Renungan Terhadap Hasil-Hasil Jihad (Bag. 10)

Renungan Ke Tujuh Belas

Pengkerdilan Jihad

Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya serta orang yang mengikutinya.

Allah ta’ala berfirman:

لا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا

“Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekkah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu,” (QS. Al Hadid: 10).

Ayat ini menjelaskan besarnya pahala dan derajat orang yang beramal untuk dienullah dan bejihad di jalannya dengan jiwa dan hartanya sebelum Allah membukakkan (negeri) bagi kaum muslimin dan (sebelum) Dia memberikan tamkin bagi mereka di bumi ini…

 

Itu dikarenakan Anshar sebelum penaklukan adalah orang-orang yang asing lagi sedikit “Islam muncul di awal dalam kondisi asing dan akan kembali asing seperti awal munculnya”, adapun setelah penaklukan maka sesungguhnya Anshar adalah berdatangan, bermunculan cepat dan banyak….

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (١) وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا (٢)

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong”, (QS. An Nashr: 1-2).

Hari ini setelah lenyap Daulatul Islam dan berkuasanya negara murtad kafir musyrik, dan Iraq diembargo dirham dan gandumnya dan Syam dihalangi dari takaran dan dinarnya serta Mesir dihalangi dari irdabb (takaran) nya dan dinarnya dan kita kembali seperti semula sebagaimana yang telah dikabarkan Nabi yang jujur terpecaya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang diriwayatkan Muslim dalam Kitabul Fitan, dan Negara-negara menolak dari syari’at Islam dan Islam kembali asing seperti semula, maka kita merasakan realita nyata ayat-ayat ini.

لا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ

“Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukkan(QS. Al Hadid: 10 ).

Dan kami selalu mengingatkan kaum muslimin dengannya…

Wahai kaum muslimin, perhatikanlah keadaan ansharuddien sebelum penaklukan bagaimana mereka itu dan jadilah kalian seperti mereka…

Janganlah menyibukan kalian dari nushrah dienullah dan syari’atnya ini sesuatupun dari kehidupan dunia ini, bahkan termasuk jangan pula sesuatu dari masalah-masalah yang marjuh dalam urusan dien ini…

Maka hendaklah cita-cita kalian, kesibukan yang menyibukan kalian serta upaya serius kalian itu adalah amal demi merealisasikan penaklukan serta tamkin buat panji tauhid dan syari’atnya. Sedangkan hal ini mengharuskan cita-cita yang tinggi, amal yang serius, ilmu akan syari’at, pemahaman akan realita, serta bala tentara yang peka yang memikul cita-cita dien ini pagi dan petang disetiap waktu dan masa “Orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari (QS. Al An’am: 52), dan sebagaimana sifat mereka yang ada dalam hadits, mereka senantiasa berusaha serius…

لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على أمر الله لا يضرهم من خالفهم

“Senantiasa sekelompok dari umatku nampak di atas perintah Allah, mereka tidak terganggu oleh orang yang menyelisihi mereka”

Mereka berlomba-loba dalam hal itu dan bergegas, ia adalah kesibukan mereka, cita-cita mereka, kehidupan dan kematian mereka, yang mana mereka mengerahkan untuknya masa muda mereka dan umur mereka bukan sisa tenaga mereka dan pinggiran waktu-waktu mereka…

Dan mereka membawanya bersama mereka di mana saja mereka singgah di setiap lembah dan pertemuan, dan mereka berpindah dengannya di setiap tempat di saat mereka menetap dan bepergian,

قَالَ كَذَلِكِ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَلِنَجْعَلَهُ آيَةً لِلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِنَّا وَكَانَ أَمْرًا مَقْضِيًّا (٢١)

“Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada,” (QS. Maryam: 21)

Maka dakwahku adalah taman dan kebun yang indah milikku yang aku bawa bersamaku di dadaku dan saya membelanya di mana saja saya pergi dan berlabuh, aku sibukkan manusia dan aku ketuk mereka dari pembaringan-pembaringan mereka seolah aku penyemangat pasukan yang menghati-hatikan mereka dari penelantaran dien ini atau (dari) ikut serta dalam menjauhkan syari’atnya dan menegakkan syari’at musuh-musuhnya, dan saya bangkitkan semangat kaum muslimin untuk nushrah dien mereka dan sumber kejayaan mereka, dan beramal demi mengembalikan kejayaan-kejayaannya dengan mengorbankan hal yang mahal dan berharga dalam rangka upaya memusnahkan para thaghut dan penegakkan syari’at tauhid…

Saya tidak tenang dan saya tidak terpengaruh dengan orang-orang yang menyelisihi atau yang menggembosi, dan saya tidak merasa sepi di jalan atau merasa menyendiri karena sedikitnya anshar dan orang-orang yang mendukung atau menganggapnya berat karena banyaknya rintangan, penderitaan, tantangan dan ujian…

Atau menganggapnya panjang karena banyaknya musuh dan orang-orang yang mencela…

Saya tidak cenderung kepada dunia atau membatalkan bai’at ini atau saya meninggalkan perjanjian ini sampai saya berjumpa dengan Allah [Saya tidak tersungkur kecuali dalam keadaan berdiri] dengannya.

Dan keadaan saya ini seperti ungkapan orang arab tentang orang yang tersengat kalajengking:

Orang yang tersengat tidak akan tidur dan tidak akan membuat (orang) tidur

Dan ungkapan mereka:

“Tidak akan tidur orang yang dendam

Maka saya tidak tenang dengan kehidupan dan saya tidak bahagia sampai melihat panji tauhid dikibarkan tinggi-tinggi lagi jaya.

Inilah… Dan orang yang memperhatikan keadaan umat dan kemampuan-kemampuan Khawaashshul Mujahidin di dalamnya dan sedikitnya anshar mereka, kemudian dia memperhatikan tabi’at peperangan dunia yang dikobarkan terhadap mereka, dan persekongkolan musuh-musuh di dalam dan di luar serta persatuan mereka terhadap mereka dan dien mereka ; maka ia mengetahui bahwa nushrah haqiqiyyah yang dibutuhkan dien pada hari ini dalam rangka penaklukan itu bukanlah termasuk sembarang macam, dan bahwa rijal (laki-laki) yang pantas untuk hal itu dan menguasainya serta mengambilnya dengan sebenar-benarnya adalah bukan sembarang rijal dan bahwa amal-amal qitaliy, pilihan-pilihan jihadiyyah, sarana-sarana dan alat-alat yang mesti untuk tamkin bukanlah serabutan atau asal semangat tanpa dikekang dengan batasan dan diikat dengan kendali, akan tetapi hal besar dan proyek agung itu tidaklah layak dan sembarang tindakan namun ia membutuhkan -sebagaimana ungkapan- kepada tindakan orang yang mengobati terhadap orang yang dicintainya

Maka ia membutuhkan kepada ‘amal, jihad dan upaya serius dari macam khusus, jihad yang matang dan peka, serta pimpinan yang lurus lagi paham, yang mengambil jihad sebagai proyek yang terprogram sempurna bukan sebagai reaksi balasan dan getaran semangat belaka, namun mestinya berinteraksi bersamanya (seperti perniagaan) seorang pedagang yang pandai yang paham benar mempelajari proyeknya dengan pengkajian yang peka lagi serius dari setiap sisi-sisinya dan ia mempelajari pasarnya juga dengan pengkajian yang peka serta mencari tahu akan realitanya… dan tidaklah aneh dalam hal ini setelah Allah menamakan jihad ini sebagai tijarah (perniagaan), Dia ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (١٠) تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (١١)

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukan sesuatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya,” (QS. Ash-Shoff: 10-11).

Perniagaan adalah kelihaian dan kemahiran serta membutuhkan akan kecakapan, pengalaman dan pengaturan, dan ia itu tidak seperti penjualan yang asal-asalan dan tidak seperti pasar kaget yang berpindah-pindah atau seperti para pedagang yang memakai gerobak yang hilir mudik kesana kemari, kadang seseorang di antara mereka mencoba macam ini terus mengalami kerugian terus mencoba macam ini sehingga dapat keuntungan beberapa sen saja…

Akan tetapi tijarah itu pada hari ini dikaji di lembaga-lembaga dan fakultas-fakultas, dan para ahlinya adalah spesialis dan mendalami cabang-cabang ilmunya sebelum terjun ke kancah bisnis. Oleh sebab itu engkau bisa melihat keuntungan orang-orang macam mereka dalam tijarah ini terutama bila mereka itu lihai lagi mahir yang telah mengecap eksperimen-eksperimen dan banyak pengalaman, mereka telah mengetahui rahasia-rahasianya, jalan-jalan masuknya, jalan-jalan keluarnya, musim-musimnya, macam-macam permintaan dan penawaran di dalamnya… kamu bisa melihat keuntungan mereka itu berlipat-lipat dan penjualannya juga bersekala besar.

