 

Dan dari Abdullah bin Mas’ud –semoga Alloh meridhoinya- hadits ini marfu’, beliau bertanya kepada Rasululloh Shallallahu alaihi Wa Sallam : “Amalan  dosa besar apakah yang paling besar ? beliau bersabda : jika kamu menjadikan tandingan-tandingan bagi Alloh sedangkan Dia yang telah menciptakanmu.” (HR. Mutafaq Alaihi). Dan dari Abi Bakr – semoga Alloh meridhoinya- kami bertanya : Wahai Rasulullah dan apakah syirik itu? “yakni apa-apa yang di sembah dari selain Alloh atau yang diminta dari selain Alloh.” (HR. Abu Ya’la namun di dalamnya ada kelemahan) dan telah diriwayatkan oleh Al-Bukhari dengan Muallaq berkata Ibnu Abbas seperti membukakan kedua telapak tangannya mengenai perumpamaan kesyirikan yang menyembah selain Alloh seperti orang yang kehausan lalu dari tempat kejauhan dia melihat seperti ada air namun ketika dihampiri ternyata hanya fatamorgana. selesai.

Pasal

  • Al-Qadhi Al-Iyadh menukilkan didalam kitab Asysyifa dalam Al-Fashl mengenai apa yang dikatakan mengenai kekafiran, “bahwa sesungguhnya setiap perkataan yang meniadakan ke Esaan Alloh atau dia dengan terang-terangan beribadah kepada selain Alloh maka dia kafir menurut kesepakatan kaum muslimin.”
  • Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab berkata dalam kitab Tarikh Nejd, hal.223 : sesungguhnya kesyirikan ibadah kepada selain Alloh, menyembelih, nadzar untuk sembahan selain Alloh, dan meminta kepada selainNya berkata bahwa saya tidak mengetahui dari seorang ahli ilmupun yang menyelisihinya.
  • Syaikh Ishaq bin Abdirrahman –rahimahulloh- berkata : meminta-minta kepada penghuni kuburan, bertanya kepada mereka yang sudah mati dan beristighatsah kepadanya maka tidak ada perselisihan lagi didalamnya dikalangan kaum muslimin bahkan disepakati bahwa perbuatan tersebut merupakan kesyirikan yang mengkafirkan bagi pelakunya.” (Risalah Takfir Muayyan)
  • Dan di dalamnya dikatakan : bagaimana bisa dilarang dari mengkafirkan orang-orang muslim asalnya, yang telah meminta-minta kepada kuburan orang shalih dan meminta tolong kepadanya dan memalingkan peribadahan kepada selainNya yang sebenaranya tidak berhak ditujukan kecuali kepada Alloh saja (maka pendapat yang mencegah dari hal itu) merupakan pendapat yang bathil berdasarkan Al-Quran dan Assunah serta kesepakatan umat.
  • Dan didalamnya (masih dalam kitab Risalah takfir muayyan) beliau berkata: meminta-minta kepada Ahli kubur, bertanya kepada mereka dan beristighatsah kepadanya tidak masuk kedalam pembahasan kitab ini namun kaum muslim telah sepakat dan tidak ada perselisihan didalamnya bahwa perbuatan ini adalah kesyirikan yang mengkafirkan pelakunya sebagaimana yang telah di hikayatkan oleh Syeikh Al-Islam ibnu Taimiyah sendirinya, dan telah dijadikan olehnya kedalam permasalahan yang tidak ada perselisihan lagi didalamnya mengenai kekafiran penyembahan kuburan.
  • Dinukil oleh Syeikh Sulaiman dalam kitab At-Taisir hal.117 : para ulama tafsir sepakat bahwa ketaatan dalam hal menghalalkan apa yang diharamkan oleh Alloh atau mengharamkan apa yang di halalkan oleh Alloh, maka itu bentuk peribadahan kepada berhala tersebut dan itu termasuk kedalam kesyirikan ketaatan.

Dan dinukil pula ijma bahwa mesti kafir kepada thaghut merupakan tanda benarnya tauhid.

  1. 3.     Bab . Islam dan Syirik adalah dua hal yang berlawanan tidak mungkin bersatu.

Alloh Ta’ala berfirman :

فَذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمُ ٱلْحَقُّ ۖ فَمَاذَا بَعْدَ ٱلْحَقِّ إِلَّا ٱلضَّلَٰلُ ۖ فَأَنَّىٰ تُصْرَفُونَ

“ Maka (Zat yang demikian) Itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka Bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS. Yunus, :32)

 

 

Alloh Ta’ala berfirman :

إِنَّا هَدَيْنَٰهُ ٱلسَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًۭا وَإِمَّا كَفُورًا

“ Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (QS. Al-Insan, :3)

 

Alloh Ta’ala berfirman :

هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَكُمْ فَمِنكُمْ كَافِرٌۭ وَمِنكُم مُّؤْمِنٌۭ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“ Dia-lah yang menciptakan kamu Maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. AthThaghabuun, :2).

 

  • Ibnu Taimiyah berkata : “oleh karena inilah keadaan seseorang tidak beribadah kepada Alloh dia mesti menjadi hamba selainNya, dia beribadah kepada selainNya maka dia menjadi musyrik dan tidak ada bani Adam yang masuk kedalam golongan ketiga namun mesti dia  seorang Muwahhid atau dia seorang Musyrik atau mencampurkan ini dan ini seperti halnya golongan yang telah merubah-rubah millah ini dan pengikut Nashrani dan yang menyerupai mereka dari kesesatan yang menyandarkan kepada Islam.” (Al-Fatawa, 14/282,284).
  • Berkata Syaikh Abdurrahman dalam kitab Syarh Ashli Diini al-Islam dan kaidah-kaidah dan Syaikh Abdil Latif dalam kitab Al-Minhaj halaman 12, keduanya berkata : “Barangsiapa yang melakukan kesyirikan maka dia telah meninggalkan tauhid karena keduanya adalah dua hal yang berlawanan yang tidak mungkin bersatu, dan dua hal yang berlawanan ini tidak mungkin bersatu dan tidak mungkin hilang kedua-duanya.”

 

 

  1. 4.     Bab. Nama Syirik dan mengenai bab nama-nama dan perbuatan-perbuatan yang tercela.

(syirik merupakan bentuk nama dan perbuatan yang tercela).

Alloh Ta’ala berfirman :

وَلَوْلَآ أَن تُصِيبَهُم مُّصِيبَةٌۢ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ فَيَقُولُوا۟ رَبَّنَا لَوْلَآ أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًۭا فَنَتَّبِعَ ءَايَٰتِكَ وَنَكُونَ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ

“ Dan agar mereka tidak mengatakan ketika azab menimpa mereka disebabkan apa yang mereka kerjakan: “Ya Tuhan Kami, mengapa Engkau tidak mengutus seorang Rasul kepada Kami, lalu Kami mengikuti ayat-ayat Engkau dan jadilah Kami Termasuk orang-orang mukmin”. (QS. Al-Qashas, :47).

 

Dan didalam hadits Muttafaq ‘alaihi dari Hudzaifah berkata, “Wahai Rasulullah sesungguhnya kami pernah hidup pada zaman jahiliyyah dan kejelekan maka Allohpun mendatangkan kebaikan dengan ini (Al-Islam).

v  Dan didalam hadits dari Amru bin ‘Abasah AsSulami berkata, “Aku pernah hidup pada zaman jahiliyyah aku menduga seluruh manusia berada di atas kesesatan dan mereka tidak diatas sesuatu dan mereka selalu menyembah berhala (patung) (-HR.Muslim-).

v  Ibnu Taimiyah berkata, “Jumhur dari kalangan salaf dan khalaf mengatakan bahwa keadaan mereka sebelum datangnya Rasulullah Shallallahu alaihi Wa Sallam mereka berada dalam keadaan syirik dan jahiliyyah, keadaan mereka dulupun berada dalam kejelekan dan keburukan namun tidak ditegakan siksa kepada mereka kecuali setelah datangnya Rasulullah (Muhammad).

Oleh karena inilah manusia dulunya  berada dalam kesyirikan, kedaliman , dan kedustaan dan yang semacamnya, sehingga terbagi tiga pendapat tentang keadaan mereka dulu:

1)      Pendapat yang mengatakan bahwa kejelekan yang mereka perbuat diketahui secara akal. Dan bagi mereka berlaku adzab atas perbuatan mereka diakhirat jika (walau) belum datang kepada mereka seorang Rasul, sebagaimana pendapat yang diambil oleh golongan Mu’tazilah.

