Lanjutan Terjemahan kitab Al-Haqaiq Mengenai Tauhid Pengarang Fadhilatu AsySyaikh Ali bin Hudair al-Khudair

Lanjutan Terjemahan kitab Al-Haqaiq

Mengenai Tauhid

Pengarang

Fadhilatu AsySyaikh Ali bin Hudair al-Khudair

Alih Bahasa : Abu Syamil Dhiya’ul Haq

Maka tidak setiap divonis semua hukum perbuatan kafir (kecuali setelah tegak hujjah atasnya ) karena hukum selain hukum yang lain.

16. Bab Al-Fathroh.

Alloh Ta’ala berfirman :

يَٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ قَدْ جَآءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ عَلَىٰ فَتْرَةٍۢ مِّنَ ٱلرُّسُلِ أَن تَقُولُوا۟ مَا جَآءَنَا مِنۢ بَشِيرٍۢ وَلَا نَذِيرٍۢ ۖ فَقَدْ جَآءَكُم بَشِيرٌۭ وَنَذِيرٌۭ ۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌۭ

 

“Hai ahli Kitab, Sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari’at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) Rasul-rasul agar kamu tidak mengatakan: “tidak ada datang kepada Kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan”. Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Al-Maidah : 19)

 

Berkata Ibnu Abbas dalam hadits Al-Bukhari tentang kaumnya Nabi Nuh –alaihis sallam- berkata, sampai ketika para ulama mereka mati, ilmu syariat dilupakan, maka merekapun disembah.

Dan dalam hadits Hudzaifah secara marfu’: “Sesungguhnya Islam ini akan lenyap sebagaimana lenyapnya celupan pada baju sehingga (diantara mereka) ada yang tidak mengetahui kewajiban shaum, kewajiban berkurban dan kewajiban zakat.” ( Hadits shohih, yang dishohihkan oleh ibnu Majah dan ada tambahan “dan mereka  tidak mengetahui kewajiban shalat.”

 

Berkata ibnu Taimiyah, “ Apabila ilmu dan kehendak telah melemah maka masa pada waktu itu menjadi masa Fatrah.” (Al-Fatawa)

Beliau berkata juga, “ Barangsiapa yang belum sampai kepadanya dakwah para rasul seperti kepada anak kecil, orang gila, orang yang mati pada jaman Fatroh murni maka kelak mereka di hari kiamat akan diuji sebagaimana pembahasannya telah lewat.” (Al-Fatawa, 14/477)

Beliau berkata juga, “Dan sungguh telah diriwayatkan atsar yang tidak terhitung mengenai orang yang belum sampai kepadanya risalah Nabi didunia maka (kelak di akhirat) akan diutus kepadanya seorang rasul (utusan) di arashat pada hari kiamat (akhir).” (Al-Fatawa, 17/308).

Berkata juga beliau, “akan tetapi kadang-kadang risalah kenabian tersamar disebagian tempat, dan jaman sehingga mereka tidak mengetahui perkara yang telah datang dari seorang rasul, yakni Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, baik mereka tidak mengetahui lafadz atau telah mengetahui lafadz, ataupun mereka tidak mengetahui suatu makna. Maka pada saat itu keadaannya berubah menjadi jaman jahiliyyah.” Al-Fatawa, 17/307.

Berkata juga beliau, “Apabila ilmu telah menjadi sakit, nampaknya kebodohan dan kejumudan, dan apabila telah sedikit atsar, telah nampaknya hawa nafsu, oleh karenanya fitnah telah diserupakan seperti halnya malam yang gelap gulita. Dan karena inilah Al-Imam Ahmad berkata dalam khutbah : “segala puji hanya kepunyaan Alloh yang telah menjadikan pada tiap masa fatroh tersisa dari kalangan orang-orang yang berilmu (ulama) (Al-Fatawa, 17/308).

Berkata anak Syeikh Muhammad bin Abdil Wahhab dan Syeikh Hammad bin Nashir dan Syeikh Abdul Aziz Al-Hushein, mereka berkata : para ulama telah menuturkan bahwa orang-orang yang hidup pada jaman fatroh pada hari kiamat mereka akan di uji di’arasoh dan mereka tidak dihukumi selaku orang-orang kafir dan tidak pula dihukumi sebagai orang-orang yang berbuat kebaikan. (AdDuror, 10/137, Risalah Wal Masail, 5/576).

