Siapa Yang Membela Para Tahanan Muslim? ( Bagian Pertama )

Berikut ini terjemahan dari khutbah Jumat oleh Syeikh Muhammad Abdullah Al Habdaan, Imam Masjid Al Izz bin Abdus Salam di Riyadh, pada tanggal 16 Agustus 2002. Judul khutbahnya “Siapa Yang Membela Para Tahanan Muslim?” merupakan sebuah khutbah yang hebat dan mudah-mudahan terjemahan ini bermanfaat bagi orang yang tidak turut hadir mendengarkan khutbahnya, apalagi dengan didengung-dengungkannya kembali isu mengenai pembelaan para tahanan muslim.

Khutbah Pertama

Bismillaahirrahmaannirrahiim

Wahai Ummat Islam:
Perang antara Kebenaran dan Kebathilan berlanjut, antara Cahaya dan Kegelapan, antara Islam dan Kaum Kafir. Dan akan terus berlanjut hingga Hari Akhir. Sebuah perjuangan dimana pada akhirnya orang-orang yang beriman lah yang akan menang, namun pada tahap tertentu mereka mengalami kekalahan, hanya disebabkan faktor pengiring perjuangan, yang bukan berarti bisa menunda kemenangan.

Pada akhir perjuangan, Allah Yang Maha Tinggi akan memilih diantara hamba-hamba Nya. Diantaranya ada yang syahid hanya karena Allah. Ada yang terluka hanya karena Allah, bahkan beberapa anggota tubuh kita mendahului kita berada di Surga. Dan ada yang tertawan oleh musuh. Semua ini adalah resiko dari sebuah perjuangan. Siapapun yang mengisi halaman sejarah, akan dikenang sepanjang masa. Berapakah pahlawan yang wafat? Berapakah yang terluka dan berapakah pejuang yang tertawan oleh musuh? Lantas apakah kemudian jiwa mereka menjadi lemah? Apakah hati mereka berbalik menjadi pengecut? Apakah kita beranggapan bahwa kelemahan dan kesedihan menyusup ke dalam hati mereka saat tertawan??!!

Kita memiliki teladan Khubaib bin Adiy r.a tertangkap oleh kaum musyrik Quraisy yang membawanya dari Masjidil Haram untuk membunuhnya. Sebelum eksekusi dijalankan, Khubaib meminta supaya diizinkan sholat dua rakaat. Usai shalat, Khubaib menatap mereka sambil berkata, “Seandainya bukan karena dikira takut mati, maka aku akan menambah jumlah rakaat shalatku.” Beliau lah yang memulai tradisi shalat dua rakaat menjelang eksekusi. Lalu beliau berkata,” Wahai Allah! Hitunglah mereka satu per satu! Bunuhlah mereka satu per satu! Janganlah Engkau biarkan satu pun dari mereka tetap hidup!”
“Selama aku terbunuh sebagai seorang muslim karena Allah; aku tidak peduli bagian diriku yang mana yang terjatuh. Semuanya ini hanya untuk Allah; dan dengan izin-Nya Dia akan memberkahiku dengan menyatukan anggota tubuhku yang terkoyak.” Beliau akhirnya dibunuh oleh Uqbah bin Al Harist.

Tentu, Allah akan menganugerahkan belas kasih-Nya kepada para tawanan dan menentramkan hati mereka. Khubaib, misalnya, saat ditawan diberikan karunia oleh Allah, yang saksikan oleh seorang wanita: “Selama hidupku, aku tidak pernah melihat seorang tawanan yang lebih baik dari nasib Khubaib. Aku melihatnya sedang memakan buah-buahan dan anggur yang sedang tidak musim saat itu di Makkah, dalam keadaan tangan yang terbelenggu rantai – ini adalah semata-mata karunia dari Allah.”

Di sisi lain, seorang tawanan pasti mengalami siksaan, hinaan dan di bawah tekanan; namun Allah akan mengangkat derajatnya dan menempatkannya ke dalam surga.

