Renungan Terhadap Hasil-Hasil Jihad (Bag, 4)

Renungan Kedelapan

Kasihanilah Wanita

 

Penyertaan wanita muslimah tanpa dlarurat pada kegiatan-kegiatan perang atau jihad atau organisasi atau kegiatan-kegiatan penting yang masih bisa dilakukan oleh kaum pria adalah hal yang tidak berani melakukannya orang yang mengetahui realita kejahatan orang-orang kafir hari ini, dan tidak tergesa-gesa di dalamnya orang yang mengetahui kejahatan dan kekotoran kaum kafir zaman kita ini dan orang yang peduli dengan penjagaan kehormatan wanita-wanita muslimah.

 

Dahulu orang-orang kafir walaupun mereka kafir, tapi mereka itu orang-orang yang memiliki harga diri dan kehormatan. Saat makhluk-makhluk Allah yang hina bergegas menyatroni rumah Nabiyyullah Luth karena menginginkan para tamunya dan beliau AS berkata kepada mereka:

وَجَاءَهُ قَوْمُهُ يُهْرَعُونَ إِلَيْهِ وَمِنْ قَبْلُ كَانُوا يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ قَالَ يَا قَوْمِ هَؤُلاءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطْهَرُ لَكُمْ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَلا تُخْزُونِي فِي ضَيْفِي أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ (٧٨) قَالُوا لَقَدْ عَلِمْتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنْ حَقٍّ وَإِنَّكَ لَتَعْلَمُ مَا نُرِيدُ

“Hai kaumku, inilah peteri-puteri-ku mereka lebih suci bagimu”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kamu sudah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap peteri-puteri-mu”, (QS. Hud: 78-79). Mereka dengan kebejatan dan kekotorannya tetap menjaga hak puteri-puteri Luth, baik karena mereka itu puteri-puteri seorang laki-laki dari mereka atau karena mereka itu mengetahui bahwa puteri-puterinya itu tidak halal bagi mereka karena sebab mereka itu kafir; dan Luth mengatakan itu hanya dalam rangka memalingkan perhatian mereka dari tamu-tamunya, atau karena sebab lain, yang penting pada akhir tindakan mereka itu walaupun mereka tersebut dhalim, jahat lagi kotor, mereka tidak mengganggu puteri-puterinya dan tetap menjaga hak mereka karena mereka tahu bahwa mereka tidak memiliki hak pada wanita-wanita itu… (Memang secara zhahirnya, ayat itu ditafsirkan berkenaan dengan kaum homosexual yang menentang Nabi Luth ‘as, ed.)

Begitu pula saat musyrikin Quraisy membuat rencana dan makar terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membunuhnya dan melumpuhkannya atau mengusirnya dan sebagian orang-orang bodoh mereka mengusulkan agar menggrebek rumah beliau, maka Abu Jahal si tokoh kekafiran menolak usulan itu secara tegas dan mengingkarinya dengan keras seraya berkata: “Apa kalian ingin orang-orang Arab melecehkan kita bahwa kita menteror puteri-puteri Muhammad”, dan seorang penyair mereka berkata:

Saya tundukkan pandanganku bila tetangga wanita-ku tampakkan dirinya

Sampai tetanggaku itu dikebumikan di tempatnya

Dan penyair lain berkata:

Bila angin menyingkap rumah tetangga wanita-ku itu

Maka aku berpaling sampai rumahnya menutupi dia itu

Adapun orang-orang kafir zaman kita maka mereka itu tidaklah menjaga pada diri orang mukmin hubungan kekeluargaan dan perjanjian, serta mereka itu menginginkan merebaknya perbuatan keji di tengah orang-orang yang beriman.

Kebiasaan mereka menuduh zina wanita-wanita yang baik lagi menjaga diri, dan mereka suka mengotori kehormatan orang-orang mukmin laki-laki dan wanita, maka sepatutnya setiap muslim melindungi muslimah dari pengotoran kaum musyrikin itu, dan jangan sampai dia menjadikan jalan bagi musyrikin atas muslimah dengan bentuk dia melibatkan muslimah dalam kegiatan-kegiatan yang sebenarnya laki-laki saja sudah cukup, yang mana bisa saja dengan hal itu musuh-musuh Allah menguasai mereka.