Berkata Aba Buthain, “adapun hukum orang yang mati pada jaman fatroh yang kepada mereka belum sampai dakwah rasul maka Alloh Maha Mengetahui mengenai mereka dan penamaan fatroh tidak dikhususkan pada umat tertentu.

Berkata Imam Ahmad dalam khutbahnya kepada Zanadiqoh dan jahmiah : segala puji hanya kepunyaan Alloh yang telah menjadikan pada tiap-tiap jaman masa fatroh dari para rasul tersisa padanya orang-orang dari kalangan ahli ilmu, diriwayatkan perkataan ini dari Umar bin Khaththab. – semoga Alloh meridhoinya –

Berkata ibnu Qayyim –sungguh telah disepakati dari kalangan para aimmah dakwah dan mereka telah menukilkannya di dalam kitab-kitab mereka –yang dijadikan kaidah asal dari kaidah-kaidah bahwa ditegakannya hujjah (qiyamul hujjah) (maksudnya dibangun dengannya pengkafiran pembunuhan, peperangan dan sebagainya ) berbeda-beda tergantung jaman dan waktu, sosok pribadi. Maka Alloh telah menegakan hujjah takfir kepada orang kafir pada suatu jaman namun pada jaman lain tidak pada suatu tempat. Sebagaimana pula berbeda pada masing-masing pribadinya, karena disebabkan tiada akal, tayiz, seperti halnya anak kecil, orang gila, begitupun juga tidak adanya kepahaman di sebabkan tidak memahami apa yang dikatakan serta tidak adanya penerjemah baginya. Termasuk bagian ini pula orang-orang yang tuli yang tidak mampu mendengar sesuatu, dan salah seorang yang dari empat golongan yang tidak mempunyai kemampuan yang telah ditunjukan dalilnya oleh Alloh berupa hujjah terhadap mereka nanti pada hari kiamat sebagaimana dalam hadits Aswad dan Abu Hurairah serta selainnya. (Ath thabaqat).

Para Aimmah AdDa’wah telah sepakat bahwa pada jaman Syeikh Muhammad bin Abdil Wahhab dan Syeikh Islam ibnu Taimiyah adalah jaman fatroh dan jaman merebaknya kebodohan.

17. Bab Barangsiapa yang mengerjakan kemusyrikan asli, yahudi atau Nashrani dan selain dari mereka dari millah kekafiran yang dikaitkan kepada mereka.

( tetapnya penamaan musyrik atas mereka )

 

Alloh Ta’ala berfirman :

وَأَنْ أَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًۭا وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

 

“ Dan (aku telah diperintah): “Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang musyrik.” ( QS. Yunus : 105).

 

Alloh Ta’ala berfirman :

وَدُّوا۟ لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا۟ فَتَكُونُونَ سَوَآءًۭ ۖ فَلَا تَتَّخِذُوا۟ مِنْهُمْ أَوْلِيَآءَ حَتَّىٰ يُهَاجِرُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَخُذُوهُمْ وَٱقْتُلُوهُمْ حَيْثُ وَجَدتُّمُوهُمْ ۖ وَلَا تَتَّخِذُوا۟ مِنْهُمْ وَلِيًّۭا وَلَا نَصِيرًا

 

“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong”, ( QS AnNisa’ : 89).

Alloh Ta’ala berfirman :

وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ قَالُوا۟ سَمِعْنَا وَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ

 

“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (munafik) vang berkata “Kami mendengarkan, Padahal mereka tidak mendengarkan.” ( QS Al Anfaal : 21 )

Alloh Ta’ala berfirman :

* ۞ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ ٱلْيَهُودَ وَٱلنَّصَٰرَىٰٓ أَوْلِيَآءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍۢ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُۥ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلظَّٰلِمِينَ

 

“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu Termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” ( QS Al Maidah : 51 )

 

Dan dari Ibnu Umar hadits marfu :

“ Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum itu.” ( HR. Abu Dawud ).

