Masailu Min Fiqh Jihad (Permasalahan dalam Fiqh Jihad) Karya. Asy Syahid Abu Abdillah al-muhajir. Bag.10

 

            Berkata Al-Imam Ahmad –rahimahulloh- ( sesungguhnya dakwah telah sampai kepada setiap orang, dan  aku tidak mengetahui pada hari ini manusia di seru, namun seruan dakwah hanya berlaku pada masa awal Islam). (Al-Kafi, karya Ibnu Qudamah, 4/259, dan yang semisalnya (membahas tentang ini dalam Al-Mughni, 9/172)).

            Berkata Ashbagh –rahimahulloh- (sesungguhnya telah berkata dari keumuman manusia : dakwah Islam telah sampai kepada seluruh umat). (At Taaj Wal Iklil, 3/350).

            Berkata AthThahawi –rahimahulloh- (sungguh seluruh manusia telah mengenal dan mengetahui Islam, dan mereka telah mengetahui paling sedikitnya penyebaran dakwah Rassulullah Shallallahu alaihi Wa sallam kepada ahli negeri, dan tidak disebutkan keterangan sedikitpun ketika mereka diperangi mesti disampaikan dakwah terlebih dahulu, dikarenakan  mereka telah mengetahui apa yang menyelisihi mereka. (Mukhtashar Ikhtilaf al-ulama, 3/426).

            Berkata Al-Hafidh ibnu Hajar –rahimahulloh- : (pendapat dari kebanyakan tentang permasalahan itu yakni dakwah, dahulu pada awal sebelum dakwah Islam menyebar, jika didapatkan manusia belum terkena dakwah Islam mereka tidak diperangi, hingga didakwahi terlebih dahulu, (Nash dari Asysyafi’I ).

            Berkata Imam Malik : (Seseorang yang dekat negerinya (dengan negeri Islam) dia diperangi tanpa disiarkan dakwah kepadanya, namun bila jauh negerinya maka ditegakan terlebih dahulu dakwah kepadanya tanpa ada keraguan ). (Fathul Bari, 6/108-109).

            Aku (pengarang) berkata : (Yakni pada jaman dimana dakwah Islam telah menyebar, bahkan Islam akan menguasai musuh-musuhnya, didaerah sana masih terdapat negeri yang masih belum sampai dakwah padanya maka yang menjadi hukum asalnya adalah wajib ditegakan dakwah padanya). ( Al-Bahru Ar Ra’iq, 5/82).

 

Faidah Yang Penting

Bersama dengan pendapat masyhur dikalangan madhab Al-Malikiyah, mengenai wajibnya dakwah sebelum diperangi secara mutlak (lihat Al-Fawakih Ad Diwani, 1/396, Syarh Al-Kabir karya Ad Dardir , 2/176). Kecuali bila kaum muslimin membunuhnya maka tidak ada tebusan apapun terhadap mereka yang terbunuh, dan terbunuhnya mereka sebelum sampai dakwah Islam kepada mereka.

            Berkata Sahnun –rahimahulloh- (apabila kaum muslimin memerangi suatu kaum yang belum sampai dakwah Islam pada mereka , dan tidak ada seorangpun yang mendakwahi mereka maka  tidak ada tebusan atas kaum muslimin yang telah memeranginya (membunuhnya). Baik berupa diyat maupun kaffarat.). (At Taaj Wal Ikliil, 3/351).

            Aku berkata : Sesungguhnya keadaan tersebut dikarenakan kaidah asal, “bahwa darah orang kafir asalnya adalah boleh untuk di tumpahkan.”

Berkata Ath Thurtusi  -rahimahulloh- : (barangsiapa (yang terbunuh) sedangkan belum sampai dakwah Islam kepadanya maka tidak ada jaminan bila dia terbunuh). (At Taaj Al-Ikliil, 6/257).

            Dan ada pendapat bahwa barangsiapa yang terbunuh oleh kaum muslimin sebelum dakwah Islam sampai, kepadanya dari golongan orang kafir maka tidak ada tebusan (diyat,kaffarat) bagi yang telah membunuhnya. Pendapat ini adalah pendapat jumhur.