Tajir (orang yang berniaga) bila tidak pandai lagi mengetahui macam-macam tijarah lagi tidak paham benar akan realitanya maka biasanya ia itu tertipu dalam tijarahnya seperti orang yang mentaruhkan modal utama hartanya.

Bila masalahnya seperti itu, maka para pelaku bisnis akhirat yang berniaga bersama Allah dengan darah, nyawa dan harta mereka adalah lebih berhak untuk paham, lihai, berwawasan benar, pandai, mengerti akan ilmu syar’iy dan paham akan realita daripada para pelaku bisnis dunia, dan tidak boleh para pelaku bisnis dunia lebih menjaga terhadap modal usahanya dan modal kawan-kawan bisnisnya daripada pebisnis akhirat…

Tidaklah boleh bagi pebisnis akhirat bersikap serabutan dalam ‘amalnya terus dia mentaruhkan modal miliknya dan modal milik ikhwannya serta partner bisnis akhiratnya.

Sesungguhnya proyek jihad yang serius yang melangkah untuk tujuan yang besar dan sasaran yang agung seperti tamkin; adalah membutuhkan kepada upaya keras yang besar dan amal yang besar yang selaras dengan besarnya tujuan ini ; amal yang saling melengkapi yang tidak memisahkan jihad dari peran besar ulama yang aktif, dan tidak memisahkan dari upaya keras du’at mukhlishin serta tidak memperkecilnya pada amal-amal yang bersifat balas dendam dan reaksi-reaksi balasan yang berceceran…

Tidak boleh pula dinodai atau dikotori oleh perbuatan-perbuatan perampokan bersenjata atau pencurian pada kaum muslimin ahli maksiat atau orang-orang yang mencurigakan dari kalangan pria dan wanita, serta tidak boleh dipinggirkan atau dikerdilkan dalam tindakan penyerangan yang bertargetkan orang-orang yang lemah dan tidak ikut berperang dari kalangan kuffar, baik mereka itu wanita maupun anak-anak…

Dan tidak boleh memencarnya dan menyia-nyiakan hasil-hasilnya dengan memperlebar lingkaran konflik dan memencarnya dengan cara memancing dunia seluruhnya terhadap mujahidin serta menyatukan Negara-negara mereka atas mujahidin itu, tanpa program yang jelas dan aulawiyyat tertentu atau fase-fase yang dikaji, sehingga ia tidak memperhatikan sama sekali sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan marhaliyyah jihad di dalamnya serta sikap mendahulukan musuh yang dekat dan yang lebih utama…

Tidak boleh pula memalingkan pemuda-pemuda umat ini dan kemampuan-kemampuan mereka seluruhnya kepada operasi-operasi nikayah yang berceceran yang tidak meletakkan pada perhitungannnya program tamkin sebagai tujuan atau strategi…

Orang yang mengamati qital yang mana para pemuda kita hari ini menyibukkan diri dengannya di seluruh belahan bumi, ia akan melihatnya berceceran lagi berserakan pada operasi-operasi yang bersifat nikayah saja yang kadang nampak di sana dan kadang di sini.

Jarang dilihat orang yang melakukan dengan sungguh-sungguh, serius dan penuh perhitungan serta pengkajian amalan yang saling melengkapi yang meletakkan dalam program-programnya dan aulawiyyatnya tamkin dan penegakkan daulatul Islam sebagai tujuan strategi seperti istilah mereka….

Dan dalam setiap kali kami hampir merasa senang dengan harum sesuatu dari hal itu sampai akhirnya para mujahidin -dengan kedangkalan pandangan para pimpinan mereka- menyerahkan buah jihad mereka dan darah-darah mereka kepada kotak-kotak pemungutan suara supaya muncul di hadapan kita dari dalam kotak itu setiap orang yang busuk dan bejat yang mengokohkan pilar-pilar kursi kekuasaan mereka di atas kepingan-kepingan para pahlawan dan kepala-kepala para syuhada…

Tatkala Thaliban telah menyisir seluruh wilayah Afghanistan dan tidak tersisa kecuali wilayah utara, maka mayoritas manusia dan di antaranya kelompok besar dari kalangan yang bersemangat berpihak kepada Afghanistan dan Thaliban, (mereka) berdiri menonton saja dan mereka sibuk dalam mengada-adakan alasan-alasan kenapa mereka tidak berperang bersama Thaliban, dan bahkan sebagian mereka malah pergi i’dad dan berlatih untuk operasi-operasi yang bersifat nikayah belaka di sana sini dan dia meninggalkan atau melakukan taqshir dalam mengokohkan dan menguatkan tamkin dan Negara (Thaliban) yang mana dia telah menempuh jarak jauh dan mengencangkan jok untuk menujunya serta ia pernah berlindung di payungnya, dan ia telah menghabiskan umurnya sebelum itu seraya memimpikannya….

Sesungguhnya api yang berkobar hari ini di sekitar kita di Palestina, Iraq, Afghanistan, Chechnya dan yang lainnya, serta pemandangan-pemandangan dan berita-berita pembunuhan, penyiksaan, pengusiran, penghinaan dan penodaan kehormatan yang dilakukan Yahudi dan Amerika serta kaki tangan mereka dan di penjara-penjara mereka di Abu Ghraib, Guantanamo & Baghram serta penjara-penjara di ibu kota-ibu kota kawasan Arah dan non Arab…

Di samping pemandangan dua menara kembar WTC serta api yang melahapnya saat ia runtuh… semua itu tanpa diragukan adalah berpengaruh dengan kehangatannya terhadap semangat para pemuda dan mujahidin dan mendorong sebagian mereka untuk segera melakukan operasi apa saja yang melegakan dada mereka dan dengannya mereka melakukan balasan buat umat, agama dan ikhwan mereka kaum muslimin, dan dengannya mereka meniru operasi para pendekar serangan New York dan Washington…

Di sini saya tidak ingin memadamkan kobaran kehangantan pada dada para pemuda mujahid itu, dan saya tidak berupaya seperti upaya yang dilakukan oleh banyak kaum qa’idun dan para pematah semangat, untuk mendinginkan para pemuda, membekukan emosional mereka serta mematikan semangat dan ghirahnya, saya berlindung kepada Allah ; dia menyebarkan tsaqafah ayani negeri yang mana ia adalah buah yang busuk dari buah-buah ‘aqidah irja modern yang tengkurap di bawah sepatu-sepatu para thaghut; namun yang saya minta dan saya akui dan saya berupaya ke arah sana serta saya ingatkan kepadanya adalah bahwa keterpengaruhan dengan kobaran semangat ini mesti positif bukan keterpengaruhan yang negatif yang menggugurkan atau memutus program-program i’dad yang serius atau melenceng darinya atau memperkeruh selera Islamiy yang asli dan pilihan-pilihannya yang syar’iy yang kokoh teratur lagi benar, terus (malah) mendorong pada pilihan-pilihan yang berlandaskan semangat belaka yang tidak mempertimbang di dalamnya suatu yang paling bermanfa’at dan paling sempurna dalam membalaskan bagi Islam dan pemeluknya…

Karena pembalasan yang sebenarnya dan yang jitu adalah hanya sesuatu yang benar-benar membahagiakan kaum muslimin serta menggeramkan kaum musyrikin dan murtaddin dengan menjatuhkan panji-panji mereka, memutuskan barisan mereka, dan memusnahkan Negara mereka serta meninggikan panji tauhid dan dien ini dengan tamkin baginya dan pemberlakuan ajarannya, sedangkan ini tidak akan terealisasi pada zaman kita kecuali dengan cara kaum muslimin dan mujahidin berinteraksi dengan jihad ini sebagai masyru’ mutakamil nadlij (proyek yang komprehensif lagi matang)… yang memiliki program yang jelas dan serius dan pimpinannya yang peka realita serta khithabnya yang matang lagi asli, dan dengan hubungannya yang jelas, tujuannya (targetnya) yang tertentu yang tidak berubah-ubah, sarana-sarananya yang masyru’ lagi bersih dan barisan tentaranya yang ikhlas lagi terikat dengan batasan-batasan syari’at yang paham benar akan realiita mereka lagi memiliki kejelasan tentang jalan orang-orang kafir…

Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mampu membalaskan dendam dirinya terhadap penduduk Thaif tatkala mereka mengusirnya dan menyakitinya serta mereka memprovokasi orang-orang bodoh untuk menyakitinya sehingga mereka melempari kedua kaki beliau dengan batu sehingga berdarah, adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mampu untuk membalas dendam dari mereka dan dari orang-orang kafir Quraisy yang menyakitinya dan menyakiti para sahabatnya juga, di hari saat malaikat gunung mendatanginya dan menawarkan hal itu kepada beliau, namun beliau menolak membalaskan dendam bagi dirinya, dan beliau sabar, tabah, berupaya keras, ijtihad dan jihad bersama para sahabatnya sampai akhirnya Allah memberikan tamkin bagi mereka, sehingga pembalasan yang sebenarnya lagi sempurna bagi dien ini terjadi dengan gambarannya yang paling mulia saat terkibar tinggi panji tauhid dan jatuh terpuruk panji kemusyrikan dan jadilah kaum Quraisy dan Thaif serta yang lainnya dalam genggamannya, dan terjadilah penaklukan sehingga beliau membunuh sebagian mereka dan mema’afkan sebagian yang lain serta mereka masuk ke dalam agama Allah berbondong-bondong…

Sesungguhnya kita hari ini merasa pedih karena apa yang kita lihat berupa taqzim (pengkerdilan) dan tahjim (pembatasan bentuk) bahkan maskh (pengrubahan wajah) jihad dengan sebab keterpengaruhan yang bersifat negatif oleh pengaruh-pengaruh kobaran api-api itu…

Sungguh jihad telah dikerdilkan dan dibatasi bentuknya dari keberadaannya sebagai sebuah proyek yang target terbesarnya adalah mengeluarkan manusia dari peribadatan terhadap makhluk kepada peribadatan terhadap Allah saja dan memberikan tamkin bagi mereka di muka bumi untuk merealisasikan tauhid dan penghambaan kepada Allah saja…

الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الأرْضِ أَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الأمُورِ (٤١)

“(Yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat baik dan mencegah dari perbuatan yang munkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan,” (QS. Al Hajj: 41).

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (٥٥)

“Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku…”  (QS.  An Nur: 55)

Jihad dikerdilkan dari bentuknya yang agung ini…

Pertama ia dilepas dari lisannya yang berbicara dan khithabnya yang matang lagi inti (yaitu dakwah) dan dipisahkan darinya… dan yang mana para penegak jihad ini tidak lagi memperhitungkan dakwah itu atau mempertimbangkan mashlahat-mashlahatnya dan penghindaran mafsadah-mafsadah darinya dalam amalan-amalan yang mereka pilih dan dalam aulawiyyat yang mereka kedepankan…

Kemudian jihad dibatasi bentuknya pada qital yang bersifat nikayah atau tindakan-tindakan inkarul munkar yang berserakan yang tidak merealisasikan tujuan-tujuannya dan buah-buah hasilnya tidak langsung selagi hal-hal itu dilakukan tanpa tamkin…

Kemudian ia dipincangkan dengan membatasinya pada operasi-operasi pembalasan dan reaksi-reaksi balas dendam yang tanpa dipertimbangkan dan tanpa dikaji.

Kemudian dibatasi dan dibatasi terus bentuknya sampai pada tahap sebagian mereka menjadikannya sebagai reaksi-reaksi tanggapan spontan yang mana mereka digusur dan dipancing kepadanya oleh musuh-musuh mereka, kemudian dengan hal itu musuh-musuh tersebut mengarahkan qital mereka dan memanfaatkan hasil-hasilnya pada apa yang mereka sukai…

Akhirnya kita mendengar dan melihat setiap dua atau tiga pemuda berkumpul tanpa sedikitpun kemampuan ‘askariy atau pengalaman organisasi serta tanpa memiliki ilmu akan realita dan juga tanpa kepahaman akan syar’iy, dan tanpa kelayakan yang mendorong mereka untuk itu kecuali semangat kosong, engkau melihat mereka berkumpul dengan sekedar mereka mendapatkan senjata, terus mereka mengangkat salah seorang di antara mereka sebagai amir, biasanya yang melandasi pilihan itu adalah karena pemberani atau karena ia unggul atas mereka pada masa jahiliahnya sebelum mereka kenal agama dan bisa saja di antara mereka ada yang melebihi dia dalam hal pemahaman atau ilmu, mereka tunduk kepadanya dan mengedepankannya, tidak ada yang mebuat dia dikedepankan kecuali karena semangat kosong itu, kemudian mereka memberikan kepada perkumpulan mereka yang lemah ini sebuah nama -dan ini misteri- yang memberinya keberadaan dan bentuk yang lebih besar dari yang sebenarnya dan ia adalah suatu yang menguntungkan dan membahagiakan musuh-musuh Allah dengannya… kemudian mereka menyerbu bioskop atau gereja atau husainiyyah atau yang serupa itu… maka program macam apa ini? dan manhaj macam apa serta buah hasil macam apa yang mereka harapkan dari hal itu buat Islam di zaman ini? dan tingkat yang lugu dan akal yang dangkal macam apa yang mendorong kepada penyia-nyiaan umur para pemuda itu serta menjebloskan mereka setelah itu ke dalam penjara untuk melanjutkan sisa kehidupan mereka di dalamnya?

Dan apakah pola pikir serta pilihan ini selaras dengan level peperangan dunia terhadap Islam hari ini??

Ini di luar orang yang di antara mereka menyerang wanita-wanita yang tabarruj dengan klaim pengingkaran tabarruj mereka dengan membakar mereka dengan bahan-bahan yang membakar atau memukuli mereka… atau merampas harta wanita-wanita yang mencurigakan dengan dalih pendanaan operasi-operasi jihad mereka yang mereka klaim !! serta hal-hal aneh dan asing lainnya…

Kemudian di awal penangkapan terhadap salah seorang di antara mereka, ia mengembat bersamanya orang yang dia kenal dan yang tidak dikenalnya dari kalangan yang dia bertamu kepada mereka atau mereka bertamu kepadanya, atau mereka yang memberikan service kepadanya atau memberikan kepadanya nasehat, agar setelah itu dinas-dinas keamanan tampil di hadapan kita untuk mengumumkan keberhasilannya menangkap (orang-orang) organisasi teroris yang berbahaya dan ia bangga dengan keberhasilannya menggagalkan rencana-rencana teror yang besar dan program-programnya yang menakutkan, supaya dengan itu mereka meraih jabatan-jabatan, penghargaan-penghargaan dan keistimewaan-keistimewaan di atas punggung para pemuda lugu itu yang andai engkau memeriksa mereka tentu engkau mendapatkan kerapuhan aqidah, ilmu, agama dan akhlaq nampak pada mereka, dan sungguh saya telah melihat sebagian orang-orang macam ini di penjara tidak mampu sabar dari (meninggalkan) tontonan televisi dan tidak tahan dari meninggalkan rokok, mereka itu dibesar-besarkan oleh musuh-musuh Allah dan musuh-musuh itu juga membesar-besarkan tindakan mereka, organisasi mereka dan rencana-rencana mereka agar dengan hal itu mereka menuai kepentingan-kepentingan bagi mereka dari tuan-tuan mereka Amerika, atau agar dengan hal itu mereka memiliki alasan bagi setiap penindasan yang mereka lakukan terhadap Islam dan muslimin. Sebagian mereka mengaitkannya dengan Al Qa’idah dan sebagiannya dengan Az Zarqawiy dan seterusnya… Dan sungguh saya telah melihat sebagian mereka itu absen dari shalat jama’ah bersama kami di ruangan penjara sesekali, karena takut walang sangit yang banyak di sana… Adapun sikap-sikap mereka di persidangan maka jangan ditanya tentangnya…

Sumpah, wahai saudara-saudaraku sesungguhnya ini bukan berasal dari sekedar khayalan saya, akan tetapi ia adalah realita pahit yang kami bergaul hidup bersama para pemerannya, kemudian mereka menamakannya jihad !! yang dengan sebabnya mereka menyeret ikhwan mereka ke penjara dan menguasakan musuh-musuh Allah terhadap mereka, serta mereka menjadikan dari diri mereka ini bahan tertawaan dan permainan di tangan musuh-musuh Allah seraya mereka memuaskan dada mereka dengannya dan mereka menggunakan kasus-kasus mereka ini dan memanfaatkannya di Koran-koran mereka dan pemberitaan mereka untuk mencoreng setiap da’i dan mujahid…

Pencorengan macam apa terhadap jihad ini ?? bahkan pelecehan dan penghinaan macam apa terhadapnya ?