Dan fenomena-fenomena itu pada zaman kita ini adalah banyak, baik dengan mengedepankan muslimah itu di barisan depan demonstrasi-demonstrasi dan benturan dengan aparat keamanan, sebagaimana yang dilakukan banyak jama’ah yang ngawur, sampai-sampai manusia menyaksikan musuh-musuh Allah memukuli mereka dengan pentungan dan membubarkan mereka dengan anjing, dan sebagian muslimah itu mencaci maki aparat kepolisian sehingga akhirnya mereka mendapatkan balikan cacian dengan ungkapan yang paling kotor dan menjijikan, karena aparat thaghut itu adalah kaum yang keji yang tidak memiliki rasa malu dan harga diri.

Atau dengan bentuk kaum hawa ini dipercayakan kepada mereka kegiatan-kegiatan organisasi atau disembunyikan pada mereka itu sesuatu dari perlengkapan atau persenjataan atau pendanaan kemudian dilakukan pengakuan terhadap mereka, sehingga akhirnya mereka diseret atau digusur dalam penyidikan yang mana di dalamnya mereka dikuasai oleh manusia bejat yang keji yang menghinakan mereka atau lancang terhadap mereka dan memperdengarkan terhadap mereka ucapan yang tidak bisa diterima seorang muslimpun atau orang merdeka bagi wanita-wanitanya. Ini bila masalahnya tidak melampui pada tindakan-tindakan musuh-musuh Allah yang lebih keji dan lebih hina dan kadang muslimah-muslimah itu dilimpahkan kepada mahkamah-mahkamah mereka yang kafir dan gambar-gambar mereka disebarkan di televisi-televisinya dan di halaman-halaman media cetaknya serta mereka akhirnya dijebloskan di penjara-penjara mereka yang kotor bersama wanita-wanita tuna susila dan para pelacur.

Tidak layak bagi muslim yang berakal yang mengetahui kebejatan dan kekotoran musuh-musuh Allah dia memenuhi wanita-wanita kaum muslimin dengan semangat yang kosong untuk menyeret mereka pada bahaya-bahaya yang menjerumuskan mereka dalam perangkap-perangkap orang-orang hina lagi buruk itu selagi pada kaum pria ada yang mencukupkannya. Dan tidak boleh berdalih untuk melegalkan hal itu dengan apa yang telah Allah tentukan atau akan Allah Subhanahu Wa Ta’ala tentukan berupa ujian atas sebagian muslimah. Sangatlah berbeda antara kondisi musuh-musuh Allah menguasai muslimah karena sekedar ketaatan dan keislaman mereka seperti apa yang telah terjadi pada sebagian wanita-wanita yang tertindas dari kalangan muslimah terdahulu dan sebagaimana yang kadang terjadi terhadap muslimah semacam mereka di setiap tempat yang tidak mendapakan seorangpun penolong dan pelindung; dengan kondisi yang mana para du’at dan mujahidin dengan sikap ngawur mereka menjadi penyebab dalam penguasaan musuh-musuh Allah terhadap mereka dan pemberian mereka alasan dan legalitas untuk menodai muslimah itu dengan menggusur mereka pada yang tidak terpuji akibatnya, akan tetapi wajib atas muslim yang berakal yang sangat menginginkan keterjagaan mereka agar ia menjauhi termasuk penyebutan mereka di hadapan musuh-musuh Allah dalam penyidikan dan yang lainnya dan agar ia tidak memikulkan kepada mereka dari kegiatan-kegiatan suatu yang bisa menjadi sebab dilakukannya penyidikan terhadap mereka, agar ia tidak menjadikan bagi orang-orang kafir jalan atas mereka dalam pengejaran, pengawasan atau penyidikan apalagi penghinaan dan panahanan, karena mereka itu sebagaimana yang telah kami katakan adalah orang-orang bejat lagi amoral yang tidak bisa dipercayai terhadap kehormatan.