1)         Adapun pendapat dari Madhab Hanafi :

Yakni pendapat yang satu, diantaranya pendapat-pendapat mereka adalah :

Pendapat yang diambil dari kitab (fatwa Assaghadiey : berkata Abu Hanifah dan para pengikutnya dan Abu Abdillah : jika dakwah Islam telah sampai kepadanya maka tidak mengapa memeranginya, bila dakwah Islam belum sampai padanya maka jangan memeranginya namun bila memeranginya sebelum dakwah dan merekapun terbunuh maka tidak ada diyat, kaffarat bagi yang telah membunuhnya. (Fatawa Assaghadiey : 2/709).

            Dan telah berkata dalam kitab  Al-Hidayah Syarh Al-Bidayah, Fiqh dari Madhab al-Hanafi setelah menashkan kewajiban dakwah sebelum diperangi bagi siapa yang belum sampai dakwah kepadanya : (seandainya mereka dibunuh sebelum dakwah : tidak disukai, karena larangan namun tidak ada tebusan dikarenakan dicabutnya jaminan perlindungan terhadapnya, yaitu bagian dari AdDien atau menjaganya dan melindungi negeri maka dipalingkan seperti pembunuhan terhadap perempuan-perempuan dan anak-anak mereka). (Al-Hidayah Syarh Al-Bidayah, 2/136).

            Telah datang didalam kitab Al-Bahru Ar Ra’ieq –karya Ibnu Nujaim –rahimahulloh- : (kami tidak memerangi orang yang belum sampai dakwah Islam kepadanya, maksudnya : tidak diperbolehkan memerangi mereka disebabkan sabda Rasululloh Shallallahu alaihi wa sallam yang berkenaan wasiat beliau terhadap pimpinan pasukan Islam : “maka ajaklah mereka kepada persaksian bahwa tidak ada sembahan yang haq melainkan Alloh.” Dikarenakan kewajiban mereka adalah memenuhi dakwah dan merekapun mengetahui bahwa mereka diperangi karena Dien (bila mereka menolak dakwah maka mereka diperangi). Mereka diperangi karena Dien bukan semata-mata karena ingin memperoleh rampasan harta dan memperbudak dari anak-anak mereka, seandainya ada yang terbunuh dari mereka maka itu dibenci karena ada larangan, namun tidak ada tebusan (diyat, kaffarat) dikarenakan mencabut jaminan perlindungan terhadapnya, yaitu karena Dien atau menjaga dan melindungi negeri maka dipalingkan seperti pembunuhan terhadap perempuan dan anak-anak mereka. “( Al-Bahru ArRaieq, 5/81,82, pembahasan yang sempurna, 4/129).

            Berkata Al-Kamal ibnu Al-Hamaam –rahimahulloh- : seandainya mereka terbunuh sebelum tegak atasnya dakwah Islam, maka itu tidak di sukai namun bagi si pembunuhnya (dari kalangan muslim) tidak dikenakan tebusan, diyat maupun kaffarat, dan tanggungan ( berkata Al-Kamal ibnu Al-Hamaam : keharaman peperangan ditujukan kepada perempuan-perempuan dan anak-anak mereka, demikian juga untuk menjaga jaminan perlindungan yakni al-Islam dan perlindungan terhadap negeri-negeri Islam. ( Syarh Fathul Qadir, 5/445).

2)            Pendapat Madhab Hanbali

            Pendapat mereka : “Barang siapa yang terbunuh dari mereka yang belum sampai dakwah Islam kepada mereka maka tidak ada jaminan baginya, dikarenakan tidak ada iman padanya dan tidak ada jaminan aman baginya pula (pada asalnya. Pent) : maka diserupakan mereka seperti halnya kafir harbi. “ (Al-Kafi, karya ibnu Qudamah Al-Maqdisi, 4/56).

            Berkata Al-Mawardi –rahimahulloh- : (pendapatnya : Barangsiapa yang belum sampai dakwah Islam padanya maka tidak ada jaminan baginya, (ini adalah pemahaman madhab), berkata ibnu Manjaa’ dalam syarahnya : ini adalah madhab, di tetapkan dalam Al-Wajiz, pendapat ini yang dipilih (oleh madhab Hanbali), pendapat ini yang dipilih (oleh madhab Hanbali), pendapat yang mencerahkan, dan selainnya, dan syarieh telah mentaqdimnya dan berkata : ini pendapat yang awal ( yang diambil dari madhab Hanbali ) dan ditaqdim pula dalam Al-Muharraru dan An-Nidzam, Riayatain, Al-Hawi Ash Shaghier, Al-Furu’, dan selainnya. (Al-Inshaf, 10/65).