Dan pencorengan macam apa terhadap tentaranya dan para pahlawan yang sebenarnya …?

Demi Allah ia itu tidak kurus sehingga bisa ditawar oleh orang-orang yang pailit…

Sampai kami mendengar tentang orang yang menyeret para pemudi yang pendek (pandangannya) dan mendorong mereka atau memanfaatkan semangat mereka dalam hal-hal itu, yang mana menjatuhkan mereka setelah itu sebagai mangsa di tangan orang-orang yang tidak menjaga tali kekeluargaan dan perjanjian pada orang mukmin dan mukminah dan mereka menginginkan perbuatan keji itu menyebar di tengah orang-orang mukmin.

Bila kita naik di tangga ini satu tingkat, maka kita mendapatkan sebagian orang hidup di kamp-kamp mujahidin atau di front-front qital, dan dia belajar tentang pembuatan peledak darinya atau dari yang selainnya, dia mempraktekkan di jalan-jalan kaum muslimin, (bentuk) macam yang aneh lagi asing dari jihad; dia melakukan peledakan-peledakan yang buta yang dia sebarkan di sana sini, tidak menjaga orang muslim dan tidak menghindarkan di dalamnya dari wanita atau anak-anak atau yang lainnya, dan dia tidak mempertimbangkan mashlahat dan tidak menghindari mafsadah.

Faktor-faktor pendorongnya kadang adalah pengingkaran sebagian kerusakan dan kemungkaran yang pada dasarnya tidak bisa dihabisi kecuali dengan tamkin, dan tidak bisa dimusnahkan dengan peledakkan bar atau bioskop atau club, jangan kamu tanya tentang orang yang terbunuh dalam peledakan tempat-tempat ini dari kalangan ahli maksiat (yaitu) orang-orang yang mana pembunuhan tidak dianggap sebagai sangsi syar’iy bagi mereka…

Kadang pendorong hal-hal itu adalah balas dendam dari sebagian musuh-musuh Allah, dan seolah hal itu tidak bisa terealisasi kecuali dengan mobil-mobil bermuatan peledak dan pipa-pipa berisi peledak yang tidak membedakan terutama saat ditaruh di jalan kaum muslimin antara kaum musyrikin dan orang-orang baik…

Biasanya hal itu terjadi sebagai peniruan dan penjiplakan terhadap sebagian operasi-operasi mujahidin yang rapi dengan taqlid buta tanpa pemahaman dan pengkajian serta tanpa sedikitpun pengalaman atau ilmu atau tanpa menghindari dari darah orang-orang yang terjaga lagi tak berdosa…

Seandainya mereka itu mengamati pada operasi-operasi mujahidin yang mana para pemuda itu bersemangat kepadanya dan berupaya menirunya, tentulah mereka mendapatkan bahwa ‘amaliyyat terbesar masa ini telah dilakukan oleh para pendekarnya tanpa mereka menembakkan satu tembakan pun, akan tetapi mereka melaksanakannya dengan kepandaian, baiknya perencanaan dan keunggulan akal mereka dengan guntingan kertas…

Jadi masalahnya tidak mesti selalu dengan bahan peledak dan otot, akan tetapi ia dengan bagusnya perencanaan, persiapan dan pemikiran… sebagaimana ungkapan:

Tajamnya pendapat dalam peperangan adalah lebih berhasil daripada tusukan dan pukulan…

Saya ingat bahwa seorang mudarrib (pelatih) dari mujahidin di penghujung diklat (untuk pembumihangusan dan penghancuran), ~dan ia adalah ilmu pengembangan dari peledakan yang membahas tentang perhitungan-perhitungan yang mesti untuk merobohkan dan menghancurkan bangunan dan jembatan serta yang lainnya dengan bentuk-bentuknya, beton-betonya, macam pipa yang dibutuhkan serta volume bahan-bahan peledaknya~ ; dia bertanya kepada para peserta pelatihan tentang bangunan besar yang pada pondasinya terdapat besi-besi dan beton serta yang lainnya ini dan itu, sedangkan musuh berada di lantai sekian darinya, maka jawaban-jawaban mayoritas mereka adalah jawaban yang benar secara matematika dengan menentukan macam pipa, tempat menguburnya dan volumenya yang mencapai beberapa ton untuk merobohkan gedung itu dan menghancurkannya bersama si musuh itu ; namun demikian ternyata sang mudarrib menyalahkan mereka semua dan jawabannya, sehingga mereka terheran-heran, dan tatkala bertanya kepadanya tentang jawaban yang benar, maka ia berkata: jawaban yang benar adalah si mujahid naik ke lantai yang si musuh ada di sana dan menghabisinya dengan pisau atau pistol, karena di negerinya dan dalam kondisi peperangan orang-orang yang tertindas dia tidak bisa menyediakan volume yang besar dari bahan-bahan peledak ini, ini pertama, adapun yang kedua maka karena dia melakukan operasi di negeri yang walaupun ia adalah darul kufri secara istilah karena penguasaan di dalamnya berada pada hukum orang-orang kafir; akan tetapi mayoritas penduduknya adalah mengaku Islam sedangkan volume bahan-bahan peledak tadi melebihi batasan musuh yang dicari… Sang mudarrib yang cerdik ini ingin dengan masalah ini mengalihkan pandangan sang mujahid kepada realitanya dan kepada pentingnya menggunakan pikiran dan pemahaman dalam perhitungan-perhitungan yang lain yang lebih penting dan lebih dalam dari perhitungan volume bahan peledak dan macamnya… karena masalah itu tidak selalu terpaku lagi terbatas pada bahan-bahan peledak yang di mana jihad tidak layak kecuali dengannya. Dan tidak ragu bahwa berinteraksi dengan jihad dengan kedangkalan itu dan tanpa mempertimbangkan perhitungan-perhitungan ini adalah termasuk pengkerdilan jihad dan penyempitan bentuknya…

Di antara pengkerdilan jihad juga adalah tampil untuk memimpin di dalamnya atau menerima untuk memimpin amal tandhimiy orang-orang yang tidak layak untuk memegang hal itu sama sekali, dan mereka tidak memiliki sedikitpun tingkatan pengalaman organisasi atau hatta ‘amal syar’iy yang tidak cukup dengan sendirinya untuk ‘amal seperti ini, dan mereka tidak mengetahui apa yang terjadi di sekitar mereka dalam dunia realita, dan bagaimana mereka mengetahui sedangkan saya telah melihat sebagian orang-orang yang diberi kepercayaan memimpin organisasi-organisasi bersenjata mengharamkan mengamati buletin-buletin informasi dan mereka tidak mengikuti perkembangan-perkembangan berita baik dalam koran maupun radio, mereka dipercayai amanah atas nyawa-nyawa para pemuda mujahid tanpa mereka memiliki sedikitpun pengetahuan akan prinsip-prinsip amal tandhimiy, dan mereka dipercayai amanah atas harta-harta mujahidin yang disumbangkan kaum muslimin karena kecintaan kepada jihad, pembelaan bagi mujahidin dan andil dalam melindungi Islam dan mujahidin, keistimewaan mereka yang menyebabkan mereka memegang jabatan-jabatan itu dan menggunakan harta-harta ini dan mengarahkan para pemuda itu dengan sikap ngawur mereka adalah dua hal ; Pertama: Karena mereka menganut paham yang paling keras bukan yang paling benar, oleh sebab itu bagi mereka di dunia ini seluruhnya tidak ada jihad kecuali jihad mereka, dan tidak ada mujahidin yang mengikuti kelompok yang menegakkan perintah Allah kecuali mereka. Adapun hal yang ke dua: Maka ia adalah kebutaan mata mereka dari aib-aib orang yang menempatkan mereka pada jabatan-jabatan itu, dan pembeoan mereka kepadanya dengan: setuju dan ya… ya… dan ketidakmenyelisihan atau penentangan mereka terhadap sesuatupun dari pilihan-pilihan atau kerancuan-kerancuannya, dia memicingkan pandangan mata dari sikap ghuluww dan keganjilan-keganjilan mereka, dan dia memandang pada mereka peninggalan salaf, maka mereka pun memicingkan pandangan mata dari kerancuannya dan kelemahan pandangannya… Amat disayangkan sekali para pemuda kaum muslimin dan kemampuan-kemampuan mereka, mereka menyerahkan kepada pimpinan-pimpinan macam ini upaya dan kerja keras mereka yang berceceran, kemudian kepemimpinan tersebut menyerahkan mereka dan menyerahkan umur-umur mereka kepada rutan-rutan dan penjara-penjara… Dan amat disayangkan harta kaum muslimin, bagaimana ia diarahkan dengan kecerobohan mereka kemudian di akhir perjalanan ia menjadi ghanimah yang mudah di tangan musuh-musuh Allah…