Dan dari Abi Sa’ied, hadits marfu :

“Kalian benar-benar akan mengikuti tradisi umat-umat sebelum kalian maka disebutkan Yahudi dan Nashrani.” ( Muttafaq Alaihi ).

 

Berkata ibnu Taimiyah : mengenai orang yang mengatakan ayat-ayat yang turun khusus hanya bagi yang berkenaan dengannya saja tidak mencakup bentuk atau yang semisal, maka beliau berkata : seorang muslim tidak boleh mengatakan bahwa ayat dzihar tidak diberlakukan kecuali hanya kepada Aus bin shamit, dan tidak pula ayat li’an tidak diberlakukan kecuali kepada Ashim bin Adi, dan mencela orang kafir tidak diberlakukan kecuali kepada orang kafir quraisy dan yang semisal dengannya yang seharusnya tidak dikatakan oleh seorang muslim yang berakal. (Al-Fatawa, 16/148).

Berkata Abu Buthain : Adapun perkataan orang yang mengatakan bahwa ayat yang diturunkan berkenaan dengan orang musyrik pada masa awal tidak mencakup kepada orang-orang musyrik yang hidup pada masa sekarang maka ucapan ini merupakan kekafiran yang besar. Ditegakannya hudud bagi manusia sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Quran hanya berlaku pada manusia jaman dulu? Maka ucapan seperti ini yang meniadakan hukum had bagi pezina dan pencuri maka dia telah membathilkan Al-Quran. (AdDuror : 10/418).

18. Bab. Kaitan penamaan kafir yang bermakna kesyirikan walaupun belum ditegakkan hujjah

 

وَصَدَّهَا مَا كَانَت تَّعْبُدُ مِن دُونِ ٱللَّهِ ۖ إِنَّهَا كَانَتْ مِن قَوْمٍۢ كَٰفِرِينَ

 

“Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya), karena Sesungguhnya Dia dahulunya Termasuk orang-orang yang kafir.” ( QS AnNaml : 43 )

Dan telah disebutkan pada ayat sebelumnya :

وَجَدتُّهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيْطَٰنُ أَعْمَٰلَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ ٱلسَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ

 

“Aku mendapati Dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk,” ( QS AnNaml : 24 )

Alloh Ta’ala berfirman :

مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَن يَعْمُرُوا۟ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ شَٰهِدِينَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِم بِٱلْكُفْرِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَٰلُهُمْ وَفِى ٱلنَّارِ هُمْ خَٰلِدُونَ

 

“ Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka.” (QS AtTaubah : 17 ).

 

Alloh Ta’ala berfirman :

إِنَّمَا ٱلنَّسِىٓءُ زِيَادَةٌۭ فِى ٱلْكُفْرِ ۖ يُضَلُّ بِهِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ يُحِلُّونَهُۥ عَامًۭا وَيُحَرِّمُونَهُۥ عَامًۭا لِّيُوَاطِـُٔوا۟ عِدَّةَ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ فَيُحِلُّوا۟ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ ۚ زُيِّنَ لَهُمْ سُوٓءُ أَعْمَٰلِهِمْ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْكَٰفِرِينَ

 

“ Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan Haram itu adalah menambah kekafiran. disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, Maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (syaitan) menjadikan mereka memandang perbuatan mereka yang buruk itu. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.( QS At Taubah : 37 ).

 

Alloh Ta’ala berfirman :

وَمَن يَدْعُ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ لَا بُرْهَٰنَ لَهُۥ بِهِۦ فَإِنَّمَا حِسَابُهُۥ عِندَ رَبِّهِۦٓ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُفْلِحُ ٱلْكَٰفِرُونَ

 

“ Dan Barangsiapa menyembah Tuhan yang lain di samping Allah, Padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, Maka Sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.”  ( QS Al-Mu’minuun, : 117)

Alloh Ta’ala berfirman :

لَهُۥ دَعْوَةُ ٱلْحَقِّ ۖ وَٱلَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِهِۦ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُم بِشَىْءٍ إِلَّا كَبَٰسِطِ كَفَّيْهِ إِلَى ٱلْمَآءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَٰلِغِهِۦ ۚ وَمَا دُعَآءُ ٱلْكَٰفِرِينَ إِلَّا فِى ضَلَٰلٍۢ

 

“ Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, Padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.” (QS Ar-Ra’d : 14)

 

Berkata Syeikh Abdul Lathif dalam al-Minhaj At Ta’sis, hal. 320, berkata : sebagaimana yang dihukumi oleh dua syeikh, yakni ibnu Taimiyah dan ibnu Qayyim –mengenai kekafiran atau kemusyrikannya seseorang telah ditetapkan oleh Alloh, Rasulnya dan seluruh dari kalangan ahli ilmu.