            Berkata ibnu Muflih –rahimahulloh- membantah yang mempunyai pandangan diyat bagi yang membunuh seseorang (kafir) yang belum sampai dakwah kepadanya : (wajibnya tidak ada diyat dikarenakan tidak ada iman dan aman baginya (pada asalnya) namun peperangan terhadap mereka tertahan dikarenakan mereka memberikan manfaat terhadap kaum muslimin). (Al-Mabdau’, 9/29, dan yang sejenisnya dalam Al-Furu’, 6/17, Al-Muharraru 2/145).

            Berkata Al-Bahuti –rahimahulloh- : Dan barangsiapa yang belum sampai dakwah kepadanya, jikalau memang ada maka sungguh telah dikabarkan mengenai kaum di belahan negeri Sudan yang tidak dipahami apa yang mereka katakan dari selain mereka, disamping belum sampainya dakwah Islam kepada mereka maka tidak ada jaminan bila mereka belum aman dikarenakan tidak ada perjanjian dengannya, tidak ada jaminan aman bagi mereka diserupakan dengan harbi. (Kasyafu al-Qina’, 6/21).

            Berkata Al-Bahuti –rahimahulloh- mengenai penjelasan Al-Ashnaf yang tidak mewajibkan kaffarat bagi yang telah membunuh orang kafir yang belum sampai dakwah padanya, namun bila dia mendapatkan orang kafir yang belum sampai dakwah masih hidup belum diperangi, maka jangan diperangi sebelum disampaikan dakwah kepada mereka terlebih dahulu, namun juga tidak ada kaffarat apabila sudah membunuhnya dikarenakan pada asalnya tidak ada iman dan aman baginya. (Kasyaf al-Qina’, 6/65).

            Berkata ibnu Qudamah al-Maqdisie –rahimahulloh- ( pasal : orang kafir yang belum sampai dakwah  Islam padanya jika memang ada, maka janganlah memerangi mereka sampai di dakwahi terlebih dahulu, jika dia dibunuh sebelum di dakwahi dari selain jaminan aman maka tidak ada jaminan bagi orang kafir yang terbunuh tersebut dikarenakan tidak adanya perjanjian dengannya, dan tidak ada aman baginya, maka urusan perkara ini, dia diserupakan dengan orang kafir harbi dari kalangan perempuan dan anak mereka. Dan hanyalah diharamkan membunuhnya dalam rangka mendakwahinya, ini adalah pendapat Abu Hanifah.) Berkata Abu al-Khathab : pembayaran ditanggung, di jamin oleh yang membunuh, dan ini pendapat dari Madhab Syafi’I karena jaminan yang ada kaitannya dengan darah serupa dengan jaminan keamanan, mengedepankan yang awal, begitupun juga terhadap anak-anak bayi dan janin dari kalangan kafir harbi karena dia termasuk kafir yang tidak terikat perjanjian maka tidak ada jaminan. (Al-Mughni, 8/314).

            Berkata ibnu Qudamah –rahimahulloh- seperti demikian (demikian juga apabila yang di bunuh adalah dari kalangan orang kafir yang belum sampai dakwah kepadanya maka tidak ada kaffarat didalamnya dan oleh karena itu tidak ada jaminan maka mereka diserupakan statusnya seperti orang kafir yang mubah untuk dibunuh. (Al-Mughni, 8/401).

            Berkata juga ibnu Qudamah –rahimahulloh- : ( Barangsiapa yang terbunuh dari kalangan orang kafir yang belum sampai dakwah Islam padanya : maka tidak ada jaminan baginya karena status dia (asalnya) tidak aman. Ketidak ada jaminan ini tidak termasuk pada wanita dan anak-anak mereka yang telah sampai dakwah pada mereka.)