Singkatnya bahwa pelibatan muslimah dalam kegiatan-kegiatan yang tidak perlu atau penyeretan mereka dalam penyidikan atau penugasan mereka suatu tugas yang masih bisa dipikul oleh kaum pria adalah hal yang tidak bisa diterima oleh seorang muslim yang merdeka lagi berakal terutama di zaman ketertindasan di mana tidak ada Negara bagi kaum muslimin dan tidak ada negeri yang mereka bisa berlindung di dalamnya, dan mengayomi mereka serta menjaga kehormatan mereka.

Sambil menunggu adanya Negara yang menyiapkan pasukan besar karena jeritan seorang muslimah di belahan bumi mana saja; maka hal yang wajib adalah menjaga wanita-wanita mukminah dari sikap-sikap yang membahayakan ini, dan yang lebih utama adalah menyibukkan mereka dengan bidang-bidang pendidikan yang bersifat dakwah yang khusus bagi wanita. Bila kehormatan muslimah disentuh, maka yang wajib adalah para mujahidin membalas dengan keras lagi menyakitkan pelakunya yang membuat takut orang yang membantunya dan balasan itu tetap diingat nampak di hadapan umum yang membuat gentar setiap orang yang memiliki niat untuk melakukan hal yang serupa.

Hendaklah para mujahidin selalu ingat dan hendaklah musuh-musuh mereka juga selalu ingat bahwa Ka’ab Ibnu Asyraf adalah kafir mu’ahid yang terjaga darahnya, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghalalkan darahnya, dan terus dibunuh oleh sekelompok pemuda dari anshar dien ini dan mereka memancung kepalanya dengan pedang-pedang mereka, dengan sebab dia mengucapkan ungkapan cabul tentang sebagian wanita kaum muslimin.

Hendaklah mereka pada akhirnya selalu ingat bahwa di antara aqidah kaum muslimin dan ajaran agama mereka adaalah bahwa barang siapa mati dalam membela kehormatannya maka ia syahid. Begitulah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang jujur telah mengabarkan.

*******

Renungan Kesembilan

Siapa Yang Bisa Mencontoh Langkahmu Yang Terarah

 

Pada zaman ini alangkah butuhnya kita terhadap pria-pria semacam Muhammad ‘Atha Ziyad Al Jarrah, Marwan Asy Syahyi, Ahmad Al Ghomidiy dan ikhwan mereka… Bukan karena keberanian mereka, sungguh saya tidak meragukan keberanian mereka, dan umat Islam hari ini tidak kekurangan para pemberani…

Bukan pula karena sikap maju dan pengorbanan mereka, karena di tengah umat ini terdapat banyak orang yang bercita-cita andai mereka memiliki kesempatan untuk melakukan seperti apa yang dilakukan oleh para pemuda itu dan melakukan pengorbanan seperti pengorbanan mereka tersebut….

Akan tetapi karena ‘amal jama’iy mereka yang tenang, rapi lagi berkesinambungan yang tidak terpengaruh dengan usikan kondisi dan perubahan keadaan…

Pada zaman ini kita menderita karena krisis atau karena keminiman dalam ‘amal jama’iy yang serius yang tenang lagi bersih dari banyak omong, yang berjalan terus tanpa terputus, dan yang terarah lagi tidak goyah atau terpengaruh.

Sungguh sekelompok orang seperti kelompok yang penuh berkah itu terprogram dengan proyeknya untuk beberapa tahun, tidak melenceng dari tujuan yang telah ia gariskan bagi dirinya sendiri, dan ia mengekang lidah-lidahnya dari banyak bicara sepanjang tahun pelatihannya terhadap pesawat terbang dan hal lainnya yang dibutuh untuk kegiatan itu, dan ia terus menerus melakukan tadrib yang serius dan i’dad yang berkesinambungan, dan ia tidak memutusnya atau berpaling darinya kepada amalan yang lain, walaupun kondisi terus berubah dan keadaan serta kejadian-kejadian dunia selalu ada yang baru di sekitarnya sampai ia mencapai tujuannya dan merealisasikan targetnya serta berhasil menggapai impiannya; maka ini adalah hal yang jarang dalam ‘amal jama’iy Islamiy di zaman kita ini. Dan ini adalah sifat-sifat yang wajib diperhatikan dan difokuskan terhadapnya, karena ia kurang dimilki oleh banyak mujahidin dan orang-orang yang beraktivitas untuk kejayaan dien ini.