Dan oleh sebab itu, sesungguhnya di antara bentuk pengkerdilan sarana-sarana jihad dan alat-alatnya juga adalah interaksi sebagian orang bersama ‘amal tandhimiy musallah (aktivitas organisasi bersenjata) dengan serampangan dan kedangkalan yang mematikan tanpa ada pengalaman sebelumnya dan tanpa kepekaan keamanan atau hal lainnya yang dibutuhkan untuk aktivitas macam ini. Dan saya mengetahui orang yang berlomba-lomba menyambar dan merekrut pemuda mana saja yang ia lihat bersama kami atau ada di majelis-majelis kami karena sekedar mereka melihat padanya sesuatu dari semangat dan kecintaan dakwah ini, dan mereka menawarkan kepadanya sejak awal untuk ikut bergabung dalam organisasi mereka, dan tentunya mereka meminta darinya dengan penuh kedunguan dan mereka mencatatnya dari majelis-majelis kami, dan mereka mengetahui bahwa ia lebih dekat kepada kami; (mereka meminta) agar ia tidak memberitakan kepada kami rahasia-rahasia mereka, oleh sebab itu termasuk suatu yang menggelikan lagi menyedihkan adalah ia kembali merujuk kepada kami untuk menanyakan tentang orang-orang yang merekrut tadi apakah mereka itu tsiqat dan apakah kami merekomendasikan mereka atau tidak? dan itu setelah ia mengetahui apa yang ada pada mereka berupa aktivitas organisasi dan rencana-rencana dan impian-impian dengan segala rinciannya yang membosankan. Alangkah mudahnya musuh-musuh Allah menyusup ke dalam perkumpulan-perkumpulan macam ini, dan alangkah mudahnya mereka masuk ke dalamnya dengan sebab kedangkalan dan keluguan ini, dan bila mereka tidak melakukan hal itu, maka alangkah cepatnya ia dibocorkan oleh sebagian orang yang mendapatkan tawaran akan hal itu terus mereka tidak setuju atasnya. Sikap ngawur atau (kesembronoan) dalam berorganisasi ini dilakukan oleh sebagian orang yang intisab kepada gerakan jihad –amat disayangkan– padahal saya mengetahui sebagian orang yang intisab kepada organisasi-organisasi bumi dan juga organisasi-organisasi Islam yang kotor secara syar’iy dan yang dicemoohkan dan dikeritik oleh para jihadiyyun itu…!! Saya melihat mereka professional dalam amal tandhimiy dan menguasainya dengan baik sekali; di mana engkau melihat seseorang bergabung dengan organisasi mereka bertahun-tahun dia naik secara bertahap dalam tangga-tangga organisasi mereka tanpa dia sadari, dan diserahkan kepadanya tugas-tugas dan tanggung jawab-tanggung jawab sampai ia mencapai pada tahap di mana di dalamnya dia fanatik pada mereka dan para syaikh mereka atau para tokoh mereka tanpa disodorkan kepadanya suatu haripun satu kalimat tandhim atau tanpa ia mendengar kalimat imarah atau bai’at atau yang lainnya, oleh sebab itu engkau melihat kekeliruan-kekeliruan mereka itu amat terbatas sedangkan kekeliruan yang pertama terhadap yang lainnya adalah kekeliruan yang memusnahkan yang mematikan lagi menamatkan….

Dan kelompok yang lain masih terbelakang dari kemajuan zaman dan mereka masih kuno dalam interaksi dengan peralatan yang dibutuhkan organisasi, di mana sebagian mereka tidak cakap dalam menggunakan komputer, dan bila ia menggunakannya atau mengirim surat lewatnya maka ia tidak mengambil cara kehati-hatian keamanan atau kewaspadaan; karena rasa percaya terhadapnya atau kejahilan terhadap pengawasan musuh-musuh Allah terhadapnya, sehingga bila mereka menggrebek rumahnya, maka mereka mendapatkan rincian-rincian organisasinya dan nama-nama ikhwannya dan rancangan-rancangannya tersedia di dalamnya…

Sebagian mereka masih menggunakan pada hal-hal yang berbahaya ini tulisan yang jelas lagi detail pada kertas, dan saya mengetahui orang yang rumahnya digerebek musuh-musuh Allah saat ditangkap, maka mereka mendapatkan di atas meja tulisnya rincian-rincian yang detail dan membosankan bagi tandhimnya, di mana ia tidak bisa mengelak sesuatupun setelah penangkapannya, dan dikarenakan dahsyatnya pembesar-besaran rincian-rincian dan pengakuan-pengakuan itu maka musuh-musuh Allah tidak mendapatkan suatu yang lebih pantas darinya agar mereka bisa menuduhkan kepadanya perbuatan-perbuatan yang telah dialamatkan kepada orang yang tak dikenal yang mana sebagian tuduhan itu sampai pada tuduhan pembunuhan dan penculikan bunuh yang sama sekali tidak ada kaitan dengan dia…

Tentunya kemampuan-kemampuan yang aneh lagi asing yang menampilkan mereka dan orang-orang macam mereka ke tampuk pimpinan ‘amal tandhimiy itu adalah yang membuang-buang harta kaum muslimin dalam pertaruhan-pertaruhan yang gagal, dan yang menyia-nyiakan umur para pemuda mereka, serta yang melenyapkan nyawa-nyawa mujahidin mereka dalam suatu yang tidak memberikan faidah bagi islam dan kaum muslimin, sehingga itu menyenangkan mata kaum musyrikin dan menyedihkan mata kaum muslimin…

Perbuatan-perbuatan yang rendah yang dibanggakan oleh para pelakunya dan mereka namakan sebagai jihad itu, sebagian mereka tidak malu bersamanya dari mencela para du’at dan ‘amilin bagi dienillah dari kalangan yang tidak sejalan dengan mereka terhadap kerancuan mereka, dan mereka tidak malu dari menuduh mereka dengan tuduhan duduk dan absen dari jihad serta mencela mereka dengan sebab komitmen dengan jalan dakwah, tarbiyah dan i’dad yang serius….