Telah berkata syeikh Ishaq dalam kitabnya Takfir Mu’ayyan, ( mereka orang-orang musyrik ) menyeru, meminta kepada penghuni kuburan, dan meminta tolong kepadanya maka seluruh kaum muslimin sepakat tidak ada perselisihan lagi mengenai kemusyrikan dan kekafiran mereka sebagaimana yang telah di hikayatkan oleh Syeikhul Islam ibnu Taimiyah dan beliau menjadikan perkara ini perkara yang tidak ada perbedaan lagi akan kekafiran didalamnya.

Berkata Syeikh Abdullah dan Ibrahim anak dari Syeikh Abdul Lathif dan ibnu Sahman : adapun meminta – minta kepada  kuburan orang-orang shalih, meminta tolong kepada mereka yang sudah mati dan mengadukan permasalahannya dan kesusahannya kepada mereka maka seluruh kaum muslimin telah sepakat tidak ada lagi perselisihan bahwa mereka telah melakukan syirik besar maka tidak ada dua pendapat yang berbeda mengenai kekafiran mereka (Fatawa, para Imam Nejd, 3/66).

19. Bab. Penamaan Riddah ( Murtad ) yang disebabkan oleh kesyirikan tidak ada kaitannya dengan ditegakannya hujjah sebagaimana yang telah lalu ( pembahasannya ) tentang penamaan kafir.

 

            Dan dari ibnu Abbas, hadits marfu’:

“Barangsiapa yang menggantikan agamanya ( Murtad ) maka bunuhlah.” ( HR. Bukhari )

 

Dan dari Tsauban, hadits marfu’ :

“Tidak akan terjadi kiamat sampai suatu kabilah dari umatku menjadi musyrik dan suatu kabilah dari umatku menyembah berhala.” ( HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al-Hakim )

 

Berkata Syeikh Muhammad bin Abdil Wahhab dalam kitab AdDuror, 8/118, menuturkan kemurtadan mereka dan penggolongan dari mereka, maka ada diantara mereka yang murtad karena disebabkan mendustakan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sehingga mereka kembali menyembah berhala. Dan ada diantara mereka yang murtad karena meyakini kenabian Musailamah al-Kadzdzab karena sangkaan bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berserikat dalam masalah kenabian dengannya. Dan Musailamahlah yang sebenarnya bersaksi palsu tentangnya sehingga ucapannya dibenarkan oleh seluruh manusia maka ulama telah sepakat bahwa mereka telah murtad walaupun diantara mereka ada orang-orang yang jahil ( bodoh ) dan barang siapa yang meragukan kemurtadan mereka maka dia kafir.

Ijma para fuqoha dalam bab kafir apabila dia dihukumi murtad dengan sebab kesyirikan maka dia dihukumi murtad walaupun dia bodoh ( jahil ).

20. Bab Diasandangkan penamaan sifat “mengada-ngada” walaupun belum ditegakan hujjah kepadanya.

Alloh Ta’ala berfirman :

وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًۭا ۚ قَالَ يَٰقَوْمِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۥٓ ۖ إِنْ أَنتُمْ إِلَّا مُفْتَرُونَ

 

“ Dan kepada kaum ‘Ad (kami utus) saudara mereka, Huud. ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. kamu hanyalah mengada-adakan saja.” ( QS Huud, : 50 )

 

            Berkata ibnu Taimiyah mengenai ayat ini : “Alloh telah menjadikan mereka sebagai orang-orang yang mengada-ngada sebelum ditegakannya hukum dengan hukum yang menyelisihinya dikarenakan mereka dahulu menjadikan sembahan selain Alloh.” ( Al-Fatawa, 20/38).