2)      Pendapat yang mengatakan “ tidak ada kejelekan dan tidak pula termasuk keburukan setiap perbuatan mereka sebelum datangnya seorang Rasul, pendapat ini sebagaimana diambil oleh golongan Al-Asy’ari dan yang sepakat dengannya.

3)      Pendapat yang mengatakan, “bahwa perbuatan mereka yang mereka kerjakan adalah merupakan kejelekan dan keburukan sebelum datangnya seorang Rasul namun siksa baru diberlakukan kepada mereka setelah datangnya seorang Rasul. Maka pendapat ini yang diambil oleh para ulama salaf umumnya para kaum muslimin berdasarkan petunjuk dalil dalam Al-Quran dan Assunnah. Dan pada keduanya terdapat penjelasan bahwa kekafiran adalah perbuatan yang jelek, buruk sebelum risalah kenabian namun tidak diberlakukan siksa atas mereka kecuali setelah risalah. (Al-Fatawa, 11/676, Al-Fatawa, 20/37,38,dan dijelaskan dengan sempurna dalam Al-Madarij, karya ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyyah, 1/240, 234,230)

  1. 5.     Bab Hujjah Bathilnya Kesyirikan

Alloh Ta’ala berfirman :

ضَرَبَ لَكُم مَّثَلًۭا مِّنْ أَنفُسِكُمْ ۖ هَل لَّكُم مِّن مَّا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُكُم مِّن شُرَكَآءَ فِى مَا رَزَقْنَٰكُمْ فَأَنتُمْ فِيهِ سَوَآءٌۭ تَخَافُونَهُمْ كَخِيفَتِكُمْ أَنفُسَكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ ٱلْءَايَٰتِ لِقَوْمٍۢ يَعْقِلُونَ

“ Dia membuat perumpamaan untuk kamu dari dirimu sendiri. Apakah ada diantara hamba-sahaya yang dimiliki oleh tangan kananmu, sekutu bagimu dalam (memiliki) rezeki yang telah Kami berikan kepadamu; Maka kamu sama dengan mereka dalam (hak mempergunakan) rezeki itu, kamu takut kepada mereka sebagaimana kamu takut kepada dirimu sendiri? Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat bagi kaum yang berakal.” (QS. Ar Ruum, :28).

Alloh Ta’ala berfirman :

أَيُشْرِكُونَ مَا لَا يَخْلُقُ شَيْـًۭٔا وَهُمْ يُخْلَقُونَ

“apakah mereka menyekutukan kepada apa-apa yang tidak menciptakan sesuatu padahal mereka diciptakan” (QS. Al-A’raaf, :191)

Alloh Ta’ala berfirman :

يُولِجُ ٱلَّيْلَ فِى ٱلنَّهَارِ وَيُولِجُ ٱلنَّهَارَ فِى ٱلَّيْلِ وَسَخَّرَ ٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ كُلٌّۭ يَجْرِى لِأَجَلٍۢ مُّسَمًّۭى ۚ ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ ٱلْمُلْكُ ۚ وَٱلَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِۦ مَا يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ

“ Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. yang (berbuat) demikian Itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.” (QS. Fathir, :13)

 

Alloh Ta’ala berfirman :

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ

“ Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”, (QS. Al-A’raaf, :172)

 

Alloh Ta’ala berfirman :

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًۭا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. ArRuum, :30)

Dan dari Abi Hurairah secara marfu “seseorang anak dilahirkan dalam keadaan fithrah maka orang tuanya lah yang menjadikan dia Yahudi, Nashrani atau Majusi.”

Berkata Abu Hurairah : Alloh telah memfitrahkan agama ini (Islam) kepada manusia. (HR.Bukhari,Muslim). Dan (Fitrah) ditafsirkan dengan Islam dan ini pendapat Abu Hurairah, Ikrimah, Al-Hasan, Adhdhahak, Mujahid, Qatadah, Al-Bukhari, ibnu Taimiyah, ibnu Qayyim dan ibnu katsir, berkata ibnu Taimiyah,”Al-Atsar yang diucapkan dari pendapat salaf tidak menunjukan kecuali atas perkataan ini bahwa mereka dilahirkan diatas fitrah). ( Dar’u AtTa’arudh)

v  Dan dalam hadits Amru bin Abasah berkata, “Aku benar-benar pernah mengalami masa jahiliyyah aku mengira bahwa manusia berada diatas kesesatan dan sesungguhnya mereka tidak diatas sesuatu dan mereka menyembah berhala.” ( HR. Muslim, dan didalam Sirah kisah para Al-Hunafa.)

v  Berkata ibnu Al-Qayyim dalam mengomentari ayat mengenai timbangan (mistaq), “ayat ini mengandung konsekuensi bahwa jiwa yang mempunyai akal yang mengetahui tauhid ini sebagai hujjah mengenai bathilnya kesyirikan (akal yang sehat yang memahami tauhid akan mengetahui bathilnya kesyirikan. Pent) sehinggga akal tidak membutuhkan seorang rasul, namun tidak bertentangan dengan ayat dari firman Alloh Ta’ala :

مَّنِ ٱهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِى لِنَفْسِهِۦ ۖ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌۭ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًۭا

“ Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), Maka Sesungguhnya Dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang sesat Maka Sesungguhnya Dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al Israa, :15)

 

Dan dikatakan oleh beliau keadaan mereka dulu berbuat dengan perbuatan keji, kotor, dan melampaui batas disebabkan kesyirikan yang mereka lakukan. Dan penamaan Syirik berlalu sebelum dan sesudah risalah tetap suatu larangan. Maka barang siapa yang mengatakan bahwa perbuatan itu di sebut keji, dosa, kotor setelah adanya larangan maka kedudukannya sama dengan orang yang mengatakan perbuatan syirik baru disebut kesyirikan setelah adanya larangan dan bukan di sebut syirik apabila belum ada larangan maka pendapat itu diketahui bertentangan dengan akal yang sehat dan fitrah (Madariju Assalikin, 1/230,234,240.) dan berkata juga beliau di dalamnya bahwa jeleknya peribadahan kepada selain Alloh telah tertanam kuat dalam keyakinan akal yang sehat dan berdasarkan fitrah, dan wahyu telah mengingatkan pula akan kejinya, jeleknya perbuatan syirik terhadap akal dan menunjukannya kepada pemahaman tentang kekejiannya,”

v  Telah berkata Al-Lalikai dalam kitab SyarhusSunnah, 2/216, bab yang ditunjukan dalam kitabulloh Azza Wa jalla dan apa yang telah diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tentang wajibnya mengenal Alloh Ta’ala dan sifat-sifatNya dengan wahyu tidak memakai akal. Berkata juga wajibnya mengenal rasul-rasul dengan wahyu dan berkata bahwa ini merupakan madzhab Ahli Sunnah Wal Jama’ah, selesai.

 

  1. 6.     Bab .mengetahui buruknya kesyirikan, Zina, Kedzaliman, Khomar, Kedustaan dan sebagainya dengan Fithroh dan akal.

 

Alloh Ta’ala berfirman :

وَإِذَا فَعَلُوا۟ فَٰحِشَةًۭ قَالُوا۟ وَجَدْنَا عَلَيْهَآ ءَابَآءَنَا وَٱللَّهُ أَمَرَنَا بِهَا ۗ قُلْ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَأْمُرُ بِٱلْفَحْشَآءِ ۖ أَتَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: “Kami mendapati nenek moyang Kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh Kami mengerjakannya.” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.” mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.?” (QS. Al-A’raaf, :28).

v  Dan kisah Najasyi bersama dengan para sahabat Nabi, berkata Ja’far – semoga Alloh meridhoinya – kepadanya “wahai raja, bahwa sanya kami dahulu pernah hidup pada jaman jahiliyyah kami menyembah patung, memakan bangkai, melakukan kekejian dan berbuat buruk kepada tetangga.” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shohihnya)

v  Dan di dalam hadits Shohih, ( lima perkara yang termasuk Fitrah dan disebutkannya)

Berkata Ibnu Taimiyah, “maka sesungguhnya Alloh telah menamakan mereka sebelum risalah kenabian sebagai orang-orang yang dzalim, melampaui batas, membuat kerusakan dan nama-nama tercela merupakan pekerjaan atau perbuatan yang tercela sebelum datangnya Rasulullah namun tidak ditegakan adzab kecuali setelah datang kepada mereka seorang rasul, karena Alloh Ta’ala berfirman :