Orang yang pernah turun ke medan-medan jihad dan ia berinteraksi dengan para pemuda  umat ini serta ia menjalankan kegiatan dakwah atau jihad yang bersifat jama’iy atau ia berbaur dengan para pemerannya dan jama’ah-jama’ahnya; maka ia akan mengetahui bahwa kita tidak menderita karena kekurangan para pemberani dan orang-orang shalih atau orang-orang yang melakukan perbaikan atau orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang wara’ atau orang-orang yang memiliki kesiapan yang serius untuk berkorban di jalan agamanya; sungguh di tengah umat Islam ini terdapat banyak pria yang jujur terhadap apa yang mereka janjikan kepada Allah, mereka hidup demi membela agama Allah, sedangkan mati di jalan itu adalah cita-cita mereka tertinggi, di antara mereka ada yang meninggal dan di antara mereka ada masih menunggu dan mereka sama sekali tidak merubah….

Akan tetapi bukan dengan keshalihan dien, ikhlas, wara, taqwa, perasaan yang bergejolak, kecintaan akan jihad dan mati syahid, dan semangat membara untuk membela dien ini serta makna-makna yang baik dan sifat-sifat terpuji lainnya; bukan dengan itu saja dien ini dibela dan musuh dilumpuhkan, dan kita bisa sampai kepada tujuan-tujuan kita serta kita bisa merealisasikan cita-cita kita; terutama bila kita bergerak lewat jalur jama’ah sedangkan tujuan-tujuan kita adalah agung yang selaras dengan apa yang dibutuhkan oleh islam dan kaum muslimin hari ini ( yaitu ) berupa tamkin ( penguasaan  di muka bumi ) atau nushrah yang lain dari yang lain atau nikayah ( pukulan balasan ) terhadap musuh yang selevel dengan kondisi-kondisi zaman dan tantangan-tantangannya serta menantang kebiadaban-kebiadaban musuh, kebusukan mereka dan dahsyatnya tipu daya mereka…,akan tetapi disamping sifat-sifat yang penting itu haruslah ada sifat-sifat lain yang tidak kalah pentingnya dan ‘amal jama’iy tidak akan berdiri dan tidak layak serta tidak akan membuahkan hasil kecuali dengannya, dan di antaranya yang terpenting adalah dua hal:

  • Kitman (Sembunyi-sembunyi)
  • Aktivitas yang berkesinambungan yang memiliki target tertentu, yang terus menerus lagi tidak terputus. Sedangkan renungan kita adalah bersama hal yang kedua.

Amal jama’iy itu adalah memiliki ciri khas dan alur-alur serta ushul (pokok-pokok) yang wajib diperhatikan dan juga hal-hal terpenting yang di luar apa yang dibutuhkan oleh ‘amal fardiy (kegiatan individu), dan setiap orang yang berakal adalah mengetahui ini, meskipun dari sisi pensyari’atannya keduanya adalah disyari’atkan.

Engkau berjihad sendirian saat ketidakadaan jama’ah yang memiliki panji yang bersih seraya berpatokan pada firman-Nya ta’ala:

فَقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ لا تُكَلَّفُ إِلا نَفْسَكَ

“Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri,” (QS. An-Nisa: 84). Kemudian engkau memberikan pukulan apa yang engkau mampu terhadap musuh-musuh Allah adalah amal shaleh yang disyari’atkan.

Akan tetapi yang lebih sempurna dan lebih baik yang Allah cintai bagi dien ini dan pemeluknya adalah keberadaan qital dan jihad itu lewat jalan jama’ah atau shaff  (barisan) sebagimana yang telah Allah ta’ala tuturkan dalam firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh,” (QS. Ash Shaff: 4).