Alloh Ta’ala berfirman :

وَكَذَٰلِكَ زَيَّنَ لِكَثِيرٍۢ مِّنَ ٱلْمُشْرِكِينَ قَتْلَ أَوْلَٰدِهِمْ شُرَكَآؤُهُمْ لِيُرْدُوهُمْ وَلِيَلْبِسُوا۟ عَلَيْهِمْ دِينَهُمْ ۖ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

 

“ Dan Demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan bagi mereka agama-Nya[509]. dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggallah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” ( QS Al-An’aam, 137 )

 

Alloh Ta’ala berfirman :

وَقَالُوا۟ هَٰذِهِۦٓ أَنْعَٰمٌۭ وَحَرْثٌ حِجْرٌۭ لَّا يَطْعَمُهَآ إِلَّا مَن نَّشَآءُ بِزَعْمِهِمْ وَأَنْعَٰمٌ حُرِّمَتْ ظُهُورُهَا وَأَنْعَٰمٌۭ لَّا يَذْكُرُونَ ٱسْمَ ٱللَّهِ عَلَيْهَا ٱفْتِرَآءً عَلَيْهِ ۚ سَيَجْزِيهِم بِمَا كَانُوا۟ يَفْتَرُونَ

 

“Dan mereka mengatakan: “Inilah hewan ternak dan tanaman yang dilarang; tidak boleh memakannya, kecuali orang yang Kami kehendaki”, menurut anggapan mereka, dan ada binatang ternak yang diharamkan menungganginya dan ada binatang ternak yang mereka tidak menyebut nama Allah waktu menyembelihnya, semata-mata membuat-buat kedustaan terhadap Allah. kelak Allah akan membalas mereka terhadap apa yang selalu mereka ada-adakan. ( QS Al-An’aam, : 138 )

Maka Alloh menamakan mereka sebagai orang yang mengada-ngada sebelum risalah.

21. Bab disandangnya penamaan Ghoflah ( lalai ) dan di nafikan hidayah walaupun belum tegak hujjah.

 

Alloh Ta’ala berfirman :

لِتُنذِرَ قَوْمًۭا مَّآ أُنذِرَ ءَابَآؤُهُمْ فَهُمْ غَٰفِلُونَ

 

“ Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai.” ( QS Yasin, : 6 ).

 

Maka Alloh menamakan nenek moyangnya mereka dalam keadaan Goflah ( lalai ) walau belum tegak hujjah pada mereka.

Alloh Ta’ala berfirman :

أَمْ يَقُولُونَ ٱفْتَرَىٰهُ ۚ بَلْ هُوَ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ لِتُنذِرَ قَوْمًۭا مَّآ أَتَىٰهُم مِّن نَّذِيرٍۢ مِّن قَبْلِكَ لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ

 

“ Tetapi mengapa mereka (orang kafir) mengatakan: “Dia Muhammad mengada-adakannya.” sebenarnya Al-Quran itu adalah kebenaran dari Rabbmu, agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka orang yang memberi peringatan sebelum kamu; Mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk.” ( QS AsSajdah, 3 ).

Alloh menafikan petunjuk atas nenek moyang mereka sedangkan mereka hidup pada jaman Fatroh.

 

22. Bab disandangnya penamaan Thugyan ( melampaui batas ), dzalim, sombong, dan penamaan sifat orang-orang yang melakukan kerusakan walau belum tegak hujjah.

Alloh Ta’ala berfirman :

ٱذْهَبْ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ

 

“Pergilah kamu kepada Fir’aun, Sesungguhnya Dia telah melampaui batas, ( QS AnNazi’at : 17 ).

 

Alloh Ta’ala berfirman :

وَإِذْ نَادَىٰ رَبُّكَ مُوسَىٰٓ أَنِ ٱئْتِ ٱلْقَوْمَ ٱلظَّٰلِمِينَ

“ Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu menyeru Musa (dengan firman-Nya): “Datangilah kaum yang zalim itu,” ( QS Asy-Syu’araa’ : 10 ).