Oleh karena itu terdapat catatan penting :

            Catatan penting pertama :

            Setiap hadits yang telah lalu mengenai hukum-hukum dakwah terhadap orang-orang kafir harbi beserta rincian-rincian keadaannya hanyalah berlaku dalam perang atau jihad offensive, maknanya : menyerang orang-orang kafir ke negeri mereka, adapun jihad difa’I (jihad pertahanan) dilihat dari sisi pertahanan jihad dari kaum muslimin dalam menahan dari serangan orang-orang kafir di dalam negeri kaum muslimin. Maka barangsiapa yang melontarkan perkataan kewajiban jihad ini menjadi gugur atau batal dengan sebab dakwah ditengah keadaan orang-orang kafir, pada jaman sekarang menguasai dan menyerang kaum muslimin maka sekali-kali mereka tidak akan mendapat yang mereka cari dari dakwah.

            Berkata Muhammad bin Hasan Asysyaibani –rahimahulloh- : (seandainya orang-orang kafir harbi yang belum sampai dakwah Islam padanya masuk mendatangi negeri muslim, yang mana kaum muslim membunuh mereka sebelum dakwah ditegakan padanya, dalam rangka untuk membela kehormatan dirinya, dibunuhnya mereka, melukai, mencaci mereka dan mengambil harta mereka maka hukumnya boleh, dibagi 1/5 harta rampasan dari mereka, dan dibagikan apa yang tersisa darinya.”). (AsSair al-Kabir dan Syarahnya, 5/2233).

            Berkata Asysyarih Assarkhosie –rahimahulloh- Bila seorang muslim menghunuskan pedang kepada saudara yang muslim maka yang diancam tersebut boleh membela dirinya, maka ini kaidah awal. Adapun maknanya adalah seandainya mereka disibukan dengan dakwah Islam namun pada waktu bersamaan orang-orang kafir membunuh kehormatan kaum muslimin maka tidak diwajibkan lagi dakwah atas mereka. ( Al-Maraji’ Assabiq. 5/2234).

            Berkata ibnu Qayyim –rahimahulloh- ( dan diantaranya kaum muslimin mendakwahi orang-orang kafir sebelum memeranginya, dan perkara ini wajib apabila dakwah belum sampai pada mereka dan boleh hukumnya menyampaikan  dakwah kepada mereka apabila kaum muslimin menginginkan kebaikan dari orang-orang kafir dengan mengajaknya kepada Islam. Adapun apabila orang-orang kafir masuk menyerang negeri kaum muslimin, maka diperangi tanpa didakwahi terlebih dahulu dikarenakan jihad yang dilancarkan kaum muslimin kepada orang kafir ini tergolong jihad defensive (jihad difa’I = jihad pertahanan). (Ahkamu Ahlidzdzimmah, 1/88, Kasyfu al-Qina’, 3/40).

            Berkata Al-Imam Malik –rahimahulloh- : (Adapun apabila musuh berdekatan dengan negeri kaum muslimin (ataupun sebaliknya) maka dakwah Islam digugurkan darinya dikarenakan mereka telah mengetahui dakwah Islam (dianggap telah mengetahui dakwah) bersamaan dengan kebencian dan sikap permusuhan mereka kepada Din al-Islam dan umat Islam. Adapun bila perbatasan antara mereka dengan pasukan Islam di dalam negeri Islam berjauhan, maka yang diberlakukan atasnya ialah dengan siasat strategi. Tidak ditegakan dakwah kepada mereka melainkan hanya sebatas peringatan, mengambil dasar alasan karena mereka memerangi kaum muslimin, dan terhalangnya kaum muslimin untuk menampakan dakwah kepada mereka.” ( Al-Madunatu al-kubra, 3/2)

            Perkataan Al-Imam –rahimahulloh- : Mengenai dakwah Islam digugurkan terhadap orang kafir yang daerahnya berdekatan dengan negeri kaum muslimin maka apa gerangan dengan kaum muslimin yang  tinggal di negeri mereka!?