Allah berfirman:
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman,’ sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” [QS. Al Ankabut:2-3]

Wahai Ummat Islam:
Para tawanan yang berada di tangan musuh-musuh Islam: tawanan di Palestina dan tahanan di Guantanamo Kuba dan di belahan bumi manapun. Mereka adalah orang-orang yang keluar untuk membela saudara-saudara mereka, mempertahankan kesucian kaum muslimin dan kehormatan mereka di kala kebanyakan orang menjadi putus asa. Mereka memiliki hak atas Ummat untuk dating membantu dan membela mereka dalam persidangan-persidangan mereka. Sebagaimana Rasulullah SAW menyerukan ummatnya, “Bebaskanlah para tawanan!” [HR. Al Bukhari]

Imam Malik (semoga Allah merahmatinya) berkata, “Adalah kewajiban bagi ummat untuk menebus para tawanan dengan segala hal yang mereka miliki, dan tidak ada perbedaan pendapat di kalangan fuqaha mengenai hal ini, sebab Rasulullah SAW bersabda, “Bebaskanlah para tawanan!” [HR. Al Bukhari]

Beberapa kalangan berpendapat bahwa, “Jika negara menghabiskan seluruh kekayaannya untuk menebus para tawanan Muslim dari tangan musuh, maka itu pun belum berarti banyak”. Benar; hal itu belum membawa arti yang besar bagi Islam, tidak ada bencana yang lebih besar selain dipermalukan oleh Amerika yang penuh dengan kebencian mereka terhadap Islam?

Tentu saja, kita semua dan dunia telah menyaksikan tragedi kebiadaban yang menimpa saudara-saudara kita di Guantanamo, Kuba. Mereka diberangkatkan dari Pakistan dengan menggunakan pesawat kargo – dalam keadaan janggut dan rambut kepala dipaksa cukur, tanpa busana, ditekuk dari kepala hingga ujung kaki, ditutup matanya and dibuat mati rasa. Dimana letak penghargaan terhadap hak asasi manusia? Dimana letak penghargaan terhadap kemanusiaan jika menempatkan manusia di dalam kurungan besi seperti layaknya memperlakukan binatang?

Mereka hanya diizinkan keluar dari jeruji besi selama satu hari. Mereka diinterogasi dalam keadaan tangan dan kaki terbelenggu rantai dengan kepala tertunduk, harga diri mereka koyak sembari terbersit, “Dimanakah kejayaan kaum Muslimin saat ini? Kapankah hari-hari penaklukan itu? Dimanakah engkau wahai kaum Muslimin?”

Para tawanan kita hidup di tengah bara panasnya Kuba. Bahkan di kala musim dingin, mereka serasa berada dalam kondisi kepanasan seperti musim panas. Setiap malam, dimana Allah menciptakannya menjadi saat istirahat dan tidur, kondisi penjara sengaja dibuat terang benderang dengan lampu yang menyilaukan. Pada siang hari, sengatan matahari yang panas membara sedangkan malam hari penuh lampu sorot yang menyilaukan mengakibatkan para tawanan tidak pernah bisa tidur dan beristirahat.

Bagaimana mereka dapat menikmati, tidur, makan dan minum dalam kondisi yang tertekan dan penderitaan.

Penderitan mereka berlipat ganda, yaitu penderitaan sebab hidup di bawah tawanan kebiadaban Amerika, serta kepedihan sebab diabaikan oleh saudara-saudara Muslimnya di luar penjara. Tidak ada seorang pun yang berdiri membela mereka atas suramnya perlakuan yang mereka terima di penjara; seolah-olah mereka terlupakan dan tidak terjadi apapun terhadap mereka.

Bagaimana kaum Muslimin bisa hidup dengan nyaman? Bagaimana kaum Muslimin bisa tidur dengan tenang ketika saudara-saudara seimannya terpenjara di tangan musuh; di kala saudara-saudara seimannya hidup dalam keadaan terhina oleh kebiadaban Amerika?

Bagaimana airmata bisa tidak menetes melihat kehidupan saudara-saudara seimannya dalam kemalangan dan penderitaan?

Bagaimana kaum Muslimin rela anak-anaknya diserahkan kepada musuh Islam yang menjauhkannya ke ujung dunia tanpa suatu kabar dan berita, bahkan tangisan mereka?

Jadi apakah peran suatu negara? Apakah peran suatu bangsa? Atau bahkan keluarga dan kerabat mereka? Apakah tidak wajib bagi mereka untuk melakukan sesuatu dan mengambil sikap yang tegas?

Mereka harus mampu menekan Amerika supaya tidak berbuat seenaknya terhadap para tawanan, harus ada satu pihak yang memantau kasus-kasus para tahanan. Mereka harus mampu membuat Amerika mengerti bahwa masalah tahanan belumlah berakhir, bahkan sebaliknya baru saja dimulai.