 

Alloh Ta’ala berfirman :

إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِى ٱلْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًۭا يَسْتَضْعِفُ طَآئِفَةًۭ مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَآءَهُمْ وَيَسْتَحْىِۦ نِسَآءَهُمْ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلْمُفْسِدِينَ

 

“ Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun Termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS Al-Qashas, : 4 )

Telah berkata ibnu Taimiyah : “Maka Alloh menamakan dia sebagai orang yang melampaui batas, dzalim, mufsid sebelum datangnya Musa alaihisallam” ( Al-Fatawa : 20/37 ).

23. Bab disandangnya penamaan dzalim walaupun belum ditegakan hujjah.

 

            Alloh Ta’ala berfirman :

هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًۭا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍۢ مُّبِينٍۢ

 

“ Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,” ( QS Al-Jumah : 2 )

Alloh Ta’ala berfirman :

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُوا۟ فَضْلًۭا مِّن رَّبِّكُمْ ۚ فَإِذَآ أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَٰتٍۢ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ عِندَ ٱلْمَشْعَرِ ٱلْحَرَامِ ۖ وَٱذْكُرُوهُ كَمَا هَدَىٰكُمْ وَإِن كُنتُم مِّن قَبْلِهِۦ لَمِنَ ٱلضَّآلِّينَ  

 

“ Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam. dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan Sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar Termasuk orang-orang yang sesat.” (QS Al-Baqarah : 198 )

 

 

            Alloh Ta’ala berfirman :

إِنَّهُمْ أَلْفَوْا۟ ءَابَآءَهُمْ ضَآلِّينَ 

69. “Karena Sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam Keadaaan sesat.”

 

  فَهُمْ عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِمْ يُهْرَعُونَ

70. “Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka itu.”

( QS Asaffat, : 69-70 ).

Maka Alloh menamakannya sebagai orang-orang yang dzalim sebelum risalah.

Alloh Ta’ala berfirman :

قَالَ لَقَدْ كُنتُمْ أَنتُمْ وَءَابَآؤُكُمْ فِى ضَلَٰلٍۢ مُّبِينٍۢ

 

“ Ibrahim berkata: “Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata”. ( QS Al-Anbiyaa’ : 54 ).

Alloh Ta’ala berfirman :

وَوَجَدَكَ ضَآلًّۭا فَهَدَىٰ  

 

“ Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung lalu Dia memberikan petunjuk.” ( QS AdDhuha, : 7 )

Alloh Ta’ala berfirman mengenai Musa alaihi washalatu wasallam :

قَالَ فَعَلْتُهَآ إِذًۭا وَأَنَا۠ مِنَ ٱلضَّآلِّينَ

 

“ Berkata Musa: “Aku telah melakukannya, sedang aku di waktu itu Termasuk orang-orang yang khilaf.” ( QS Asy-Syu’ara, : 20 )

Dan dari Abdillah bin Zaid –semoga Alloh meridhoinya- hadits marfu mengenai kisah didalamnya “Tidakkah aku telah mendapati kalian dalam kesesatan maka Alloh memberikan petunjuk kepada kalian.” ( HR. Muttafaq alaihi ) maka dinamai mereka sebagai orang-orang yang dzalim sebelum datang kepada mereka risalah.

Berkata Amru bin Abasah, “ kamu dan aku dulu pernah hidup pada masa jahiliyyah, aku mengira semua manusia dahulu diatas kejahiliyyahan.” ( HR. Muslim ).

24. Bab disandangnya penamaan Al-Fahisyah (orang yang melakukan kekejian ) walaupun belum ditegakan hujjah atasnya.

 

            Alloh Ta’ala berfirman :

وَإِذَا فَعَلُوا۟ فَٰحِشَةًۭ قَالُوا۟ وَجَدْنَا عَلَيْهَآ ءَابَآءَنَا وَٱللَّهُ أَمَرَنَا بِهَا ۗ قُلْ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَأْمُرُ بِٱلْفَحْشَآءِ ۖ أَتَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

 

“ Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: “Kami mendapati nenek moyang Kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh Kami mengerjakannya.” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.” mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” ( QS Al-A’raaf : 28 ).