Ini adalah dari sisi pensyari’atan dan keutamaan, karena tidak seorangpun yang berakal meragukan bahwa buah-buah ‘amal jama’iy yang rapi yang jelas target-targetnya adalah biasanya lebih besar dari hasil-hasil dan buah-buah kegiatan pribadi, maka bagaimana bila Allah ta’ala telah menegaskan bahwa Dia mencintainya?

Adapun dari sisi tabi’at masing-masing dari keduanya; maka qital individu berbeda dengan qital barisan.

Individu biasanya tidak terikat dengan garis yang jelas dan manhaj tertentu atau seperti apa yang mereka sebut dengan bahasa modern (strategi) sebagaimana ia adalah hal pokok yang harus ada pada jama’ah yang menghormati kerja kerasnya dan peduli terhadap kemampuan personel-personelnya dan umur-umur mereka.

Seorang individu (mujahid,ed) engkau mendapatkannya hari ini berperang di Afghanistan dan besok ia pindah ke Chechnya dan lusa engkau melihatnya mencari ilmu di Yaman atau di Pakistan, kemudian tiba-tiba ia pindah untuk berperang di Bosnia kemudian Filiphina terus Iraq…dan begitulah seterusnya. Ia adalah salah seorang tentara Islam di mana saja ia mendengar kecamuk perang maka ia terbang mendatanginya demi mencari kesyahidan, pembelaan dien dan pemukulan terhadap musuh di mana saja mereka berada…

Tidaklah ragu bahwa ini adalah termasuk amalan terbaik, dan para pelakunya adalah termasuk ansharuddien, serta ia adalah keadaan banyak dari para pemuda umat ini hari ini bihamdillah…

Akan tetapi tidak ragu bahwa hal yang lebih baik darinya dan lebih utama serta lebih sempurna bagi dienullah adalah beramal atau berperang dan jihad lewat jalan jama’ah yang memiliki garis yang jelas dan manhajnya yang baku serta tujuannya yang nyata yang ingin mewujudkan apa yang dibutuhkan dan tidak dimiliki oleh kaum muslimin pada hari ini  (yaitu) berupa tamkin, serta ia mempertimbangkan aulawiyyat (hal-hal yang paling penting didahulukan) dan juga selaras dengan tipu daya musuh, level peperangan mereka, serta tipu muslihat mereka, di mana pimpinan-pimpinannya di samping menguasai ilmu-ilmu syar’iy, menguasai juga realita dengan penguasaan yang detail, mendalam lagi terperinci, sehingga ia tidak memandang terhadap realita (waqi’) dengan pandangan yang dangkal lagi lugu, akan tetapi dengan pandangan yang dalam lagi jeli dan jauh, pimpinan-pimpinan yang tidak menyikapi urusan-urusan dengan perasaan dan semangat kosong saja, sungguh sikap ini tidak layak bagi orang yang memikul tanggung jawab, dan tidak pantas bagi orang yang berupaya meraih tujuan-tujuan yang agung lagi besar serta tidak seyogyanya bagi suatu jama’ah atau kelompok atau golongan yang melakukan ‘amal jama’iy ia melakukan sikap yang biasa dilakukan oleh individu terus ia mencecerkan tujuan-tujuan dan berubah-ubah pada metode atau berperang sesuai kejadian.

Amal serabutan yang tidak teratur dan tidak terkontrol dengan garis atau strategi sebagaimana istilah orang masa sekarang, adalah mungkin ditolerir bagi ‘amal fardiy (kegiatan yang bersifat individual), adapun  bila itu dilakukan oleh jama’ah lalu ia berbuat serabutan lagi tidak dikontrol oleh manhaj tertentu dan tidak diikat oleh rencana atau program yang jelas yang meniru metode individu-individu yang berserakan; maka jama’ah ini adalah jama’ah yang tidak menghargai kerja kerasnya dan tidak peduli dengan umur-umur para pemuda yang menjadi anggotannya serta tidak menyayangkan harta-harta kaum muslimin dan kemampuan-kemampuan mereka, dan juga ia tidak peduli dengan pembuangannya begitu saja, walaupun ia mengklaim selain itu.