Tidak boleh ada dalih untuk diam dalam urusan ini, terutama karena perlakuan keji yang ditimpakan kepada orang-orang yeng berjuang untuk mengangkat harkat Ummat ini:

Dikuburkan untuk Islam dan ummatnya
Apakah para tawanan kita hidup nyaman seperti kalian, wahai kaum Muslimin?
Tentu saja hatinya gusar dan bergejolak
Apakah para tawanan kita hidup tenang seperti kalian, wahai kaum Muslimin?
Mereka terhina dalam belenggu dan di balik batu bata
Wahai tawanan Muslim, engkau telah meninggalkan kehinaan terburuk
Engkau telah menolong Agama yang mengetahui hal yang gaib
Dan tentu saja, kehormatan lah yang akan engkau raih
Yaitu kehormatan tertinggi yang bersemayam di dalam hati
Para tawanan yang tlah kita lupakan bahkan tinggalkan
Kemarahan seekor singa pun tak kan sanggup menyadarkan kita
Sebab Dunia kita tlah terbiasa diam sejak lama
Layaknya (seolah-olah) kita semua adalah penyembah salib
Benarkah selama ini kita tlah meniti jalan yang lurus?
Lantas adakah rasa pedih melihat keterasingan dan terpecah belahnya ummat ini?

Wahai ummat Islam! Generasi sebelum kita meninggalkan sebuah wasiat untuk kita; sebuah teladan untuk menyelamatkan para tawanan Muslim dari tangan musuh.

Ketika Mansur bin Abi Amir kembali dari pertempuran di Utara Andalusia, beliau berjumpa dengan seorang muslimah di pintu gerbang Cordoba. Muslimah itu berkata, “Anak lekakiku ditawan oleh kaum Nasrani, Engkau harus menebusnya atau membawanya kembali.” Tanpa memasuki Cordoba, beliau segera kembali dengan pasukannya hanya untuk membebaskan seorang tahanan Muslim.
__

Dan ketika pemimpin Andalusia, Al Hakam bin Hisham, mendengar bahwa tahanan seorang muslimah yang ditawan dan menyeru, “Wahai Al Hakam! Bebaskan aku!” langsung tergerak untuk membebaskannya. Beliau siapkan sendri pasukannya dan pimpin langsung di bawah komandonya menuju daratan musuh pada tahun 196 H. Beliau menaklukkan perbatasan, menghancurkan negeri musuh dan menyita semua kekayaannya, hanya untuk membebaskan seorang tawanan muslimah. Setelah membebaskan muslimah tersebut, beliau kembali ke Cordoba dengan kemenangan yang gemilang.
___

Mu’tasim menerima berita bahwa seorang muslimah yang terhormat ditawan oleh seorang penjahat Nasrani di Umuriyyah, dan suatu hari si penjahat menampar sang muslimah hingga berteriak, “Wahai Mu’tasim!” Begitu mendengarnya, beliau langsung menjawab jeritannya, “Aku datang untuk memenuhi pembelaan terhadapmu!” Beliau berangkat dengan 70.000 pasukan ke Umuriyyah dan menaklukannya. Beliau memerintahkan untuk memenggal kepala si penjahat Nasrani tersebut dan membebaskan muslimah yang ditawan.
___

Demikianlah para pemimpin kaum Muslimin di masa lampau, begitu mereka mendengar permohonan pembelaan, mereka segera menjawab dan menolongnya. Bahkan Umar bin Abdul Aziz memerintahkan kepada para menterinya untuk menebus tawanan Muslim meski harus mengeluarkan seluruh kekayaan Negara di Baitul Maal.

Abu Ghalib Hammam bin Al Muhadhib Al Ma’ry menjelaskan dalam sejarahnya bahwa Saif Al Daulah menghabiskan seluruh kekayaannya untuk membebaskan para tahanan Muslim yang ditawan oleh Romawi, dan Gubernur Syam yaitu Abul Abbas Al Khuza’I mengeluarkan satu juta Dirham untuk membebaskan para tahanan Muslim dari Turki.
___

Jika kekayaan tidak berhasil digunakan untuk membebaskan para tahanan, maka tindakan lain seperti ancaman dan provokasi harus dilakukan. Ketika Qutaibah (semoga Allah merahmatinya) menandatangi sebuah perjanjian dengan pemimpin Shuman, beliau menuliskan surat peringatan dan ancaman terhadap Naizak Turkhan untuk membebaskan para tahanan Muslim. Naizak menjadi ketakutan hingga akhirnya membebaskan semua tahanan.

Para ulama selalu berperan besar untuk mengobarkan semangat membebaskan kaum Muslimin yang menjadi tawanan perang, baik dengan menulis surat kepada para pemimpin Muslim atau mendatangi musuh dan menekan untuk membebaskan tawanan Muslim atau selemah-lemahnya dengan berdoa kepada Allah untuk membebaskan mereka. Saat Ibnu Taymiyyah pergi menemui Bulai, salah satu Jenderal Mongol dan menekannya untuk membebaskan para tawanan Muslim, hingga banyak dari mereka dibebaskan sebelum Ibnu Taymiyyah kembali pulang.