 

Alloh Ta’ala berfirman :

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِۦٓ أَتَأْتُونَ ٱلْفَٰحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنْ أَحَدٍۢ مِّنَ ٱلْعَٰلَمِينَ

 

“ Dan (kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (ingatlah) tatkala Dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” ( QS Al-A’raaf : 80 )

 

            Ibnu Taimiyah berkata : “Ayat diatas telah menunjukan bahwa mereka dahulu telah melakukan kekejian yang menurut mereka sebelum datangnya risalah berupa larangan dari perbuatannya oleh karena itu Luth berkata kepada mereka “ Sesungguhnya kalian telah melakukan perbuatan homoseksual dengan mendatangi seorang lelaki oleh lelaki, menyamun, dan melakukan perbuatan yang mungkar.”

Petunjuk dalil diatas menjadi bukti yang jelas akan jeleknya perbuatan mereka sehingga setelah kedatangan Luth mereka diperingati oleh adzab.” ( Al- Fatawa, 11/680 ).

 

25. Bab disandangnya penamaan sifat murka sebelum diutusnya para utusan sebelum ditegakannya hujjah.

 

            Dari Iyadh bin Himar –semoga Alloh meridhoinya- hadits marfu’ : Sesungguhnya Alloh telah melihat kepada seluruh penduduk di muka bumi sehingga Alloh murka kepada penduduk arab mereka dan non arab dari mereka kecuali yang tersisa dari para ahli kitab.”( HR. Muslim )

 

 

26. Bab disandangnya penamaan jahiliyyah walaupun sebelum ditegakannya hujjah.

 

Alloh Ta’ala berfirman :

وَقَرْنَ فِى بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ ٱلْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتِينَ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَطِعْنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ ٱلرِّجْسَ أَهْلَ ٱلْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًۭا

 

“ Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” ( QS Al- Ahzab : 33 )

 

            Alloh Ta’ala berfirman :

أَفَحُكْمَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكْمًۭا لِّقَوْمٍۢ يُوقِنُونَ

 

“ Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?” ( QS Al Maa’idah : 50 )

Maka Alloh menamakan mereka sebagai orang-orang jahiliyyah walaupun belum dating risalah kenabian kepada mereka.

Dan dari Sa’ied bin Jubair dari ibnu Abbas berkata : “Apabila kamu menginginkan mengetahui kehidupan jahiliyyah maka bacalah ayat dari 130 dari surat Al-An’aam : “Sungguh telah merugi orang-orang yang telah membunuh anak-anak mereka” – sampai pada perkataan firman Alloh – “Sungguh telah sesat mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.” (HR. Bukhori )

 

            Berkata Amru bin Abasah : “kamu dan saya dahulu kala pernah hidup pada jaman jahiliyyah dan aku mengira bahwa manusia berada dalam keadaan sesat dan mereka tidak berada di atas apapun ( tidak mempunyai keyakinan yang jelas ) serta mereka menyembah berhala.” ( HR. Muslim ).

Maka dia mengira bahwa manusia berada dalam kesesatan jahiliyyah dan dia menamakan mereka orang jahiliyyah maka sungguh telah benar dugaannya.

Berkata ibnu Taimiyah : “penamaan bodoh dan masa jahiliyyah dinamakan jahiliyyah sebelum datangnya rasul adapun terhadap mereka tidak ditimpakan adzab sampai datangnya rasul.” ( Al-Fatawa, 20/38 )

27. Bab disandangnya penamaan sifat bid’ah. Ilhad ( pembangkangan ), Al-Inhiraaf ( keberpalingan ), Al-Khatha’ ( kekeliruan ) walaupun belum ditegakan padanya hujjah.

 

 

 ثُمَّ قَفَّيْنَا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم بِرُسُلِنَا وَقَفَّيْنَا بِعِيسَى ٱبْنِ مَرْيَمَ وَءَاتَيْنَٰهُ ٱلْإِنجِيلَ وَجَعَلْنَا فِى قُلُوبِ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُ رَأْفَةًۭ وَرَحْمَةًۭ وَرَهْبَانِيَّةً ٱبْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَٰهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ٱبْتِغَآءَ رِضْوَٰنِ ٱللَّهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا ۖ فَـَٔاتَيْنَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنْهُمْ أَجْرَهُمْ ۖ وَكَثِيرٌۭ مِّنْهُمْ فَٰسِقُونَ

 

“ Kemudian Kami iringi di belakang mereka dengan Rasul-rasul Kami dan Kami iringi (pula) dengan Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang- orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah Padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik.” ( QS Al-Hadiid, : 27 ).