مَّنِ ٱهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِى لِنَفْسِهِۦ ۖ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌۭ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًۭا

“Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), Maka Sesungguhnya Dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang sesat Maka Sesungguhnya Dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” ( QS. Al-Israa, :15 ). ( Al-Fatawa 20/37,38).

v  Berkata ibnu Qayyim dalam mengomentari mengenai ayat Mitsaq, “ayat ini mengandung konsekuensi bahwa jiwa yang mempunyai akal, mereka mengetahui tauhid ini sebagai hujjah bathilnya kesyirikan (akal yang sehat dan bertauhid akan mengetahui bathilnya kesyirikan.pent) sehingga akal yang sehat tidak membutuhkan seorang rasul namun tidak bertentangan dengan ayat Alloh dari firmanNya:

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًۭا

                Dan berkata beliau dahulu mereka mengerjakan kekejian, dosa, perbuatan melampaui batas karena disebabkan kesyirikan sehingga sebelum larangan maupun sesudah larangan kesyirikan tetap disebut kesyirikan. Maka barang siapa yang mengatakan bahwa perbuatan keji, buruk maupun dosa setelah adanya larangan maka kedudukannya sama dengan orang yang mengatakan perbuatan syirik itu baru di sebut syirik setelah adanya larangan dan bukan disebut syirik walaupun pada hakekatnya itu kesyirikan kalau belum ada larangan. Maka pendapat ini bertentangan dengan akal dan fitrah yang Sharih. (Madariju AsSalikin, 1/230,234,240).

  • Dan berkata beliau di dalamnya : bahwa perbuatan buruk berupa peribadahan kepada selain Alloh itu di ketahui oleh akal dan fitrah yang sehat dan Wahyu telah membimbing akal untuk mengetahui keburukan tentangnya. Dan didalam Siroh dituturkan mengenai seseorang yang tidak meminum khamar pada masa Jahiliyah dan didalamnya pada kisah Hilful fudhu.
  • 7.     Bab. Kapan diawalinya kesyirikan pada umat ini (Islam)

Rafidhoh merekalah yang pertama kali melakukan kesyirikan pada umat ini. Merekalah yang paling pertama memunculkan kesyirikan pada zaman kenabian masih diutus setelah peperangan memerangi orang-orang murtad maka seseorang yang bernama Al-Mukhtar bin Abi Ubaid Atstsaqafi mengklaim sebagai nabi dan bersekutu dengan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, kemudian mereka memunculkan kesyirikan dalam hal nama-nama dan sifat-sifat yang mereka serupakan dengan Alloh dan makhlukNya maka munculah aliran sesat Thaifah Al-Musyabbihah.

Kemudian merekapun memunculkan kesyirikan dalam hal uluhiyah dari jalan Al-Qaramithah di sebagian negeri (Mesir) dengan mengangkat bendera kesyirikan pada masa dan jaman mereka. Berkata Syeikh Muhammad bin Abdil Wahhab mengenai al-Qaramithah :

  • “sesungguhnya mereka menampakan syariat-syariat Islam, menegakan sholat jum’at, dan sholat berjama’ah, mengangkat hakim dan mufti namun mereka menampakan kesyirikan dan menyelisihi syariat maka ijma para ahli ilmi bahwa mereka kafir ( Mukhtashar dari siroh karya Syeikh Muhammad bin Abdil Wahhab ).
  • Seperti halnya bani Buwaih, telah berkata Syeikh Abdurrahman bin Hasan : “Adapun perbuatan ilhad dalam tauhid amali, tauhid al-Qashdu dan tauhid At Thalabi terjadi pada masanya bani Buwaih Ad Dailami di Timur yakni sebuah daulah yang menampakan sikap berlebih-lebihan ( ghuluw ) kepada ahli bait dan mereka membangun kuburan Amirul Mukminin Ali bin Abi Tholib sebagai tempat berkumpul dan dikeramatkan. Mereka juga membangun bangunan diatas kuburan Al-Husain dan selainnya dari kuburan para ahli bait, menyembahnya dengan bentuk-bentuk penyembahan.. (Ad Duror, 9/144,188. Darul ifta, dan dinukil dari ibnu Taimiyah).

Berkata ibnu Taimiyah, “yang paling pertama meletakan perkara baru dengan mengadakan perjalanan (safar) dalam rangka menziarahi kuburan yang dijadikan tempat berkumpul, yaitu dari kalangan ahli bid’ah dari golongan Rafidhoh dan yang sejenis dengan mereka. (dalam kitab bantahan terhadap al-akhna’i halaman 47, catatan pinggir halaman kitab Talkhish bantahan terhadap Al-Bakri.)

Berkata juga beliau, “bantahan terhadap orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai tempat ziarah dan berkumpul, berhala, mesjid dan hari raya tidak terjadi pada masa sahabat, tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka dan tidak terjadi pada masa-mas awal ke Islaman akan tetapi perbuatan ini terjadi pada masa setelah 3 masa (setelah masa sahabat, tabi’in dan Tabiut tabi’in) (Ar Raad ‘ala Al-Akhna’I, hal. 101, catatan pinggir halaman pada kitab Talkhish Arraad’ala al-bakrie, Darul ilmiyah).

Berkata Syeikh Abdul Lathif bin Abdir Rahman, “Bahwa sesungguhnya keyakinan terhadap orang yang sudah mati dengan meminta-minta kepadanya hanyalah terjadi pada masa setelah meninggalnya Al-Imam Ahmad dan yang berada sama dengan tingkatan jamannya dari kalangan ahli Hadits, Fuqoha dan mufassir.

Berkata Syeikh Muhammad bin Abdil Wahhab dalam kitab Tarikh Nejd, halaman 320 dalam risalah As Suawaidi berkata : “bahwa yang paling pertama memasukan kesyirikan pada umat ini adalah Rafidhoh yang dilaknat yang mana mereka mengklaim sebagai pengikut Ali bin Abi Tholib dan selainnya. Mereka meminta-minta kepadanya kebutuhan dan hajat dan supaya di bebaskan dari kesusahan dan kesulitan.

Berkata juga Syeikh dalam kitab Tauhid pada permasalahan bab sikap penentangan keras dari Abdullah terhadap kuburan orang shalih, berkata : Rafidhoh adalah penyebab munculnya kesyirikan dan peribadahan kepada kuburan dan merekalah yang paling pertama membangun mesjid diatas kuburan orang-orang shalih.

Berkata Syaikh Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdil Wahhab dalam “Qurrotu uyun Al-Muwahhidin” halaman 45, “sungguh telah merata kebodohan setelah tiga masa (kurun) dengan merajalelanya sikap ghuluw terhadap kuburan dan ahli bait juga selainnya, dibangunnya tempat-tempat peribadahan diatas kuburan mereka dijadikan tempat berkumpul (berdo’a dan hari raya) sehingga meluaslah segala urusan masalah serta meluasnya fitnah dalam kesyirikan yang menghilangkan tauhid di sebabkan munculnya sikap ghuluw terhadap orang mati, pengagungan terhadap mereka dengan beribadah kepada mereka.

Berkata Syeikh ibnu Sahman dalam kitab Kasyfu Syubhatain halaman 93: Adapun permasalahan tauhid kepada Alloh dan memurnikan ibadah hanya kepadaNya tidak ada perselisihan lagi diantara umat akan kewajibannya untuk dipelajari dan diamalkan oleh semua ahli Islam, tidak juga bagi ahli ahwa dan tidak juga bagi selain mereka, yang mana permasalahan tauhid ini adalah permasalahan yang diketahui dalam din secara “dharuroh” ( Teramat penting, sangat wajib, kewajiban yang mendesak. Pent). (dikatakan juga sebelum oleh Syeikh Abdul Lathif dalam al-Minhaj, halaman 101).

Berkata ibnu Taimiyah dalam kitab Ar Ra’d ‘ala al-akhnai halaman 95 : banyak dari manusia  dari bangsa Tatar yang masuk Islam dan selain dari mereka namun disisi mereka masih terdapat patung-patung mereka masih bertaqarrub dan mengagungkan dalam keadaan mereka tidak mengetahui keharaman tersebut dalam agama Islam. Mereka pun masih mendekatkan diri kepada patung di negeri-negeri mereka dalam keadaan mereka tidak mengetahui keharamannya maka banyak kesyirikan dan macam-macamnya yang masih tersamar disebagian orang yang baru masuk Islam tentang hukum keharamannya dan mereka tidak mengetahui bahwa kesyirikan merupakan kesesatan dan bathil bagi yang melakukannya namun tidak ditegakan adzab atau hukuman terhadap mereka sampai ditegakan hujjah atas mereka.