            Berkata Yahya bin Said –rahimahulloh- “ dan tentang tempat tinggal, maka yang menjadi kewajiban atas kaum muslimin supaya jangan tinggal atau bermukim di benteng-benteng musuh dimana mereka makan, jangan menetap dipemukiman-pemukiman orang-orang kafir kecuali kalian menjauhinya, karena bila kamu tinggal atau menetap niscaya mereka akan mendatangimu, jika kalian mendekati mereka maka mereka akan membunuhmu karena mereka tidak pantas untuk di seru.” (Al-Madunatu al-Kubro, 3/3)

            Aku (pengarang) berkata : “ Sungguh telah lewat makna perkataan dakwah terhadap orang kafir sebelum memerangi mereka ketika mereka tidak memerangi kaum muslimin. Maka apa gerangan dengan keadaan orang kafir yang (sekarang) telah memerangi dan menguasai kaum muslimin dan negeri-negerinya!?

            Telah datang pembahasannya di dalam kitab Hasyiah ibnu Abidin : (perkataannya : “ kami mengajak mereka kepada Islam “maksudnya : kami menyeru mereka dengan menyampaikan dakwah Islam kepada mereka ( sekedar menyampaikan dakwah. Pent ) jika dakwah kami tidak di terima maka yang wajib adalah “ tidak adanya jaminan dari permusuhan.”)). ( Al-Hasyiah, 4/128).

            Sebagaimana dikatakan : mengenai meniadakan dakwah Islam kepada orang kafir dengan alasan mereka memerangi dan menguasai negeri-negeri kaum muslimin : ( jika kaum muslimin meninggalkan –maksudnya dakwah Islam – dengan menyerang secara mendadak terhadap orang kafir : maka tidak apa-apa dikarenakan mereka telah mengetahui diatas apa mereka berperang, seandainya mereka di sibukan dengan dakwah, sedangkan orang kafir berlindung dibenteng-bentengnya sehingga kaum muslimin tidak memungkinkan untuk mendakwahi mereka maka mereka diperangi tanpa dakwah. ( Al-Mabsuth, Karya Assarkhosiey, 10/6).

            Perhatikanlah : ( Seandainya mereka disibukan dengan dakwah, ternyata orang-orang kafir berlindung dibenteng-benteng mereka sehingga kaum muslimin tidak bisa mendakwahi mereka maka kaum muslimin boleh memerangi mereka dengan tanpa berdakwah ) perkara ini dalam Jihad Tholabi (offensive = menyerang), maka apa gerangan apabila situasinya dalam keadaan jihad difa’i (defensive = bertahan) ??! ( tentu lebih boleh untuk meninggalkan dakwah dengan mendahulukan perang ).

            Bahkan telah datang pembahasannya di dalam kitab “AtsTsamaru AdDaaniey” : (seandainya mereka (orang kafir) menolak dakwah….) maksudnya : seandainya mereka bersegera memerangi kaum muslimin maka dakwah ditinggalkan : mereka diperangi sehingga pada waktu itu dakwah menjadi haram.).( Ats-Tsamaru Ad Daaniey, Syarh Risalah Al-Qiruuniey, 1/412).

            Maka nash yang memerintah dakwah menjadi haram ketika kaum muslimin memerangi mereka di negeri mereka maka apa gerangan bila mereka yang menyerang kedalam negeri kaum muslimin?!!!

Catatan penting kedua :

            Hadits dahulu mengenai hukum dakwah sebelum peperangan hanyalah berlaku terhadap orang kafir asli selain orang kafir murtad, karena orang kafir murtad asalnya dia adalah muslim. Maka menyampaikan dakwah kepada orang kafir asli merupakan perkara yang tetap. oleh karena itu : “ hukum bagi orang yang murtad dari Islam sebagaimana hukum kafir harbi yang telah sampai dakwah padanya.” ( Fathul Bari, 12/269).

Maka tidak kosong permasalahan orang-orang murtad dari dua keadaan antara lain :

            Pertama : Bila status orang murtad tersebut berada dalam genggaman kekuasaan pemerintah Islam (maqdur ‘alaihi) sehingga dimungkinkan ditegakan hukum had kepadanya karena tetapnya bayyinah atau dengan ikrar.

Maka permasalahan ini menurut pendapat jumhur wajib diperintahkan untuk bertaubat (istitabah). (berkata syeikh al-Islam ibnu Tamiyah –rahimahulloh- : dibedakan mengenai orang-orang murtad : dibunuh bila tidak mau bertaubat ini kaitan dengan “Riddah al-Mujarroddah”. Dibunuh tanpa diminta untuk bertaubat ini kaitan dengan “Riddah al-Mughaladzah” (Majmu al-Fatawa, 20/103).