 

Alloh Ta’ala berfirman :

فَٱلْتَقَطَهُۥٓ ءَالُ فِرْعَوْنَ لِيَكُونَ لَهُمْ عَدُوًّۭا وَحَزَنًا ۗ إِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَٰمَٰنَ وَجُنُودَهُمَا كَانُوا۟ خَٰطِـِٔينَ

 

“ Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir’aun yang akibatnya Dia menja- di musuh dan Kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir’aun dan Ha- man beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah.” ( QS Al-Qashash, : 8 )

Masuk didalamnya kesalahan para penganut Nashrani, dalam kitab At-Tauhis karya ibnu Mandah berkata : bab yang menuturkan dalil bahwa seorang mujtahid yang salah didalam mengetahui Alloh Azza wa jalla dan keesaanNya seperti golongan yang membangkang ( mu’anid ). Alloh memberitahukan kabar akan kesesatan mereka dan pembangkang mereka, sebagaimana Alloh Ta’ala berfirman :

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِٱلْأَخْسَرِينَ أَعْمَٰلًا

103. Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”

 

  ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

104. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.

( QS Al-Kahfi, : 103-104 ).

 

Alloh Ta’ala berfirman :

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِىٓ ءَايَٰتِنَا لَا يَخْفَوْنَ عَلَيْنَآ ۗ أَفَمَن يُلْقَىٰ فِى ٱلنَّارِ خَيْرٌ أَم مَّن يَأْتِىٓ ءَامِنًۭا يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۚ ٱعْمَلُوا۟ مَا شِئْتُمْ ۖ إِنَّهُۥ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

 

“ Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Kami, mereka tidak tersembunyi dari kami. Maka Apakah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka lebih baik, ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa pada hari kiamat? perbuatlah apa yang kamu kehendaki; Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” ( QS Fushshilat : 40 ).

 

            Alloh Ta’ala berfirman :

وَلِلَّهِ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ فَٱدْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا۟ ٱلَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِىٓ أَسْمَٰٓئِهِۦ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

 

“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. nanti mereka akan mendapat Balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. ( QS Al-A’raaf : 180 )

Alloh Ta’ala berfirman :

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعْبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍۢ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُۥ خَيْرٌ ٱطْمَأَنَّ بِهِۦ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْخُسْرَانُ ٱلْمُبِينُ

 

“ Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi Maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam Keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. rugilah ia di dunia dan di akhirat. yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. ( QS Al-Hajj, : 11 )

28. Bab kaitan penamaan Yahudi, Nashrani, Majusi dan yang semisal dari agama-agama walaupun belum ditegakan padanya hujjah dan belum memahami hujjah.

 

   إِنَّكَ إِن تَذَرْهُمْ يُضِلُّوا۟ عِبَادَكَ وَلَا يَلِدُوٓا۟ إِلَّا فَاجِرًۭا كَفَّارًۭا

“ Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat ma’siat lagi sangat kafir.” ( QS Nuuh, : 27 )

 

Dan dari Abi Hurairah hadits marfu :

“ Tidaklah lahir seorang anak kecuali dalam keadaan fitrah maka orang tuanyalah yang menjadikan dia seorang yahudi, Nashrani atau Majusi.” ( HR. Mutafaq alaihi dan ada tambahan hadits dari riwayat Muslim “atau memusyrikannya”, dan didalam hadits, “bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ditanya mengenai anak-anak yang terbunuh dari kalangan musyrikin maka beliau bersabda” bahwa mereka bagian dari orang-orang musyrik.” (Mutaffaq alaihi dari hadits Asshu’abi)) dan didalam Siroh bahwa anak-anak yahudi dan Nashrani serta musyrik ashli, keadaan mereka diserupakan dengan yang lain ketika ditawan sebagai budak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s