Kemudian Tatar yang pertama kali memunculkan kesyirikan dalam hukum yang dinamakan Ilyasiq dan ahli badiyah dan kabilah yang dinamakan peribadahan.

 

Bagian kedua

Kitab hakikat nama-nama dalam Din dan hukum-hukumnya.

8.     Bab maksud dari nama-nama Din.

Yang dimaksud dengan nama-nama din seperti muslim, musyrik, mu’min, kafir, munafik, fasik, ‘aashi (pelaku maksiat), mulhid (orang yang menyimpang ), mubtadi’ (pelaku bid’ah), dhoolun ( pelaku dzalim ), mukhti’ (orang yang keliru), mujtahid, muqollid jaahil, yahudi, Nashrani, Majusi, Thooghun, (orang yang melampaui batas), mufsidun, kaadzibun (pendusta) dan yang semisal dengan itu.

Berkata ibnu Taimiyah, “sesungguhnya Alloh telah membedakan antara apa yang sebelum risalah dengan apa yang sesudah risalah dalam nama-nama dan hukum-hukum dan menggabungkan antara keduanya dalam nama dan hukum-hukum. (Al-Fatawa, 20/37 ) ( Al-Fatawa, 12/468).

Berkata juga ibnu Taimiyah, “ sesungguhnya penamaan muslim, yahudi, Nashrani, dan yang semisal dari nama-nama din adalah hukum yang berkaitan dengan sendirinya berhubungan dengan keyakinan, keinginan, perkataan dan perbuatannya (-sampai perkataan-) setiap hukum yang berkaitan dengan nama-nama din dari Islam, Iman, Kafir, Riddah, Yahudi, Nashrani, hanyalah menjadi tetap bagi yang di shifati dengan shifat yang wajib dan keadaan pelaku dari kalangan orang-orang musyrik atau dari golongan ahli kitab masuk dalam bab ini.” (Al-Fatawa, 35/226).

Berkata juga beliau, “ketahuilah permasalahan dalam takfir, tafsiq yakni dari permasalahan nama dan hukum yang ada kaitannya dengan janji dan ancaman di negeri akhirat berkaitan juga dengan muwalah, Mu’ahadah, pembunuhan (Al-Qatlu), Al-Ishmah ( penjagaan ) dan selainnya di dunia dan dituturkan juga mengenai masuknya kedalam surga dan diharamkannya neraka dari hukum-hukum pada umumnya.” (Al-Fatawa, 12/468)

 

 

9.     Bab. Maksud dari hukum-hukum Din.

Alloh Ta’ala berfirman :

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌۭ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“ Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” ( QS. Al-Hujuraat, :10 )

Alloh Ta’ala berfirman :

وَٱلْمُؤْمِنُونَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍۢ ۚ يَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ ٱللَّهُ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌۭ

“ Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At Taubah : 71)

 

Alloh Ta’ala berfirman :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ جَٰهِدِ ٱلْكُفَّارَ وَٱلْمُنَٰفِقِينَ وَٱغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۚ وَمَأْوَىٰهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ ٱلْمَصِيرُ

“ Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai Para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al-Anfaal, :73)

Dan yang semisalnya.

Dan maksud dari hukum : seperti Al-Munakahat (pernikahan), Al-Mawarits (warisan), Al-Mahabbah (kecintaan), Al-Muwalah (perwalian), Ah Nushroh (pembelaan), Al-Mu’ahadah (permusuhan), Al Bara’ah (permusuhan, sikap menjauhi), pengakuan perwalian, sholat dibelakang Imam yang ada padanya kesesatan, menyesatkannya siapa yang mengkafirkannya, berbaur denganya, mendoakannya pemimpin, atau sebaliknya mencela, melaknat, jizyah, ketundukan atau menyerahnya orang kafir, pembunuhan peperangan, mengadzab, Neraka, hukuman atau sanksi, halalnya wanita-wanita kafir, atau meniadakannya, dan menguburkan di pekuburan-pekuburannya dan yang semisal dengan itu.

Berkata ibnu Taimiyah, “nama dalam hal menafikan dan menetapkan sesuatu disesuaikan dengan hukum tersebut. Maka tidak diwajibkan apabila nama-nama dan hukum sudah tetap atau dinafikan dipalingkan kepada hukum yang lain dan ini perkataan Arab dan mayoritas umat. (Al-Fatawa, 7/418-419).

Beliau berkata juga, “Iman dan kafir keduanya hukum yang sudah tetap berdasarkan risalah, dalil Syar’i, dibedakan antara orang yang beriman dengan orang kafir (dalam nama dan konsekuensi hukum) tidak diperbolehkan memakai dalil akal. (Al-Fatawa, 3/328, Al-Fashl, 3/192).

 

10. Bab perbedaan dalam hal hukum-hukum dan nama-nama dan petunjuk dalilnya disesuaikan dengan objeknya.

 

Alloh Ta’ala berfirman :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ

Dengan firman Alloh :

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ

“ Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.” (QS Al-Baqarah, :82)

Alloh Ta’ala berfirman :

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا۟ فِى ٱلْيَتَٰمَىٰ فَٱنكِحُوا۟ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ ٱلنِّسَآءِ مَثْنَىٰ وَثُلَٰثَ وَرُبَٰعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ فَوَٰحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰٓ أَلَّا تَعُولُوا۟

“ Dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi …”( QS, An Nisaa’, :3)

Bersama dengan ayat dari firmannya :

فَإِن طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُۥ مِنۢ بَعْدُ حَتَّىٰ تَنكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُۥ ۗ فَإِن طَلَّقَهَا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَآ أَن يَتَرَاجَعَآ إِن ظَنَّآ أَن يُقِيمَا حُدُودَ ٱللَّهِ ۗ وَتِلْكَ حُدُودُ ٱللَّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍۢ يَعْلَمُونَ

“ Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga Dia kawin dengan suami yang lain. kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui.” (QS, Al-Baqarah, : 230)

Dan kisah dari Sa’ad bin Abi Waqqash –semoga Alloh meridhoinya- bersama Abdun bin Zam’ah di dalam shahihain, beliau Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada keduanya, “itu adalah saudaramu wahai abdun, karena anak yang lahir tersebut dinisbatkan kepada laki-laki yang mempunyai isteri dari ikatan pernikahan yang sah, sedang yang berzina tidak mendapat apa-apa, wahai Saudah binti Zam’ah kamu harus berhijab ketika bertemu dengan anak itu.” (HR. Bukhari) berkata ibnu Taimiyah, “maka renungkanlah, ambillah pelajaran bahwa nama yang satu menafikan hukum yang lain pula walaupun satu nama, yakni saudara dalam hak warisan berbeda dengan mahram dalam status hukum. (Al-Fatawa, 7/421).

Berkata ibnu Taimiyah, “sesungguhnya nama yang satu menafikan dan menetapkan hukum disesuaikan dengan hukum yang berkaitan dengannya. Maka tidak wajib apabila telah tetap atau tidak ada pada suatu hukum diterapkan pada hukum yang lain dan ini menurut pendapat perkataan bangsa Arab dan mayoritas umat.” (Al-Fatawa, 7/419).

Berkata Abdul Lathif dalam Al-Minhaj halaman 316 : mengenai seseorang yang menduga dan berkeyakinan bahwa pendapat dari ahli ilmi dan pembatasan mereka dalam hal penegakan hujah dan sampainya dakwah menafikan penamaan kafir, syirik dan fajir dan yang semisal dengan itu dari perbuatan, perkataan yang telah jelas namanya dalam syara’. Berkata beliau, “jika ditiadakan penegakan hujjah maka tidak berubah dalam hal nama secara syar’i bahkan nama kafir, syirik, fasiq, tetap bagi pelakunya dan tidak dinafikan nama tersebut dari mereka walaupun pelakunya tidak diadzab, jika belum ditegakan hujjah kepadanya maka dibedakan hujjah kepada maka dibedakan antara hukuman bagi pelaku kekafiran dengan pelaku kekafiran.