Di zaman kita ini banyak sekali kelompok-kelompok yang serabutan yang tidak memiliki sedikitpun pengalaman dalam ‘amal jama’iy, sebagaimana pada akhirnya sikap ngawur dan serabutan dalam amal ini menggiringnya pada kegagalan kemudian pecah belah dan cerai berai atau penjara.

Sebagian yang lainnya tidak belajar dari pengalaman-pengalaman orang lain, di mana ia masih saja beramal dengan ngawur, padahal sesungguhnya orang yang bahagia adalah orang yang menabung umurnya dan apa yang ia miliki serta ia mengambil faidah dari pengalaman-pengalaman orang lain dan apa yang mereka hambur-hamburkan, lalu ia belajar dari kekeliruan-kekeliruan mereka, serta ia mengambil pelajaran dengan orang lain.

Hari ini engkau melihat satu jama’ah aktif di bidang dakwah kepada tauhid seraya ia merasa yakin dengan aktivitas itu lagi penuh semangat terhadapnya juga giat, kemudian tiba-tiba terjadi di negerinya beberapa perkembangan, umpamanya terjadi kesepakatan damai dengan Yahudi atau datang sebagian momen-momen tertentu seperti perayaan Millenium kedua atau yang lainnya, atau terjadi beberapa perkembangan di sebagian wilayah negeri umpamanya seperti pengejaran seorang ikhwan oleh musuh-musuh Allah, maka tiba-tiba person-person kelompok itu atau mayoritasnya secara tiba-tiba berkumpul dan menetapkan untuk perlawanan militer menghadang Yahudi atau turis yang diperkirakan datang dalam momen-momen itu, atau mereka mengambil putusan  untuk berbenturan fisik melawan pemerintah dalam rangka menolong al akh yang dikejar itu dan mereka memikulkan kepada ikhwan mereka yang lain akibat kesalahan dia, baik sikap terang-terangannya dalam kepemilikan senjata atau keterusterangannya dengan cita-citanya dalam memerangi Amerika atau hal serupa itu

Kemudian mereka menggusur ikhwan mereka yang sibuk aktif dalam kebaikan yang agung, dan mereka terpecah perhatiannya antara pilihan-pilihan yang mendadak dan tidak dikaji tanpa keberadaan pilihan-pilihan itu sebelumnya dalam perhitungan-perhitungan dan program-program mereka yang sudah ada; akan tetapi ia adalah keputusan-keputusan yang pemicunya adalah kedatangan momen itu  atau terjadinya  itu atau sekedar semangat sesaat atau sekedar reaksi sebentar, dan kadang mayoritas mereka menelantarkan dakwah yang bisa jadi mereka telah melangkah jauh di dalamnya secara baik, dan mereka malah melompat kepada aktivitas yang tidak  ada dalam perhitungan-perhitungan mereka, sehingga mereka [akhirnya] menelantarkan atau menggugurkan apa yang telah mereka jalani, dan mereka teryata tidak cakap atau merealisasikan apa yang mereka meloncat kepadanya.

Kadang jama’ah itu terpecah menjadi banyak kelompok yang mana para pendukung ide semangat pemanfaatan momen mencela terhadap dakwah kelompok yang tetap berkomitmen dengan dakwah, dan mereka menghinanya dengan tuduhan duduk dari jihad atau tuduhan penelantaran jihad terhadap sebagian ikhwan mereka. Dan keluarlah statemen-statemen yang nyaring yang penuh dengan perasaan dan semangat serta penuh ancaman dengan kebinasaan dan kehancuran, dan mencela orang-orang yang sabar atas dakwah, yaitu sikap teguh mereka terhadap dakwah mereka, dan kadang para pemilik statemen-statemen itu jauh sekali dari medan yang mereka bicarakan tentangnya, dan mereka tidak mengetahui realita yang mana mereka mendorong ikhwan mereka kepadanya…, sehingga mereka mengobarkan semangat orang, mendorong orang dan mencela orang dengan dasar kebodohan, serta mereka berbicara dalam hal yang tidak mereka ketahui, namun itu semua dengan emosi perasaan (‘athifah) dan hamaas  (semangat) yang tidak lama kemudian meredup dan padam di hadapan andil realita dan kemampuan-kemampuan jama’ah yang sebenarnya, oleh sebab itu engkau bisa melihat di negeri itu mereka teryata tidak memenuhi seruannya, termasuk orang-orang yang memiliki ikatan organisasi bersama mereka, karena mereka itu melihat apa yang tidak  dilihat oleh orang-orang yang jauh dari realita itu… kemudian tragedi itu berlalu dan momen itu pun selesai serta dilipat oleh lembaran-lembaran hari, dan tetaplah statemen-statemen yang bermodal semangat itu ada (dan) menjadi saksi dari sekian saksi ngawur dalam amal.