Oleh sebab itu, sesungguhnya di antara bentuk pengkerdilan jihad dan penyempitan bentuknya juga sebagaimana yang telah kami isyaratkan adalah pemincangannya dalam qital nikayah dan pemisahannya dari dakwah serta penyeteruannya terhadap para pengusung dakwah itu, dan pencopotan upaya keras ulama rabbaniyyin dan du’at ‘amilin serta pengeluarannya dari jihad, hal yang mengajak setelah itu untuk menyepelekan ilmu mereka, berpaling dari tulisan-tulisan mereka serta menelantarkan nasehat-nasehat mereka dengan klaim bahwa ahli tsughur lebih paham dan lebih mengetahui, sehingga dengan itu mereka mempersempit tsughurul Islam dan mengkerdilkan para ahlinya pada orang-orang yang tidak cakap kecuali tebas sana sini secara serabutan dengan jauh dari khithab jihad yang berbicara dan ruhnya yang berdenyut, untuk berbuat ngawur setelah itu dalam pilihan-pilihan bagaimana mereka suka serta untuk membuang-buang harta kaum muslimin, nyawa para mujahidin dan umur mereka dalam kegiatan-kegiatan yang mana orang-orang yang berakal sepakat atas ketidakmanfaatan atau ketidakfaidahannya bagi Islam dan muslimin, dan dikesampingkan dengan hal itu ilmu dan pengalaman ulama rabbaniyyin yang berdiri tegak dan teguh di hadapan para thaghut hari ini dan mereka tidak takluk pada iming-iming mereka atau bertekuk lutut pada ancaman-ancaman mereka, dan mereka juga tampil untuk menggugurkan syubhat-syubhat kaki tangan mereka dari kalangan ulama suu’ dan bila mereka itu bukan termasuk ahli tsughur maka di dunia ini seluruhnya tidak ada ahli tsughur kalau begitu…

Bukankah Al Imam Ahmad dalam keteguhannya pada ujian khalqul qur’an di zamannya sebagai imam ahli tsughur tanpa ada yang menentangnya, di hari saat beliau berdiri teguh di atas tsughurul Islam terbesar dan beliau menolak kehancuran Islam yang datang dari arahnya, padahal beliau ini tidak pernah sama sekali menembakkan panah satupun terhadap Romawi dan yang lainnya, akan tetapi panah-panah Al Qur’an dan Al Islam semuanya ada di tangannya seraya beliau tembakkan ke leher orang-orang yang menyimpang dan sesat, dengannya beliau menghadang syubhat-syubhat mereka dan membela aqidah Ahlussunah Wal Jama’ah, maka dengan beliau Allah kokohkan pilar-pilar millah ini dan dengan hal itu Allah mengangkat kedudukan dan penyebutannya, sehingga beliau menjadi imam Ahlus Sunnah Wal Jama’ah tanpa ada yang menentang…

Para ulama dan du’at rabbaniyyun yang menegakkan (kebenaran) karena Allah lagi melaksanakan perintah-Nya; mereka adalah para penghulu ahli tsughur dan pimpinan-pimpinan mereka yang telah menggabungkan antara ilmu dan amal dengan sabar dan yakin…

Ilmu yang menjadikan mereka layak untuk ada di depan dan memberikan bimbingan, serta untuk dijadikan oleh manusia sebagai pimpinan rujukan, sehingga mereka memberikan fatwa dengan dasar ilmu dan kepahaman, maka mereka itu mendapat petunjuk dan memberikan petunjuk

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ (٧)

”maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui,” (QS. Al Anbiya: 7), dan merekalah yang dimaksud dengan ulil amri dalam salah satu dari dua tafsir firman Allah ta’ala:

أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ

”Ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(Nya ), dan ulil amri di antara kamu,” (QS. An Nisa: 59)

Kesabaran dan keyakinan yang menjadikan mereka layak memegang imamah (kepemimpinan ) dalam dien ini:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ (٢٤)

“ Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami,” (QS. As Sajdah: 24).

Mereka tidak cenderung kepada dunia, akan tetapi mereka menentang terhadap para thaghut bumi serta kafir terhadap mereka dan kemusyrikan mereka, maka merekalah manusia yang paling berhak dengan penyebutan Ahlu Tsughur, serta manusia yang paling utama dengan firman-Nya ta’ala:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ (٦٩)

”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar-benar akan kami tunjukan kepada mereka jalan-jalan kami…” (QS. Al ‘Ankabut: 69), mereka tidak rela berada bersama-sama orang-orang yang tidak ikut berperang, sehingga dengan hal itu mereka termasuk golongan orang-orang yang mengetahui dan memahami sebagaimana yang ditunjukan oleh dalil khithab dalam firman Allah ta’ala:

رَضُوا بِأَنْ يَكُونُوا مَعَ الْخَوَالِفِ وَطُبِعَ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لا يَفْقَهُونَ (٨٧)

”Mereka rela berada berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang, dan hati mereka telah dikunci mati, maka mereka tidak memahami (kebahagian beriman dan berjihad)” (QS. At Taubah: 87) dan mafhum firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

رَضُوا بِأَنْ يَكُونُوا مَعَ الْخَوَالِفِ وَطَبَعَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لا يَعْلَمُونَ (٩٣)

“Mereka rela berada bersama-sama orang-orang yang tidak ikut perang dan Allah telah mengunci mati hati mereka, maka mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan mereka),” (QS. At Taubah: 93).

Bukankah termasuk pengkerdilan jihad, pengecilan bentuknya dan pencorengan bentuknya sikap menjauhkan jihad itu dari para ulamanya yang rabbaniy dan para du’atnya yang aktif, serta memisahkannya dari ilmu dan dakwah mereka ?

Dan sebagaimana juga bahwa termasuk penyempitan makna syahadah (mati syahid) dan pengkerdilannya adalah si mujahid meluncur untuk meraihnya tanpa melihat kepada apa yang ia sukseskan buat dien ini dengan kesyahidannya dan tanpa menempatkannya pada amalan yang paling besar dan pilihan yang paling manfaat bagi dienullah ini…

Dan begitu juga termasuk penyempitan bentuk syahadah adalah pembatasannya terhadap syahidul ma’arik (kesyahidan di medan tempur) dan memisahkanya dari orang yang terbunuh dari kalangan ulama dan du’at rabbaniyyin itu di jalan perealisasian tauhid dan dakwah kepadanya, padahal sesungguhnya mereka itu adalah termasuk para penghulu para syuhada, sebagaimana yang dikhabarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat bersabda: “Penghulu para syuhada adalah Hamzah Ibnu Abdil Muthalib dan seorang laki-laki yang menghadapi penguasa yang aniaya, terus dia memerintah dan melarangnya, kemudian dia membunuhnya…”

Bukankah termasuk pengkerdilan ribath fisabilillah juga pembatasannya di sebagian negeri, front dan tsughur tanpa yang lainnya, atau pembatasannya dalam operasi-operasi qital dan mencopotnya dari ribath untuk menjaga tsughur aqidah dan dien di hadapan para thaghut dan kaki tangan mereka dari kalangan ulama suu’ serta bergadang dan teguh di atas itu walaupun apa yang menimpa mereka berupa intimidasi, penindasan, pemenjaraan dan pengejaran ?

Bila saja penyempurnaan wudlu saat kondisi tidak menyenangkan, banyaknya langkah ke Mesjid dan penungguan shalat setelah shalat adalah ribath, bahkan itulah ribath sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang diriwayatkan Muslim; maka bagaimana dengan ribath untuk menjaga dien ini dan tegar di atas al haq di hadapan para thaghut serta bangkit menghadang kebatilan dan kekafiran mereka ?

Begitu juga bukankah termasuk penyempitan bentuk jihad sikap membatasinya pada ‘amaliyyat qitaliyyah dan mencopotnya dari hal-hal yang mana jihad tidak akan terealisasi dan tidak akan bangkit kecuali dengan hal-hal itu, berupa hal-hal yang menyempurnakannya (mukammilat) ? Bukankah termasuk pengkerdilan jihad sikap menyepelekan mukammilat itu dan menganggap kecil upaya optimal para pelakunya? padahal sesungguhnya jihad itu tidak akan tegak kecuali dengannya… bahkan ia termasuk jihad tanpa sedikitpun keraguan… Bukankah Allah ta’ala berfirman:

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah,” (QS. At Taubah: 41).

Dia mengedepankan jihad dengan harta terhadap jihad dengan jiwa… Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

جاهدوا المشركين بأموالكم وأنفسكم وألسنتكم

“Jihadilah kaum musyrikin dengan harta, jiwa dan lisan kalian,” (HR. Abu Dawud), dan ini seperti ayat itu dan tambahan jihad dengan lisan…

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من جهّز غازيا في سبيل الله فقد غزا ، ومن خلف غازيا في أهله بخير فقد غزا

“Siapa yang menyiapkan orang yang berperang fi sabilillah maka ia telah berperang, dan siapa menggantikan orang yang berperang di tengah keluarganya dengan baik maka ia telah berperang; (Muttafaq ‘alaih)

Dan dalam hadits:

إن الله يدخل بالسهم ثلاثة نفر الجنة : صانعه يحتسب في صنعته الخير ، والرامي به ، ومُنْبِلَهُ …

”Sesungguhnya Allah memasukan tiga orang ke dalam surga dengan sebab satu panah: Pembuatnya sambil mengharapkan kebaikan dalam perbuatannya, orang yang menembakkannya dan yang menyodorkan anak panahnya…”(Diriwayatkan Abu Dawud)

Dan Muslim meriwayatkan dari Abu Sa’id bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  mengirim utusan kepada Bani Lihyan, beliau berkata:

لينبعث من كل رجلين أحدُهما ، والأجر بينهما

”Hendaklah berangkat dari setiap dua orang laki-laki salah satunya, dan pahala di antara mereka berdua”.