Bagian Ketiga

Kitab Nama-Nama (al-Asma’) yang selainnya berhubungan dengan ditegakannya Hujjah dan dikaitkan dengan pelakunya yang mengerjakan walaupun belum di tegakan hujjah atasnya.

Bab II

Berkata ibnu Taimiyah : Sesungguhnya Alloh telah menamakan mereka sebelum risalah sebagai orang-orang dzalim, orang-orang yang melampaui batas, orang-orang yang mengadakan kerusakan, dan nama-nama ini sebagai celaan dari sifat-sifat tercela yang hanya berlalu untuk setiap perbuatan yang jelek, buruk. Maka ini telah menunjukan bahwa perbuatan tercela, buruk telah ada sebelum datangnya risalah kenabian Rasulullah namun terhadap mereka tidak diberlakukan adzab kecuali setelah diutusnya seorang rasul kepada mereka sebagaimana Alloh berfirman :

مَّنِ ٱهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِى لِنَفْسِهِۦ ۖ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌۭ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًۭا

“Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), Maka Sesungguhnya Dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang sesat Maka Sesungguhnya Dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al-Israa, :15) (Al-Fatawa, 20/37,38).

Telah berkata Syeikh Abdul Lathif dalam Al-Minhaj, halaman 316 : mengenai seseorang yang menduga dan berkeyakinan bahwa pendapat dari ahli ilmi dan pembatasan mereka dalam hal penegakan hujah dan sampainya dakwah menafikan (meniadakan) penamaan kafir, syirik, fajir dan yang semisalnya dengan itu dari perbuatan, perkataan yang telah jelas namanya dalam syara berkata juga beliau, “jika ditiadakan penegakan hujjah terhadap mereka maka tidak merubah dalam hal nama secara syar’i bahkan penamaan kafir, syirik, fasiq, tetap bagi para pelaku dan mereka walaupun dia tidak di adzab. Jika belum ditegakan hujah kepadanya maka dibedakan antara hukum bagi pelaku kekafiran dengan pelaku kekafiran.

11. Bab. Kaitannya dengan penamaan Syirik bagi orang yang mengerjakan dan dinafikan penamaan Islam darinya walaupun sebelum ditegakan hujjah maka bagaimana gerangan apabila sudah ditegakan hujjah atasnya?

 

Seperti ahlu fatrah (orang yang hidup pada jaman kekosongan wahyu), Jaahil (orang bodoh), orang yang mentakwil, orang yang keliru (Al-Mukhthi), dan jaman tersebarnya kebodohan dan sedikitnya ilmu. Adapun Al-Mu’anid (orang yang membangkang dari kebenaran dalam arti mereka sudah mendengar al-Haq namun dia membangkang) dan Al-Mu’aridh (orang yang berpaling dari kebenaran setelah ada kesempatan untuk mendengarkan al-Haq) bersama dengan tamkin (adanya kesempatan bagi mereka untuk mendapatkan al-Haq) maka disandarkan penamaan kafir atasnya setelah sampai hujjah atasnya dikaitkan padanya siksa, pembunuhan dan peperangan. Insya Alloh ada pembahasannya.

Alloh Ta’ala berfirman :

مَا كَانَ لِلنَّبِىِّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَن يَسْتَغْفِرُوا۟ لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوٓا۟ أُو۟لِى قُرْبَىٰ مِنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَٰبُ ٱلْجَحِيمِ

“ Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum Kerabat (Nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At Taubah,: 113)

 

Alloh Ta’ala berfirman :

وَكَذَٰلِكَ زَيَّنَ لِكَثِيرٍۢ مِّنَ ٱلْمُشْرِكِينَ قَتْلَ أَوْلَٰدِهِمْ شُرَكَآؤُهُمْ لِيُرْدُوهُمْ وَلِيَلْبِسُوا۟ عَلَيْهِمْ دِينَهُمْ ۖ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

“ Dan Demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan bagi mereka agama-Nya. dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggallah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (QS. Al-An’aam, :137).

Maka Alloh menamakan mereka orang-orang musyrik sebelum datangnya risalah.

Alloh Ta’ala berfirman :

وَإِنْ أَحَدٌۭ مِّنَ ٱلْمُشْرِكِينَ ٱسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَٰمَ ٱللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُۥ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌۭ لَّا يَعْلَمُونَ

“ Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, Maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (QS. At Taubah : 6).

 

Maka Alloh Ta’ala menamakan mereka sebagai orang-orang musyrik sebelum mereka mendengarkan hujjah.

Alloh Ta’ala berfirman :

لَمْ يَكُنِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنْ أَهْلِ ٱلْكِتَٰبِ وَٱلْمُشْرِكِينَ مُنفَكِّينَ حَتَّىٰ تَأْتِيَهُمُ ٱلْبَيِّنَةُ

“ Orang-orang kafir Yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata,” (QS. Al-Bayyinah, :1)

Maka Alloh Ta’ala menamakan mereka sebagai orang-orang musyrik sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.

Alloh Ta’ala berfirman :

فَإِذَا رَكِبُوا۟ فِى ٱلْفُلْكِ دَعَوُا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ فَلَمَّا نَجَّىٰهُمْ إِلَى ٱلْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

“ Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (QS. Al-Ankaabuut : 65)

 

Alloh Ta’ala berfirman :

أَوْ تَقُولُوٓا۟ إِنَّمَآ أَشْرَكَ ءَابَآؤُنَا مِن قَبْلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةًۭ مِّنۢ بَعْدِهِمْ ۖ أَفَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ ٱلْمُبْطِلُونَ

“Atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua Kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang Kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka Apakah Engkau akan membinasakan Kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?” (QS. Al-A’raaf, : 173)

 

Dan Alloh Ta’ala berfirman mengenai orang musyrik Arab:

وَٱتَّبِعْ مَا يُوحَىٰٓ إِلَيْكَ وَٱصْبِرْ حَتَّىٰ يَحْكُمَ ٱللَّهُ ۚ وَهُوَ خَيْرُ ٱلْحَٰكِمِينَ

“Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan dan Dia adalah hakim yang sebaik-baiknya.” (QS. Yunus, : 109)

 

Alloh Ta’ala berfirman mengenai orang musyrik Arab.

فَلَا تَكُ فِى مِرْيَةٍۢ مِّمَّا يَعْبُدُ هَٰٓؤُلَآءِ ۚ مَا يَعْبُدُونَ إِلَّا كَمَا يَعْبُدُ ءَابَآؤُهُم مِّن قَبْلُ ۚ وَإِنَّا لَمُوَفُّوهُمْ نَصِيبَهُمْ غَيْرَ مَنقُوصٍۢ

“ Maka janganlah kamu berada dalam keragu-raguan tentang apa yang disembah oleh mereka. mereka tidak menyembah melainkan sebagaimana nenek moyang mereka menyembah dahulu. dan Sesungguhnya Kami pasti akan menyempurnakan dengan secukup-cukupnya pembalasan (terhadap) mereka dengan tidak dikurangi sedikitpun.” (QS. Huud, :109).

 

Maka Alloh menamakan nenek moyang mereka yang menyembah tuhan-tuhan selain Alloh sebagai orang-orang musyrik sebelum ditegakannya atas mereka hujjah.

Dan Nabi Yusuf alaihi sallam mencantumkan penamaan syirik kepada orang kafir Mesir sedangkan mereka hidup pada zaman Fatroh. Pada firman Alloh :

يَٰصَىٰحِبَىِ ٱلسِّجْنِ ءَأَرْبَابٌۭ مُّتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ ٱللَّهُ ٱلْوَٰحِدُ ٱلْقَهَّارُ

“ Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam  itu ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?” (QS. Yusuf, 39)

 

مَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِهِۦٓ إِلَّآ أَسْمَآءًۭ سَمَّيْتُمُوهَآ أَنتُمْ وَءَابَآؤُكُم مَّآ أَنزَلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلْطَٰنٍ ۚ إِنِ ٱلْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۚ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“ Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) Nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang Nama-nama itu. keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Yusuf, :40)

Alloh Ta’ala berfirman :

وَصَدَّهَا مَا كَانَت تَّعْبُدُ مِن دُونِ ٱللَّهِ ۖ إِنَّهَا كَانَتْ مِن قَوْمٍۢ كَٰفِرِينَ

“ Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya), karena Sesungguhnya Dia dahulunya Termasuk orang-orang yang kafir.” (QS. AnNaml, : 43)

 

Dan sesungguhnya Alloh telah menamakan dia orang kafir sebelum datangnya hujjah padanya.

وَجَدتُّهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيْطَٰنُ أَعْمَٰلَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ ٱلسَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ

“ Aku mendapati Dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk,” (QS. AnNaml, :24).

 

Alloh Ta’ala berfirman :

كَانَ ٱلنَّاسُ أُمَّةًۭ وَٰحِدَةًۭ فَبَعَثَ ٱللَّهُ ٱلنَّبِيِّۦنَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ ٱلنَّاسِ فِيمَا ٱخْتَلَفُوا۟ فِيهِ ۚ وَمَا ٱخْتَلَفَ فِيهِ إِلَّا ٱلَّذِينَ أُوتُوهُ مِنۢ بَعْدِ مَا جَآءَتْهُمُ ٱلْبَيِّنَٰتُ بَغْيًۢا بَيْنَهُمْ ۖ فَهَدَى ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لِمَا ٱخْتَلَفُوا۟ فِيهِ مِنَ ٱلْحَقِّ بِإِذْنِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ يَهْدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٍۢ مُّسْتَقِيمٍ

“ Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus Para Nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. tidaklah berselisih tentang kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, Yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Baqarah, : 213)

 

Maka setiap Rasul yang Alloh utus kepada kaumnya, mereka (para rasul) menyeru kaumnya yang musyrik dan sebelum kedatangan para rasul tersebut mengajak mereka untuk meninggalkan kesyirikan dan mentauhidkan Alloh dengan ibadah dan ini merupakan dalil dalam Al-Quran, Sunnah dan Ijma.

Dari Al-Aswad bin sari – semoga Alloh meridhoinya- hadits marfu ada empat golongan yang akan Alloh uji pada hari kiamat, maka beliau (Rasulullah) menuturkan orang yang tuli, orang yang bodoh terbelakang (idiot), orang yang pikun, dan seseorang yang mati ada jaman Fatrah,” (Hadits dikatakan jalan dari ibnu al-Qayyim dalam Ahkam ahludz dzimmah, 2/65) (setelahnya ada komentar tambahan, berkata beliau hadits ini saling menguatkan dengan hadits yang lain dan telah di shahihkan oleh Al-Hafidz sebagiannya, sebagaimana telah di shahihkan juga oleh Al-Imam Al-Baihaqi, dan Abdul Haq serta selainnya dari keduanya, hadits Al-Aswad dan Abu Hurairah dan telah diriwayatkan pula oleh para Imam ahli ilmi dan selainnya dalam kitab-kitab mereka).

Hadits dari Adi bin Hatim –semoga Alloh meridhoinya- yang didalamnya terdapat perkataan nabi, “mereka telah menjadikan rahib-rahib dan pendeta-pendeta mereka sebagai sekutu selain Alloh” berkata Syeikh Aba Buthain mengomentari Hadits ini, “Alloh telah mencela dan menamakan mereka sebagai orang-orang musyrik disebabkan keadaan mereka tidak mengetahui apa yang mereka perbuat dimana ini merupakan bentuk peribadahan orang Nashrani kepada para pendeta dan rahib mereka maka mereka tidak di udzur dengan sebab kebodohan mereka.” (kitab AdDuror, 10/393,394)

Dan telah tsabit bahwa orang-orang musyrik Arab mengatakan dalam talbiyah mereka, “Labaika la syarikalaka illa syariikan Huwa laka tamlikuhu wa maa laka.”

Pasal

        Berkata ibnu Sahman dalam kita kitab Ksyfu Syubhatain, “bahwa awalnya orang-orang kafir dan orang-orang musyrik pada umumnya pada masa nabi Nuh diutus kepada kaumnya hingga pada jaman kami, mereka dalam keadaan bodoh dan bertakwil (dalam peribadahan mereka pada berhala ), begitupun juga ahlu Al-Hulul, Al-Ittihad seperti ibnu Arobi. Ibnu Al-Faridh Wa Tilmisani dan selainnya dari golongan Shufiyah mereka semua mentakwil, serta para penyembah kubur dan orang-orang musyrik yang melakukan takwil –sampai perkataan- dan Nashranipun melakukan takwil. Dan telah dikatakan sebelumnya oleh Syeikh Abdul Lathif dalam kitab Al-Minhajuta’shis, halaman 262.

Berkata Syeikh Ishaq bin Abdirrahman : (Bahkan sesungguhnya ahli fatrah yang belum sampai dakwah risalah dan Al-Qur’an dan mereka mati diatas kejahiliyahan maka mereka bukan muslim berdasarkan ijma dan tidak diminta ampunkan bagi mereka namun terjadi perbedaan pendapat dikalangan ahli ilmi mengenai adzab yang ditimpakan kepada mereka dihari kiamat.

Berkata Syeikh Abdulloh dan Hasan kedua anak Syeikh Muhammad bin Abdil Wahhab : (Barangsiapa yang mati dari kalangan ahli syririk sebelum sampainya dakwah ini (dakwah Syeikh Muhammad bin Abdil Wahhab) maka dia dihukumi sesuai dhahirnya (mati kafir) disebabkan perbuatan syirik yang dianutnya. Secara dhohirnya dia mati diatas kekafiran maka tidak boleh dido’akan baginya, tidak pula menyembelih hewan korban baginya dan tidak boleh pula bersedekah pula untuknya. Adapun hakikat urusan yang sebenarnya dikembalikan kepada Alloh Ta’ala. Jika telah sampai hujjah kepadanya ketika dia hidup lalu membangkang maka ini kekafiran secara dhohir dan bathin. Adapun bila belum sampai hujjah padanya urusannya dikembalikan kepada Alloh Ta’ala. (Kitab Ad Duror, 10/142) .

Berkata anak-anak Syeikh Muhammad bin Abdil Wahhab dan Syeikh Hamd bin Nashir Ali Ma’mar, “jika dahulu mereka hidup dengan melakukan kekafiran dan kesyirikan disebabkan kebodohannya atau tidak ada yang mengingatkannya maka dia dihukumi bukan kafir bila belum ditegakan padanya hujjah namun kami tidak menghukumi dia sebagai seorang muslim” (kitab Ad Duror, 10/136).

Dan telah dinukil oleh dua saudara Syeikh Abdul Lathif dan Syeikh Ishaq putera Syeikh Abdurrahman dan ibnu Sahman mereka menukil dari Ibnu Qayyim, “ijma bahwa orang-orang yang hidup pada jaman fatroh dan orang-orang yang belum sampai padanya dakwah, bahwa keduanya tidak dihukumi sebagai orang muslim dan tidak dimasukan kedalam jajaran orang-orang muslim, termasuk tidak mengkafirkan mereka. Adapun penamaan syirik (musyrik bagi pelakunya) pantas atas mereka, yakni penamaan musyrik mencakup pada mereka tidak tersisa penamaan Islam darinya (dinafikan penamaan Islam atas mereka) bersamaan hilangnya pondasi keimanannya dan kaidah-kaidahnya yang agung yakni Laailaahaillallah.

Berkata Syeikh Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdil Wahhab, “yang diyakini oleh Syeikh Al-Islam bersaman dengan para ikhwannya dari kalangan Ahlussunnah wal jamaah mengenai pengingkaran mereka terhadap kesyirikan Akbar yang terjadi pada jaman mereka dan telah dikatakan juga oleh mereka dalil-dalilnya dalam Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Assunah mengenai kafirnya orang yang mengerjakan kesyirikan akbar ini atau sekedar meyakininya. (Al-Fatawa Al-Aimmah An Nejdiyah, 3/155).

Telah berkata , “dan para ulama -semoga Alloh merahmati mereka- yang meniti jalan yang istiqomah, mereka telah menuturkan mengenai bab hukum murtad dan tidak ada seorangpun dari mereka yang mengatakan, “bahwa bila ada seseorang yang berkata kekafiran atau berbuat tidak melanggar (membatalkan) syahadatain, tidak dikafirkan dengan sebab bodoh. “padahal Alloh Ta’ala telah menjelaskan didalam Al-Qur’anNya bahwa sebagian orang-orang musyrik itu bodoh dan muqolid (hanya ikut-ikutan) namun tidak ditegakan siksa dengan sebab kebodohannya, sebagaimana Alloh Ta’ala berfirman:

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يُجَٰدِلُ فِى ٱللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍۢ وَلَا هُدًۭى وَلَا كِتَٰبٍۢ مُّنِيرٍۢ

8. Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya,

 

ثَانِىَ عِطْفِهِۦ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۖ لَهُۥ فِى ٱلدُّنْيَا خِزْىٌۭ ۖ وَنُذِيقُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ عَذَابَ ٱلْحَرِيقِ

9. Dengan memalingkan lambungnya untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah. ia mendapat kehinaan di dunia dan dihari kiamat Kami merasakan kepadanya azab neraka yang membakar.