Mereka (murtad) diminta untuk bertaubat sebelum dibunuh, jika mereka bertaubat jika menolak maka dibunuh.

Taubatnya orang murtad karena dikembalikan kepada kekafiran dia setelah beriman, maka bab yang telah mengeluarkan dia dari Islam, yakni bab yang mengharuskan untuk kembali bersyahadat.

            Kedua : Bila keadaan orang murtad tersebut mumtani (berlindung) dibawah kekuasaan dan kekuatan Negara kafir harbi, yakni negeri yang meninggikan hukum-hukum selain hukum Islam sebagaimana penjelasan yang telah lewat pembahasannya : maka tidak diberlakukan taubat pada orang murtad yang mumtanie’ sebagaimana telah dijelaskan pembahasannya.

            Berkata Syeikh al-Islam ibnu Taimiyah –rahimahulloh- : orang murtad seandainya dia mumtanie’ (meminta perlindungan) kepada Negara kafir harbi atau orang-orang murtad lainnya, dengan menyusun kekuatan sendiri keluar dari aturan hukum Islam, maka mereka diperangi sebelum dimintai taubat tanpa ada perselisihan lagi tentangnya. (Ash-Sharimu al-Maslul, karya. Ibnu Taimiyah, 3/601)

            Dan Syeikh al-Islam ibnu Taimiyah –rahimahulloh- menjelaskan kaidah tentang : “Al-Mumtanie tidak dimintai taubat, taubat hanya diminta bagi orang yang maqdur ‘alaihi.” (Ash Sharim al-Maslul, karya ibnu Taimiyah, 3/610)

            Berkata ibnu Qudamah al-Maqdisi –rahimahulloh- : “seandainya orang kafir murtad mumtanie kepada negeri kafir harbi boleh membunuhnya tanpa diminta untuk bertaubat, diambil hartanya bagi siapa saja yang mampu untuk mengambilnya, dikarenakan status dia telah menjadi kafir harbi, hukum yang diberlakukan padanya seperti halnya kafir harbi.

            Oleh karena itu orang yang murtad dari jama’ah Islam lalu dia mumtani’ ke negeri mereka yang kafir harbi, dengan keluar ketaatan kepada Imam kaum muslimin : maka lenyaplah perlindungan baginya, nyawanya dan hartanya karena orang kafir asli asalnya tidak ada jaminan perlindungan baginya di negeri mereka. Maka orang murtad yang pertama (lepas jaminan).( Al-Mughni, 9/20).

            Berkata ibnu Muflih –rahimahulloh- mengenai hukum orang murtad setelah disuruh untuk bertaubat, namun yang menegakan had kepada si murtad tersebut selain imam atau wakilnya, beliau berkata : jikalau yang membunuhnya selain Imam atau wakilnya tanpa seizinnya ini suatu kejahatan, namun menghukumnya karena di dasari keputusan diatas Imam atau wakilnya maka tetap si murtad yang dibunuh tidak ada jaminan darinya maksudnya : dari si pembunuh karena pada dasarnya si murtad tidak terjaga baik dibunuhnya sebelum diminta taubat ataupun setelah diminta taubat, karena ditumpahkan darahnya pada umumnya, sehingga dengan sebab kemurtadannya menjadi halalah (mubah) darahnya, yakni diwujudkannya sebelum dia bertaubat atau sesudah bertaubat. Jika dia bergabung dengan negeri kafir harbi maka boleh masing-masing kaum muslimin mencarinya untuk membunuhnya tanpa diminta untuk bertaubat, dan diambil seluruh hartanya. (Al-Mabda’u, 9/175, pembahasan semisal di dalam Kasyafu al-Qina’ , 6/175).

            Berkata ibnu Abidin –rahimahulloh- beliau menerangkan tentang memerangi orang bughot (memberontak dari kepimpinan Islam) : ( Bila memeranginya tanpa mendakwahinya terlebih dahulu maka hukumnya boleh, dikarenakan mereka dianggap telah mengetahui diatas dasar apa mereka diperangi seperti halnya memerangi orang-orang murtad. Sedangkan terhadap kafir harbi telah disampaikan dakwah.),(Al-Hasyiah. 4/264, pembahasan semisal dengan sempurna di bahas dalam kitab Al-Mabsuth, karya. AsSarkhosi, 10/128).