Ibnu Taymiyyah menuliskan sebuah surat kepada Raja Cyprus:

“Wahai Raja, bagaimana Engkau membiarkan pertumpahan darah, memaksa kaum wanita menjadi budak, dan merampas harta orang lain tanpa kebenaran dari Allah dan Rasul-Nya? Apakah Sang Raja tidak menyadari bahwa tetangga negeri kita adalah kaum nasrani yang hidup aman dan damai? Perjanjian Negara kita dengan mereka diketahui semua pihak. Bagaimana Engkau sanggup membiarkan para tahanan kita diperlakukan tidak bermoral dan bertentangan dengan Agama?

Sebaliknya, sebagian besar mereka ditangkap karena pengkhianatan dan pengkhianatan dilarang oleh semua agama, undang-undang dan politik. Mengapa Engkau menawan orang-orang yang tertangkap karena berkhianat? Apakah Engkau mengira bahwa Engkau bisa selamat ketika berhadapan dengan kaum Muslimin atas apa yang telah Engkau kerjakan dan pengkhianatan yang Engkau lakukan?

Allah akan menolong dan memenangkan mereka, terutama saat ini ketika Ummat menyusun barisan dan bersiap siaga dalam pertempuran. Para shiddiqiin dan pengikut Allah sangat patuh kepada perintah Rabb-Nya. Perbatasan pesisir dipenuhi dengan komandan-komandan yang kuat dan bengis; yang pernah kita lihat dan jumlahnya selalu bertambah.

Diantara orang-orang muslim ada orang yang teguh pendirian. Dan kabar tentang mereka sampai kepada telinga para raja.

Diantara mereka ada yang benar-benar beriman dan beramal shalih, yang mana Allah tidak akan menolak doa-doa mereka atau bahkan membuatnya sia-sia. Orang-orang yang demikian itu, jika mereka marah Allah pun marah dan jika mereka senang Allah pun membesarkan hati mereka.

Wahai Raja, ketahuilah bahwa wilayahmu berbatasan dengan kaum Muslimin. Manfaat apa yang engkau peroleh dengan memperlakukan tahanan Muslim secara picik, baik seorang Muslim yang telah menyetujui perjanjian dama dengan Muslim yang lain untuk mendamaikan?
___

Abu Saeed Al Tha’labi menjelaskan ketika Ibrahim dan Muhammad dan Ibrahim memberontak Khalifah Abbasiyah yang terkenal, Abu Ja’far Al Mansur, beliau ingin pasukan garda depan membantunya membasmi pemberontak. Namun mereka menolak membantu sang Khalifah dan ribuan dari mereka jatuh ke tangan pemimpin Romawi yang selalu bernafsu menuntut uang tebusan dari para tahanan Muslim. Sedangkan sang Khalifah tidak mau membayar uang tebusan.

Sehingga, Imam Al Auzai (semoga Allah mengampuninya) menulis surat kepada Khalifah:

“Allah Yang Maha Tinggi telah memilih engkau untuk mengurusi urusan ummat, sehingga engkau harus menunaikan kewajibanmu dengan adil dan mengikuti teladan Rasul-Nya SAW dalam kerendahan hati dan bersikap lembut terhadap rakyatmu. Aku memohon kepada Allah Yang Maha Tinggi memberikan kedamaian kepada pemimpin orang-orang yang beriman dan mengampuni dosa-dosanya.

Pada tahun pertama serangan kaum musyrikin berhasil menghancurkan pertahanan ummat Islam – dengan tujuan mereka menawan para muslimah, mengusir para orang tua dan anak-anak dari kampong-kampung mereka. Semua itu semata-mata karena dosa kaum muslimin, namun ingatlah bahwa ampunan Allah lebih luas. Sehingga, dosa kaum muslimin itulah yang menyebabkan pengusiran para orang tua dan anak-anak dari kampung-kampung mereka; mereka tidak memperoleh pertolongan dari siapapun untuk membela mereka. Para muslimah dibawa dalam keadaan kepala dan kaki terbuka untuk dilihat, hanya Allah yang Maha Teliti atas setiap ciptaan-Nya.