Alangkah sakitnya saya tatkala melihat realita akhir sebagian jama’ah yang dahulu saya melihatnya besar lagi melebar dari kalangan para pemuda umat ini dalam tenggang waktu yang lumayan lama, kemudian ia melakukan pengguguran dan penguraian tenunannya cerai berai setelah ia kuat, ia menggugurkan apa yang telah ia jadikan sebagai hal pokok dan inti dakwahnya sebelumnya di bawah sebutan koreksian- koreksian, padahal seharusnya koreksi, pengkajian, pengamatan, penelitian dengan penuh ketenangan serta penetapan hal pokok itu (seharusnya) dilakukan sebelum ‘amal, dakwah, jihad, tampil jadi pemimpin dan menjadi pemberi pengarahan agar usaha-usaha keras tidak lenyap begitu saja dan kemampuan-kemampuan dibuang sia-sia. Maka tidak halal suatu jama’ah melakukan aktivitasnya dan menggalang anggota di sekitarnya serta mengerahkan kekuatan pemudanya, sedang ia tidak mengetahui apa yang diinginkannya sesekali engkau melihatnya berkonfrontasi dengan Kristen, kemudian ia sibuk dengan hisbah (amar ma’ruf) dan kemungkaran masyarakat, di mana ia mengerebek pesta-pesta pernikahan dan menghancurkan kursi-kursinya di atas kepala orang-orang yang berjoget dan para penyanyi dan bahkan tamu undangan, atau ia menaburkan bahan-bahan kimia yang membakar terhadap wanita yang tabarruj, kemudian balik arah membunuh para turis dan yang lainnya…. Kemudian setelah mendapatkan ujian, tidak lama kemudian ia rujuk !!  atau justeru mundur, pecah belah dan cerai berai, maka akhirnya hal itu dijadikan pijakan oleh lawan-lawan tayyaar jihadiy (gerakan jihad) untuk mencela gerakan ini, padahal sesungguhnya orang yang melihat pada akar-akarnya, perkembangan ia berdiri, dan pemahaman-pemahamannya; maka ia mengetahui bahwa cacat itu telah ada di dalamnya sejak awal.