Maka mana orang yang paham akan hal ini dan mencernanya serta mengetahui bahwa jihad sebagai proyek yang serius tidak akan sempurna dan tidak akan berhasil serta tidak akan merealisasikan maksud Allah sebagaimana yang dicintai Rabb kita kecuali dengan mencakup itu semuanya, dan tidak mengenyampingkan atau meremehkan sesuatupun darinya serta tidak menyepelekan upaya optimal para pelaksananya, karena itu semua adalah ajaran dari Allah ta’ala dan perintah-perintah yang wajib atas kaum muslimin melaksanakannya dan memenuhi panggilan itu seluruhnya, dan tidak menggugurkan sesuatupun darinya semaksimal kemampuan mereka…

Di antara akibat penyempitan jihad ini adalah engkau sangat lelah dan susah dalam menyediakan pendanaan untuk program dakwah atau program pendidikan dan keilmuan, seperti pendirian sekolah Islamiy yang sebenarnya, bagi anak-anak kaum muslimin atau proyek-proyek lainnya yang sangat dibutuhkan oleh para du’at dan mujahidin serta anak-anak mereka, berbeda halnya andaikata aktivitas itu adalah qitaliy apa saja bentuk dan caranya… Dan andikata realitanya adalah seperti itu maka siapa yang menggantikan mujahid di tengah keluarganya? dan siapa yang mendidik anak-anaknya, mengajari dan melindungi mereka saat dia tidak ada bila jihad dikerdilkan bentuknya serta bila ribath dan istisyhad dibatasi wujudnya pada qital saja ?!

Siapa yang menggantikan muqatilin di atas tsughur dakwah dan teguh di hadapan mush-musuh Allah dan kaki tangan mereka dari kalangan ulama suu’ ; dia melindungi tauhid dari syubhat-syubhat mereka, membentengi kehormatan mujahidin dari tombak-tombak mereka, dan menghadang dengan lehernya panah-panah celaan, pencorengan dan pengembosan; siapa yang melakukan itu dan menegakkannya dengan sebenar-benarnya bila jihad dikerdilkan bentuknya dan dipisahkan darinya upaya keras ulama dan du’at dengan cara memisahkan jihad tangan dari jihad lisan…?

Dan bagaimana kaum mujahidin memiliki perlengkapan dan kaum muqatilin bisa qital? dan bagaimana mereka bisa berangkat dan bergerak di jalan Allah bila jihad dengan harta dilepas dari jihad dengan jiwa dan mereka tidak mendapatkan orang yang menyiapkan perlengkapan mereka atau orang yang menggantikan posisi mereka di tengah keluarga mereka…?

Wahai kaum kami,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ (٤)

”Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh” (QS. Ash-Shaff: 4), sedangkan bangunan yang tersusun kokoh adalah setiap batu-bata darinya melengkapi yang lainnya dan mengokohkannya serta menyempurnakan bangunan dan menguatkannya, dan bila saja kurang satu batu-bata atau lebih maka bangunan menjadi cacat, kurang dan rapuh…

Ya Allah, ilhamkan kepada ikhwan saya kematangan pikiran mereka….

Di antara bentuk pengkerdilan jihad adalah pengkerdilan sarana-sarananya dan alat-alatnya, dan pembalikannya pada banyak realita menjadi tujuan-tujuan dan target-target, dan itu dengan membatasinya pada operasi-operasi yang dinamakan oleh sebagian orang sebagai operasi bunuh diri, dan kami menamakannya dengan batasan-batasannya sebagai operasi jihad; tanpa mempertimbangkan apa yang ditetapkan oleh para ulama berupa batasan-batasan dan syarat-syarat untuk membolehkannya, sampai-sampai kita mendengar berita orang yang meledakkan dirinya di depan hotel atau diskotik atau lainnya, dan perbuatannya tidak menimbulkan kecuali kerugian kecil materi saja, dan yang lain meledakkan dirinya untuk membunuh seorang polisi atau tentara atau yang lainnya yang padahal dia bisa membunuhnya tanpa menggunakan cara ini bahkan, di antara mereka ada yang meledakkan dirinya di dalam gereja atau dalam mesjid syi’ah dan seterusnya !! Maka dlarurat macam apa yang membolehkan perbuatan-perbuatan macam ini dan mashlahat apa yang ada di dalamnya bagi Islam dan muslimin ? Syari’at apa bahkan akal macam apa yang membolehkannya ??

Di antara pengkerdilan jihad bahkan penjadiannya sebagai bahan guyonan bagi musuh-musuh Allah adalah penyebaran ancaman-ancaman kosong yang berulang-ulang di sana sini yang tidak diikuti oleh perealisasian; sehingga akhirnya kaum mujahidin kehilangan kepercayaannya dan dicabut pada waktu yang panjang dari hati musuh-musuh mereka rasa takut mereka, dan mereka itu seperti gong kosong yang lebih nyaring bunyinya daripada yang berisi, dan ancaman-ancaman kosong itu membuat dunia geram terhadap kaum muslimin serta menambah dunia makin bersatu atas kaum muslimin tanpa sedikitpun faidah atau manfaat yang kembali kepada Islam dan muslimin…

Di antara pengkerdilannya juga adalah penyibukannya dengan target-target yang tidak ada manfaat di belakangnya dan tidak ada faidah yang kembali kepada jihad atau kepada islam dan para pemeluknya, bahkan justeru malah sebaliknya di mana musuh-musuh Allah malah memetik darinya faidah yang amat beragam, baik berupa pengotoran gambaran mujahidin atau pemanas-manasan terhadap mereka atau pemberian alasan dengannya untuk menumpas mereka dan pemanfaatannya untuk kepentingan-kepentingan para thaghut…

Hari ini sering sekali kita mendengar berita tentang penyerangan mesjid-mesjid syi’ah atau peledakan kendaraan angkutan umum atau peledakan tempat-tempat main atau kerusakan dengan para pelaku maksiatnya atau peledakan gereja atau pengotoran komplek pekuburan kaum Yahudi atau Kristen atau hal-hal serupa itu yang dinamakan jihad oleh para pelakunya padahal tidak ada faidah dibaliknya kecuali pencorengan wajah jihad dan pemanfaatan musuh terhadap pilihan-pilihan (operasi) itu dalam merealisasikan kepentingan-kepentingan mereka dan peperangan terhadap Islam dan muslimin…

Di antara pengkerdilan jihad adalah pencopotannya dari pertimbangan mashlahat dan tidak melihat pada kerusakan dan akibat, serta pemilihan operasi-operasi dan target-target tanpa merujuk kepada timbangan-timbangan ini…

Di antara pengkerdilan jihad juga adalah penghalangannya dari khithab i’lamiy untuk jihad yang matang, pilihan-pilihannya yang tepat serta tidak memperhatikan pengkhithaban manusia sesuai kadar akal mereka dan penyempaian ucapan kepada mereka dengan apa yang mereka pahami…