 

ذَٰلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ يَدَاكَ وَأَنَّ ٱللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّٰمٍۢ لِّلْعَبِيدِ

10. (akan dikatakan kepadanya): “Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu dan Sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya”. (QS Al-Hajj, : 8-10 )

 

Adapun firman Alloh Ta’ala lengkapnya ada pada QS. Al-Hajj, : 3-4)

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يُجَٰدِلُ فِى ٱللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍۢ وَيَتَّبِعُ كُلَّ شَيْطَٰنٍۢ مَّرِيدٍۢ

3. Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti Setiap syaitan yang jahat,

 

كُتِبَ عَلَيْهِ أَنَّهُۥ مَن تَوَلَّاهُ فَأَنَّهُۥ يُضِلُّهُۥ وَيَهْدِيهِ إِلَىٰ عَذَابِ ٱلسَّعِيرِ

4. Yang telah ditetapkan terhadap syaitan itu, bahwa Barangsiapa yang berkawan dengan Dia, tentu Dia akan menyesatkannya, dan membawanya ke azab neraka.

 

 

Syeikh Aba Buthain berkata , “para ulama telah menuturkan dari kalangan para ulama madhab yang mana mereka tidak membatasi dalam perkataan, perbuatan dan keyakinan bagi pelaku kekafiran dan mereka tidak membatasi hanya bagi para Mu’anid saja. Maka orang yang mengklaim bahwa orang yang melakukan kekafiran karena takwilnya ijtihadnya dan kerena kesalahannya diudzur maka dia telah menyelisihi Al-kitab (Al-Qur’an), Assunah dan ijma tanpa diragukan lagi,” (Risalah Al-Intishar).

Berkata juga Syeikh Aba Buthain, “telah lewat perkataan ibnu Uqail mengenai cap kekafiran terhadap orang yang beliau sifatkan kepada mereka jahil karena disebabkan apa yang mereka kerejakan berupa sikap ghuluw (berlebih-lebihnya mereka) terhadap kuburan dan ini juga dinukil oleh ibnu Qayyim dan dihasankan. (AdDuror, 101/393,394, merujuk juga dalam kitab Misbahuddzalam halaman 337-338).

Berkata ibnu Taimiyyah “penamaan syirik tetap sebelum  risalah karena dia telah berbuat kesyirikan kepada rabbnya dan melampaui batas terhadapnya (dengan berbuat syirik)” (Al-Fatawa, 20/38).

Berkata Syeikh Aba Buthain mengenai komentar atas perkataan ibnu Taimiyah yang mencap (terhadap pelaku kesyirikan) dalam tempat yang banyak mengenai takfir terhadap pelaku kesyirikan serta telah di hikayatkan menurut ijma kaum muslimin dan tidak dikecualikan orang bodoh pun serta yang semisalnya maka barang siapa yang mengkhususkan ancaman itu hanya diberlakukan kepada para pembangkang saja (mu’anid) mengeluarkan orang yang bodoh, pentakwilan dan muqallid maka dia telah menentang Alloh dan Rasulnya serta dia telah keluar dari jalannya orang-orang yang beriman. Para fuqoha menilai bab hukum murtad karena sebab menyekutukan Alloh tidak terbatas hanya berlaku bagi pembangkang saja akan tetapi ini merupakan perkara yang sudah jelas dari Alloh, segala puji hanya kepunyaan Alloh. “(Rasalah Al-Intishar). Selesai.

Berkata Syaikh Abdul Lathif dalam al-Minhaj, halaman 315, “Adapun orang yang menyeru atau berdoa (meminta) kepada orang-orang shalih yang sudah meninggal, serta meminta tolong kepada mereka, menuju kepada mereka dengan menyampaikan maksud supaya dihilangkan dari segala kesulitan, kegentingan (rasa takut pada musuh) maka perbuatan ini adalah perbuatan yang haram tanpa diperselisihkan diantara kaum muslimin. Pelakunya telah melakukan kesyirikan besar. Permasalahan ini telah di taqdim oleh Syaikhul Islam ibnu Taimiyah bahwa pelaku perbuatan syirik ini diperintahkan untuk bertaubat jika dia menolak dia di bunuh.

Para ulama dan mufassir telah sepakat begitupun dari ahlu Lughat dan tarikh atas penamaan bagi bangsa Arab sebelum diutus nabi dengan bangsa musyrik Arab.

Permasalahan: Adapun penafian Islam bagi orang yang mencampurkannya dengan kesyirikan maka keduanya tidak bisa bergabung karena keduanya adalah dua hal yang berlawanan.

 

13.  Bab . Kebanyakan kesyirikan yang terjadi di alam ini disebabkan karena kebodohan dan takwil bukan karena pembangkangan

Alloh Ta’ala berfirman :

مَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِهِۦٓ إِلَّآ أَسْمَآءًۭ سَمَّيْتُمُوهَآ أَنتُمْ وَءَابَآؤُكُم مَّآ أَنزَلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلْطَٰنٍ ۚ إِنِ ٱلْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۚ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“ Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) Nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang Nama-nama itu. keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Yusuf, : 40)

 

Berkata Ibnu Katsier, “dan oleh karena itulah kebanyakan mereka adalah orang-orang musyrik.

Alloh Ta’ala berfirman :

وَلَقَدْ ضَلَّ قَبْلَهُمْ أَكْثَرُ ٱلْأَوَّلِينَ

71. Dan Sesungguhnya telah sesat sebelum mereka (Quraisy) sebagian besar dari orang-orang yang dahulu,

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا فِيهِم مُّنذِرِينَ

72. Dan Sesungguhnya telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan (rasul-rasul) di kalangan mereka. (QS, Ash Shaffaat, :71-72).

Alloh Ta’ala berfirman :

قُلْ هَلْ مِن شُرَكَآئِكُم مَّن يَهْدِىٓ إِلَى ٱلْحَقِّ ۚ قُلِ ٱللَّهُ يَهْدِى لِلْحَقِّ ۗ أَفَمَن يَهْدِىٓ إِلَى ٱلْحَقِّ أَحَقُّ أَن يُتَّبَعَ أَمَّن لَّا يَهِدِّىٓ إِلَّآ أَن يُهْدَىٰ ۖ فَمَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ

35. Katakanlah: “Apakah di antara sekutu-sekuturmu ada yang menunjuki kepada kebenaran?” Katakanlah “Allah-lah yang menunjuki kepada kebenaran”. Maka Apakah orang-orang yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) diberi petunjuk? mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan?

 

وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلَّا ظَنًّا ۚ إِنَّ ٱلظَّنَّ لَا يُغْنِى مِنَ ٱلْحَقِّ شَيْـًٔا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌۢ بِمَا يَفْعَلُونَ

36. Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan. (QS. Yunus, : 35-36).

 

Dan Alloh menutup dalam surat Asysyu’araa mengenai kisah Musa, Ibrahim, Nuh, Huud, Shalih, Luth dan Syu’aib –atas mereka shalawat dan salam – setelah menghancurkan kaum-kaum mereka dengan firmannya :

إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَةًۭ ۖ وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُم مُّؤْمِنِينَ

“ Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat suatu tanda kekuasaan Allah. dan kebanyakan mereka tidak beriman.” (QS. Asy-Syu’araa. :8)

 

Dan telah diriwayatkan oleh Muslim dari Abi Hurairah hadits marfu :

“Barang siapa yang mengajak kepada kesesatan maka baginya dosa seperti dosa orang mengikutinya tidak dikurangi sedikitpun dari dosa mereka.”