Sebagaimana saya merasa sedih dan masih saya merasakannya saat saya melihat banyak dari perkumpulan-perkumpulan yang mana ia membuat saya bahagia dengan aktivitasnya dalam dakwah ilallah, sikap terang-terangannya dengan tauhid, keteguhannya di atasnya walaupun ujian menimpa, serta penghadangannya terhadap para penyeru fitnah dari kalangan Jahmiyyah dan Murji’ah; alangkah pedihnya saya saat dikagetkan dengan sikap mereka mengosongkan medan yang sebelumnya telah mereka penuhi dengan kegiatan dan dakwah, serta hijrah mereka ke suatu negeri yang katanya hududullah telah ditegakkan di sana atau kelompok perlawanan yang katanya panji yang bersih telah diangkat di sana, kemudian para pemuda itu meninggalkan dakwah dan kerja keras mereka di negerinya secara tiba-tiba setelah mereka melangkah jauh di dalamnya, dan mereka keluar darinya sedang mereka mengetahui bahwa kembali ke sana akan dipersulit para thaghut setelah keberangkatan mereka keluar itu diketahui setiap orang, terus ia pindah ke negeri itu atau kelompok perlawanan itu untuk dikagetkan setelah itu bahwa orang yang mengompori mereka ke sana adalah terlalu berlebih-lebihan dalam laporan-laporan dia tentangnya, yang mana ia tidak membangun laporan-laporan itu di atas pengkajian yang cermat atau pandangan yang dalam lagi teliti, dan faktor pendorong satu-satunya hanyalah emosi atau semangat dan pandangan yang dangkal, dan bisa jadi rasa bosan dari kejaran para thaghut negeri-negeri mereka, dan pemberantasan terhadap dakwah mereka, sehingga pada akhirnya pukulan dan keterhentakan dengan realita yang sebenarnya itu menjadi sebab dalam pepecahan perkumpulan itu atau kembali sebagiannnya ke negeri asalnya untuk dijemput oleh aparat intelejen dan dijebloskan ke penjara mereka serta tidak dibebaskan, kecuali setelah informasi-informasi tentang ikhwannya, gerakan-gerakan mereka, aktivitas-aktvitas mereka, dan rencana-rencana mereka diperas darinya, sedangkan yang lain berpencar dan bertebaran di antara negeri-negeri dan kelompok-kelompok perlawanan. Kelompok perlawanan (jabhah) ini menurut segolongan orang ini adalah lebih bersih dan lokasi ini menurut golongan ini adalah lebih baik, dan setiap golongan mulai dalam pilihannya yang baru, permulaan yang baru dengan upaya-upaya keras yang berserakan dan tanpa garis yang jelas atau metode tertentu, namun demikian setiap kelompok mengajak bergabung setiap pemuda yang ia ketahui dan mengajak mereka untuk meninggalkan dakwah yang sedang mereka lakukan serta cepat bergabung dengannya. Dan dilakukan perbandingan antara jabhah-jabhah itu dan dikumpulkan sumbangan serta dikerahkan segala kemampuan dan tenaga, kemudian tidak lama dan dengan mudah dan entengnya engkau melihat mereka merubah pilihan barunya dan meninggalkan jabhah itu atau tempat itu serta mereka meloncat ke jabhah lain atau lokasi lain atau aktivitas baru karena momen yang mendadak muncul atau jabhah baru di buka….dan begitu seterusnya.

Suatu hari di Hazwah dan hari lain di Aqiq

Di Adzib suatu hari dan hari lain di Khulasha

Kadang singgah di Nejd dan kali lain

Di Sya’bil qhawir serta lain kali di istana Taima

Maka tidak aneh kalau orang yang keadaannya seperti ini tidak merealisasikan suatu tujuan atau sampai ke target atau ia tidak menyelesaikan program; apalagi bisa mendirikan suatu Negara. Orang awam di (negeri) kami berkata; banyak berpindah sedikit dapat buruan.

Wa ba’ du:

Ini adalah kekeliruan-kekeliruan yang sama sekali tidak boleh didiamkan, dan setiap jama’ah yang menghargai  dirinya sendiri dan menjaga usaha para pemudanya dan umur-umur mereka serta peduli terhadap kemampuan-kemampuan, tenaga-tenaga dan harta-harta kaum muslimin; adalah tidak mungkin melakukan prilaku-prilaku semacam ini serta bertindak seperti tindakan-tindakan semacam ini, sehingga ia setiap hari menggugurkan dan menelantarkan langkah-langkah dan jarak-jarak yang telah ia tempuh, dan ia malah serabutan dalam memilih tanpa sedikitpun pengkajian di sini dan di sana tanpa menentukan tujuannya atau programnya serta tanpa mengetahui apa yang ia inginkan. Padahal Allah ta’ala berfirman:

وَلا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ

Dan janganlah kamu merusak (pahala ) amalanmu” (QS. Muhammad: 33)

Dan juga berfirman:

وَلا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali,” (QS. An Nahl: 9).

Saya memohon kepada Allah ta’ala agar Dia mengilhamkan kepada kita kematangan pemikiran, dan Dia menyatukan kalimat kita serta memenangkan kita terhadap orang yang memusuhi kita.

*******

Bersambung…

sumber : http://millahibrahim.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s