            Berkata AsSarkhosi –rahimahulloh- : (Tidak ada jaminan apapun walaupun sedikit terhadap orang-orang murtad yang telah di perangi (dibunuh) sebelum mendakwahi mereka kepada Islam, dikarenakan kedudukannya sebagai halnya orang kafir yang telah sampai dakwah padanya. Maka jika memerangi setelah dakwah kepadanya maka itu baik, namun apabila memerangi sebelum dakwah kepadanyapun baik pula.). (Al-Mabsuth, 10/120).

            Ijma yang di pegang oleh para ahli ilmi bahwa tidak ada lagi perselisihan yang menghambat, bahwa orang-orang murtad tidak diterima darinya selain kembali kepada Islam dengan taubat karena dia telah kafir atau dibunuh sebagai hukuman baginya.

            Berkata Al-Qurthubi –rahimahulloh- : (firman Alloh dalam surat Al-Baqarah,: 190) :

…..تَعْتَدُوٓا۟ وَلَا…..

“dan janganlah melampaui batas…”

Dikatakan mengenai takwilnya apa yang telah lewat pembahasannya (maksudnya jangan melampaui batas dengan membunuh orang kafir dari kalangan wanita-wanita dan anak-anak mereka, serta yang sejenisnya ) yakni  muhkam. Adapun orang-orang murtad tidak ada selain dibunuh atau taubat, begitupun juga orang-orang yang membantah al-Haq dan pemuka-pemuka kesesatan (kekafiran, kemusyrikan) tidak ada kecuali dibunuh dengan pedang (senjata) atau bertaubat…..).(Tafsir Al-Qurthubi, 2/350).

            Telah dikatakan oleh ibnu Nujaim al-Hanafi –rahimahulloh- ( bahwa orang-orang musyrik Arab, dan orang-orang murtad tidak diterima dari mereka jizyahnya bahkan mereka harus masuk Islam atau pedang. Maka tidak boleh di do’akan, dan diseru awalnya, karena ketiadaan faidah bagi mereka) (Al-Bahru ArRaieq, 5/81).

             Di dalam fatawa AsSaghadie : ( jika disampaikan dakwah kepada mereka maka itu baik (utama) ( ini merupakan perkara istihsan secara akal yang dimaksud secara mutlak (umum) sebagaimana telah tsabit dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dan telah lewat maknanya bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengajak atau mendakwahi mereka dan meninggalkan dakwah terhadap mereka, oleh karena itu perkara ini hanyalah permasalah afdhaliyah (keutamaan). Maka tidak ada seorangpun yang bisa mengungguli keutamaan beliau Shallallahu alaihi wa sallam yang diutus dengan petunjuk dan din yang haq shalawat dan salam dari Alloh baginya dan perkara ini juga diikuti juga oleh para sahabat beliau seluruhnya –semoga Alloh meridhoi mereka- . Dan telah lewat perkataan dari Abu Utsman An Nahd : “kami berperang, berdakwah, dan meninggalkan dakwah.” Maka perhatikanlah perkara ini adalah perkara afdholiyah bukan din secara akal, khususnya dengan merujuk juga kepada sunnah dan penjelasannya. Maka perkara afdholiyah ini adalah perkara yang pernah dilaksanakan oleh Rassulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam dakwahnya sesekali, dan sesekali juga beliau meninggalkan dakwah. Kaidah ini adalah kaidah yang umum pada setiap perkara yang telah tetap dari beliau –shallallahu alaihi wa sallam- didalamnya banyak bentuk dan tempat (umum) dimana tidak ada perkara yang sukar dan sulit di dalam setiap tempat.). maka yang utama adalah mendakwahi mereka, namun jika  tidak mendakwahi juga maka itu juga boleh. Jika dakwah telah disampaikan kepada mereka dan belum sampainya dakwah kepada mereka maka dikembalikan kepada perintah membayar jizyah dengan mengabaikan dakwah Islam : karena kaidah asal dikembalikan kepada kewajiban membayar jizyah. Jika mereka melaksanakan dengan membayar jizyah maka mereka dibiarkan kecuali orang-orang murtad dan orang musyrik Arab diterima dari mereka kecuali masuk Islam.).( Fatawa Assaghadiey, 2/709).