Jadi, pemimpin kaum mukminin harus memiliki rasa takut kepada Allah dan hanya mengikuti aturan Allah dengan memberikan tebusan untuk rakyatnya. Sehingga dalam hal ini, janganlah sampai dia mengorbankan kasih sayang Allah, sebagaimana Allah berfirman:

Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo’a: “Ya Rabb kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau”. (QS. 4:75)

Saya bersumpah Demi Allah, wahai pemimpin kaum mukminin, para tawanan tidak memiliki harta kekayaan dandalam keadaan lemah. Saya pernah mendengar Rasul SAW bersabda:

“Memang terkadang Aku mendengar suara tangisan bayi dalam sholatku, sehingga Aku mempersingkat sholatku sebab Aku takut ibunya menjadi sedih dan khawatir karenanya.”

Jadi bagaimana engkau rela membiarkan mereka di tangan musuh, wahai pemimpin kaum mukminin? Mereka sedang diuji and aurat mereka dibiarkan terbuka; sedangkan engkau lah sebagai wakil Allah di muka bumi ini. Allah Yang Maha Besar berada di atasmu dan kelak Dia akan meminta pertanggungjawaban darimu di Hari Pembalasan – hari dimana tiada sesuatu pun mendapatkan balasan meski seberat biji zarah.

Ketika surat tersebut sampai di tangan Abu Ja’far, serta merta Dia memerintahkan untuk membayar uang tebusan untuk membebaskan kaum muslimin yang ditawan musuh.
___

Kita semua ikut merasakan kesedihan yang mendalam dari para ibu dan hati yang terluka dari para bapak; dan karena itulah hati-hati mereka memancarkan doa yang tulus bagi para tahanan Muslim.

Ibnu Katsiir menyebutkan bahwa seorang wanita mendatangi Imam Baqi bin Mukhallad (semoga Allah mengampuninya) dan berkata padanya:

“Putraku ditangkap oleh orang Perancis and aku tidak bisa tidur di malam hari karena merindukannya. Aku memiliki rumah kecil yang bisa aku jual untuk menebusnya. Jadi tolong bantu aku untuk menjualnya sehingga aku bisa berupaya membebaskan putraku dengan penjualan ini. Sebab hidupku tidak pernah tenang, tidak bisa tidur, tidak bisa bersabar, hingga putraku bebas.”
(Seperti inilah kondisi para ibu saat ini – mata mereka tidak sanggup terpejam karena putra-putranya ditawan oleh musuh, dan hanya kepada Allah lah mereka berkeluh kesah.)

Kemudian Imam Baqi menjawab, “Pergilah sehingga aku bisa mengurusnya sekarang dengan izin Allah.”

Kemudian dia menundukkan kepala sambil berdoa kepada Allah Yang Maha Kuasa untuk membebaskan putranya. Tak lama kemudian putranya kembali di sisinya. Wanita itu berkata,”Dengarkanlah kisahnya, mudah-mudahan Allah mengampunimu.”

Imam Baqi berkata, ”Ceritakanlah kisahmu pada kami.”

Anak laki-laki itu bercerita, ”Aku ditempatkan diantara penjaga-penjaga Raja – dalam keadaan terbelenggu rantai sepanjang waktu. Dan suatu hari, ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba rantainya terlepas dari kakiku. Seorang penjaga mendatangiku dan berteriak padaku, “Mengapa kamu lepaskan rantai di kakimu?” Lalu kujawab, “Tidak, demi Allah, aku bahkan tidak menyentuhnya. Rantainya tiba-tiba menjadi longgar dan aku pun tidak menyadarinya terlepas dari kakiku.” Lalu mereka kembali mengikatkan rantai di kakiku dengan lebih erat. Begitu aku berdiri, rantai kembali longgar dan terlepas lagi. Kemudian mereka bertanya kepada para pendeta mereka akan hal ini. Para pendeta balik bertanya, “Apakah dia memiliki seorang ibu?” Aku jawab, “Benar.” Mereka menjawab, “Tentu ibumu berdoa untukmu dan doanya dikabulkan. Bebaskanlah ia!” Akhirnya mereka membebaskanku dan menjagaku hingga di perbatasan wilayah Islam.

Baqi bin Mukhallad bertanya kepada anak laki-laki itu tentang berapa lama rantai itu terlepas dari kakinya dan ternyata waktu yang sama ketika ibunya berdoa kepada Allah untuk membebaskan putranya!
___

Saksikan ya Allah! Aku telah menyampaikan pesanku kepada kaum muslimin untuk membela saudara-saudaranya yang menjadi tawanan musuh. Semoga Allah memberkahi kita semua melalui Quran yang mulia.

[akhir dari khutbah pertama]

sumber : http://www.muslimdaily.net

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s