Berkata Syeikh Abdul Lathif, “menukil dari ucapan ibnu Qayyim mengenai muqallid dan dalil diatas menunjukan kekafiran orang yang sekedar mengikuti saja disebabkan mereka mengikuti dan taklid kemudian dia menjelaskan rincian tentangnya.” (Al-Minhaj At Ta’shis. Halaman 224)

Berkata Syeikh Muhammad bin Abdil Wahhab. “bahwa kebanyakan orang-orang kafir dan menafikan tidak memahami hujjah Alloh dan kewajiban atas mereka.”  Sebagaimana Alloh berfirman :

أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَٱلْأَنْعَٰمِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا

“ Atau Apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (QS. Al-Furqaan :44)

 

(Tarikh Nejdiyah, halaman 410)

Berkata ibnu Sahman dalam kitab Kasyfu Syubhatain halaman 93, “adapun permasalahan tauhid kepada Alloh dan mengikhlaskan ibadah kepadaNya maka tidak diperselisihkan akan kewajibannya seorangpun dari kalangan ahli Islam tidak pula dari kalangan ahli ahwa dan tidak pula dari selainnya, dimana permasalahan tauhid ini adalah permasalahan dari AdDien Addharuroh. (Dinukil juga oleh Syeikh Abdul Lathif dalam Al-Minhaj, halaman 101)

Berkata ibnu Sahman menukil dari Syeikhnya Abdul Lathif dalam kitab Minhaj At Ta’shis, halaman 262, “pada umumnya orang-orang kafir dan musyrik pada jaman Nabi Nuh sampai jaman kami mereka bodoh dan bertakwil tentang kemusyrikan mereka. Begitupun juga mereka dari kalangan ahlu al-hulul, Al-Ittihad, seperti ibnu Arobi dan ibnu Al-Faridh, dan At Tilmisani serta selain dari mereka dari golongan sufi mereka semua bertakwil. Begitupun juga para penyembah kuburan dan orang-orang musyrik mereka semuanyapun bertakwil –sampai ucapan- begitupun Nashrani mereka bertakwil dengan kemusyrikannya.

Berkata Syeikh Aba Bithin, “kesepakatan dari para muslimin kafirnya seseorang yang tidak mengkafirkan Yahudi dan Nashrani atau meragukan akan kekafiran mereka sedangkan kami meyakini bahwa kebanyakan dari mereka bodoh.” (Risalah Al-Intishar).

 

14.  Bab keterkaitan nama syirik dengan pelakunya yang memaksudkan dengan perbuatannya sebagai ijtihad, dugaannya atau dia menganggap diatas petunjuk.

 

Alloh Ta’ala berfirman :

فَرِيقًا هَدَىٰ وَفَرِيقًا حَقَّ عَلَيْهِمُ ٱلضَّلَٰلَةُ ۗ إِنَّهُمُ ٱتَّخَذُوا۟ ٱلشَّيَٰطِينَ أَوْلِيَآءَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُم مُّهْتَدُونَ

“ Sebahagian diberi-Nya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al-A’raaf, :30)

 

Alloh berfirman :

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِٱلْأَخْسَرِينَ أَعْمَٰلًا

103. Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”

 

ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

104. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (QS. Al-Kahfi, :103-104)

 

Alloh Ta’ala berfirman :

وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ ٱلسَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُم مُّهْتَدُونَ

“Dan Sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.” (QS. Az Zukhruf, :37)

 

Alloh Ta’ala berfirman :

وُجُوهٌۭ يَوْمَئِذٍ خَٰشِعَةٌ

2. Banyak muka pada hari itu tunduk terhina,

 

عَامِلَةٌۭ نَّاصِبَةٌۭ

3. Bekerja keras lagi kepayahan,

 

تَصْلَىٰ نَارًا حَامِيَةًۭ

4. Memasuki api yang sangat panas (neraka),

(QS. Al-Ghasyiyah, :2-4)

Dan telah lewat nukilan ijma dari para ahli ilmu, “mengenai seseorang yang menyangka (dengan hawa nafsunya) sahnya kenabian Musailamah al-kadzdzab dengan alasan mereka yang mengikuti hawa nafsunya bahwa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wa sallam bersatu pada kenabian dan didalamnya.”

Berkata ibnu Taimiyah, “Telah tetap didalam Al-Qur’an dan Sunnah serta ijma dari para ulama bahwa barang siapa yang telah sampai kepadanya risalah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam namun dia tidak beriman kepadanya maka dia kafir, tidak diterima udzur darinya dengan sebab ijtihadnya disebabkan telah jelasnya dalil risalah dan jelasnya tanda kenabian. (Al-Fatawa, 12/496).

Berkata Syeikh Abdulloh bin Muhammad bin Abdil Wahhab, “Ijma yang sudah terjalin bahwa barang siapa yang telah sampai dakwah Rasulullah Shallallahu alaihi Wa sallam kepadanya namun dia tidak beriman kepadanya maka dia kafir tidak diterima udzurnya dengan sebab ijtihadnya dikarenakan jelasnya kenabian.” (Ad Duror, 10/247).

  1. 15.                         Bab . Bagaimana ditegakan hukuman bagi orang musyrik yang belum tegak hujjah padanya.

Alloh Ta’ala berfirman :

مَا كَانَ لِلنَّبِىِّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَن يَسْتَغْفِرُوا۟ لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوٓا۟ أُو۟لِى قُرْبَىٰ مِنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَٰبُ ٱلْجَحِيمِ

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum Kerabat (Nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At Taubah, :113)

 

Alloh Ta’ala berfirman :

وَلَا تَنكِحُوا۟ ٱلْمُشْرِكَٰتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌۭ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌۭ مِّن مُّشْرِكَةٍۢ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ وَلَا تُنكِحُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا۟ ۚ وَلَعَبْدٌۭ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌۭ مِّن مُّشْرِكٍۢ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ ۗ أُو۟لَٰٓئِكَ يَدْعُونَ إِلَى ٱلنَّارِ ۖ وَٱللَّهُ يَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱلْجَنَّةِ وَٱلْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِۦ ۖ وَيُبَيِّنُ ءَايَٰتِهِۦ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“ Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (QS. Al-Baqarah. :221)

 

Alloh Ta’ala berfirman :

مَّنِ ٱهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِى لِنَفْسِهِۦ ۖ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌۭ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًۭا

“Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), Maka Sesungguhnya Dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang sesat Maka Sesungguhnya Dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al-Israa. :15)

 

Alloh Ta’ala berfirman :

وَلَوْلَآ أَن تُصِيبَهُم مُّصِيبَةٌۢ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ فَيَقُولُوا۟ رَبَّنَا لَوْلَآ أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًۭا فَنَتَّبِعَ ءَايَٰتِكَ وَنَكُونَ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ

“ Dan agar mereka tidak mengatakan ketika azab menimpa mereka disebabkan apa yang mereka kerjakan: “Ya Tuhan Kami, mengapa Engkau tidak mengutus seorang Rasul kepada Kami, lalu Kami mengikuti ayat-ayat Engkau dan jadilah Kami Termasuk orang-orang mukmin”. (QS. Al-Qashash, : 47)

Berkata syeikh Abdulloh dan Syeikh hasan kedua anak Syeikh Muhammad bin Abdil Wahhab, “Barangsiapa yang mati dari kalangan ahli syirik sebelum sampainya dakwah ini (dakwah Syeikh Muhammad bin Abdil Wahhab) maka dia dihukumi apabila dia mengetahui perbuatan musyriknya dan berpegang kepada ajaran kemusyrikannya dan mati diatas kemusyrikan maka secara dhahirnya dia mati dalam keadaan kafir, maka tidak boleh dido’akan baginya, dan bershadaqoh untuknya adapun hakikat urusannya dikembalikan kepada Alloh Ta’ala. Jika telah tegak hujjah kepadanya ketika dia masih hidup lalu dia menentangnya maka dia kafir secara dhahir maupun bathin. Jikalau belum tegak hujjah atasnya maka urusannya dikembalikan kepada Alloh Ta’ala. Adapun mencela dan melaknatnya tidak diperbolehkan.” (Ad Duror, 10/142).

Berkata Syeikh Ishaq bin Abdirrahman, “bahkan sesungguhnya ahli fatroh yang belum sampai padanya hujjah risalah dan Al-Qur’an lalu dia mati diatas kejahiliyahan maka dia tidak disebut seorang muslim berdasarkan ijma, tidak diminta ampunkan baginya , namun dari kalangan ahli ilmi hanya berselisih dalam masalah adzab kepada mereka diakhirat.” (Risalah Takfir Mu’ayyan)

~bersambung~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s