            Berkata Syeikh Islam ibnu Taimiyah –rahimahulloh- : (orang-orang murtad diperangi atau masuk Islam, tidak diterima darinya jizyah.).(Minhaj Sunnah AnNabawiyyah, 8/509)

Permasalahan keempat : Disyari’atkannya Ightiyalat terhadap orang kafir yang diperangi.

  Alloh Ta’ala berfirman :

فَإِذَا ٱنسَلَخَ ٱلْأَشْهُرُ ٱلْحُرُمُ فَٱقْتُلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدتُّمُوهُمْ وَخُذُوهُمْ وَٱحْصُرُوهُمْ وَٱقْعُدُوا۟ لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍۢ ۚ فَإِن تَابُوا۟ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُا۟ ٱلزَّكَوٰةَ فَخَلُّوا۟ سَبِيلَهُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ

“Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, Maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, Maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang..” (QS. At Taubah : 5).

Berkata ibnu Katsier –rahimahulloh- firman Alloh Ta’ala :

وَٱحْصُرُوهُمْ وَٱقْعُدُوا۟ لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍۢ

Maksudnya : ( janganlah merasa cukup dengan hanya mendapatkan mereka, namun ( lebih dari itu) kepunglah mereka di rumah-rumah mereka dan benteng mereka. Dan intailah mereka di setiap jalan yang biasa mereka lalui, sehingga mereka merasakan kesempitan dan terpaksa memilih diantara dua pilihan, perang atau masuk Islam.).( Tafsir ibnu Katsir, 2/337).

Berkata ibnu Jarir –rahimahulloh- mengenai firman Alloh :

وَٱحْصُرُوهُمْ وَٱقْعُدُوا۟ لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍۢ

Berkata (dikatakan : intailah mereka dalam rangka untuk memerangi mereka ditempat-tempat pengintaian, di setiap jalan yang mereka lalui, yakni : di setiap jalan yang bisa kita mengawasi, mengintai mereka sebagaimana ada yang berkata : maksudnya : mengintai. ( Tafsir AtThabari, 10/78).

            Berkata Syeikh AsSa’di –rahimahulloh- mengenai firman Alloh Ta’ala :

وَٱحْصُرُوهُمْ وَٱقْعُدُوا۟ لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍۢ

                “dan intailah (mereka) ditempat pengintaian “ (QS. AtTaubah :5)

Maksudnya : di setiap kesempatan dan tempat yang mereka lewati, bersiap siagalah dalam berjihad melawan mereka, keluarkan segala usahamu dalam hal ini. Dan teruslah bersikap demikian kepada mereka sampai mereka bertaubat dari kesyirikan mereka.” (Tafsir AsSa’di, : 221).

            Maka maksud firman Alloh Ta’ala :

وَٱحْصُرُوهُمْ وَٱقْعُدُوا۟ لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍۢ

Maksudnya : intailah mereka dari mana saja kalian bisa mengintai mereka. (Tafsir Al-Baghawie, 2/269)

            Ayat diatas merupakan nash diperintahkannya ightiyalat, perintah untuk melakukan, memotivasi kepada umat agar melaksanakan perintah Alloh berupa perintah ightiyalat dengan menyediakan sarana pendukung berupa kekuatan –yakni- nash ini merupakan nash disyariatkannya menyerang membunuh orang-orang kafir dengan tiba-tiba di setiap jalan yang mereka lalui.

            Berkata ibnu Al-Arobi –rahimahulloh- mengenai firman Alloh Ta’ala :

وَٱحْصُرُوهُمْ وَٱقْعُدُوا۟ لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍۢ

                Telah berkata para ulama kami : (dalil diatas, yakni surat AtTaubah ayat 5 adalah dalil bolehnya mengadakan ightiyalat (pembunuhan secara mendadak ) terhadap orang kafir sebelum mendakwahinya.).(Ahkamu al-Qura’an 2/457).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s