Di antara penyempitan bentuk jihad adalah apa yang dilakukan oleh banyak pemuda yang tidak memandang jihad kecuali jauh dari negeri mereka, berupa pengosongan medan-medan ‘amal dan dakwah serta jihad di negeri-negeri mereka dan yang dekat dengannya, dan berpindah-pindah ke sana kemari… Maka kadang mereka mengompori para pemuda untuk pergi perang ke Chechnya dan kadang ke Afghanistan dan kadang ke Uzbekistan atau Kurdistan dan lain kali ke Al Jazair dan kadang ke Iraq atau tempat mana saja, yang penting mereka itu meninggalkan negeri-negeri mereka, baik karena ketergantungan dengan tekanan aparat keamanan atau karena keterpengaruhan dengan pemfokusan media pemberitaan terhadap sebagian front-front dan medan-medan, atau karena beralasan dengan penghadangan musuh yang menyerang kaum muslimin di sebagian negeri-negeri itu padahal sesungguhnya musuh yang menyerang itu telah menguasai negeri-negeri itu dan negeri-negeri yang lainnya, dan ia telah berkembang biak, berkuasa secara leluasa dan menyerang secara bebas di negeri-negeri mereka atas agama, tauhid dan syari’at mereka… atau seperti ungkapan:

kamu mencari dlabb, padahal ini dlabb nampak lagi mengeluarkan kepalanya[1]

Saya tidak habis pikir saat membaca tulisan sebagian mujahidin di Iraq mengajak ikhwan mereka yang berjihad di Jazirah untuk meninggalkan jihad mereka di sana dan bergabung dengan mereka di Iraq, di waktu di mana genderang perang pemerintah terhadap ikhwan di Jazirah sama ditabuh seperti halnya di Iraq… Maka apa yang mengedepankan Iraq terhadap Nejed atau Hijaz atau Tuhamah ? Apakah itu strategi yang jelas dan mashlahat-mashlahat yang nampak serta pentarjihan-pentarjihan yang tepat ataukah semangat kosong dan pemfokusan media pemberitaan terhadapnya… ataukah seperti yang telah saya dengar dari sebagian bahwa senjata-senjata, bahan-bahan peledak dan mortir-mortir peninggalan pemerintah yang tergulingkan adalah sangat banyak…?! Atau sebab-sebab lainnya yang tidak melihat pada mashlahat yang menguntungkan bagi Islam dan yang lebih dekat untuk tamkin Islam itu, dan tidak mempertimbangkan mashlahat itu dalam memilih medan atau waktu yang tepat atau macam ‘amal dan pilihan-pilihannya…

Dan saat jet-jet tempur F52 serta rudal-rudal Cruise dan Tom Hawk dan yang lainnya menghujani desa-desa dan kota-kota serta parit-parit kaum muqatilin di Afghanistan, sedangkan orang-orang yang bergolak semangat menyemangati para pemuda di negeri kami untuk bergabung di parit-parit dalam rangka ikut serta berperang dan membantu ikhwan kita di Afghanistan, maka saya menulis dan berbicara dengan tegas seraya saya mengharap di sisi Allah apa yang membebani saya, dan saya katakan: Apa tidak mungkin nushrah ikhwan kita di Afghanistan, kecuali dengan sikap kita menempuh perjalanan serta menembus banyak hambatan dan rintangan agar kita berdiri di sisi mereka di parit-parit dan di bawah bara-bara api yang dimuntahkan oleh pesawat-pesawat itu serta bom-bom yang ditembakkan oleh artileri-artileri.

Dahulu saya katakan: Kenapa kita mempersempit nushrah ikhwan kita dengan hal itu, dan kita melihat mereka dalam kesulitan serta orang-orang Afghan sendiri berlindung dari satu kota ke kota lain dan meminta dari orang-orang Arab agar keluar? Dan kenapa kita mempersempit bentuk parit-parit itu dengan cara yang terbelakang ini? Apa tidak mungkin kita nushrah ikhwan kita dan kita berada di sisi mereka dan dalam parit yang sama sedang kita di lokasi-lokasi kita dan di negeri-negeri kita yang mana kita lebih mengetahui akan lembah-lembahnya? bahkan bisa saja hal itu lebih mudah bagi mujahidin serta lebih memukul, lebih menyakitkan dan lebih keras (pengaruhnya) terhadap musuh-musuh Allah yang berkeliaran dengan aman di jalan-jalan kita dan di tengah negeri-negeri kita…

Di sini saya tidak menyayangkan para pemuda yang bersemangat tinggi yang belum matang pandangannya terhadap jihad dan masih dangkal dalam berinteraksi dengannya meskipun saya menulis seluruh apa yang saya tulis ini buat dia dan untuk mengarahkannya ; akan tetapi saya menyayangkan para syaikh, para tokoh dan orang-orang rujukan yang ikut tergiring di belakang semangat, serta mereka keluar dari jalan dan garis mereka yang telah mereka pilih atas dasar ilmu, pengetahuan dan penuh pertimbangan, dan mereka malah berinteraksi dengan hal itu dengan kedangkalan tersebut, sehingga kemudian mereka meninggalkan ladang-ladang dakwah dan i’dad mereka, dan mereka mengurai kembali tenunan mereka serta mereka pergi jauh tanpa pengamatan dan pengkajian menempuh berbagai hambatan lagi menggunakan segala apa yang mereka mampu berupa cara-cara pemalsuan, penipuan dan penyelundupan, untuk melewati perbatasan negeri-negeri mereka kemudian perbatasan Iran atau Pakistan agar sampai ke parit-parit itu di Afghanistan, maka di antara mereka ada yang sudah sampai kemudian dikagetkan dengan situasi-situasi yang ada kemudian ia kembali dan keluar sesuai permintaan Thaliban, dan di antara mereka ada yang ditangkap di Iran atau di Pakistan…

Kedangkalan dalam berinteraksi dengan jihad dan parit-paritnya ini, serta pelajaran-pelajaran ini yang berulang kali di sana sini, apa ia tidak membutuhkan kepada pengulangan pandangan, pengamatan, kematangan dan pemikiran; agar kita memberikan kepada jihad itu haknya, kedudukannya dan bentuknya yang sebenarnya, serta kita berinteraksi dengannya dengan bentuk yang paling sempurna, paling tinggi dan paling lurus? mudah-mudahan kita memetik setelah itu apa yang mereka tegakkan dan kita inginkan serta kita cita-citakan berupa buah-buah hasil…

Seorang teman di penjara bertanya kepada saya saat kami berbicara tentang keadaan-keadaan mujahidin dan umat, sedangkan obrolan penjara itu penuh dengan kepedihan… ia berkata: Apakah engkau memiliki perkiraan lewat pengamatanmu terhadap realita umat ini bahwa generasi kita akan mendapatkan tamkin dan penegakkan Daulah Islam? maka saya menjawab: Mungkin anak-anak kita atau cucu-cucu kita mendapatkan tamkin yang terbatas atau daulah yang tidak selevel dengan level cita-cita dan harapan…

Ia bertanya: Kenapa ?

Saya menjawab: Ini bukan kepesimisan dan bukan pula pematahan semangat, dan saya jujur memohon kepada Allah mudah-mudahan saya keliru dalam hal itu, akan tetapi itulah realita, karena yang tertulis sebagaimana ungkapan adalah bisa dibaca dari judulnya… dan tamkin itu memiliki banyak syaratnya dan daulah juga memiliki rijal (orang-orang penegak)nya… dan saya dalam perhitungan-perhitungan saya ini tidak meletakkan mu’jizat dan seandainya ucapan saya ini dibangun di atasnya maka Allah itu Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan andai Allah menghendaki tentu Dia memenangkan dien-Nya dan tentu Dia memberikan tamkin bagi hamba-hamba-Nya tanpa jihad dan tanpa para syuhada, akan tetapi itulah sunatullah yang berjalan supaya Dia menguji sebagian kita dengan sebagian yang lain dan Dia memilih para syuhada dari kaum mukminin serta supaya terpilah orang-orang yang berada di jalan-jalan-Nya dari orang-orang yang memerangi-Nya…

Dan saya hanyalah menjawab (pertanyaan) mu berdasarkan pada realita kaum muslimin hari ini, dan apakah mereka itu sudah layak untuk mendapat tamkin yang kita impikan dan daulah yang kita cita-citakan?: Tinggalkan para pemuda yang bersemangat tinggi yang sedang kita bicarakan dan kita merasa pedih karena kedangkalan yang dengannya mereka berinteraksi dengan jihad ini; dan perhatikan saja pimpinan-pimpinan mereka, rujukan-rujukan mereka dan tokoh-tokoh umat yang tulus di antara mereka, serta para mujahidin yang tampil untuk memimpinnya dan yang menghadang musuh-musuhnya, serta lihatlah tingkat pemikiran mereka dan derajat kematangan mereka dan pemahaman mereka akan jihad, serta bagaimana cara mereka berbuat untuk proyek penegakkan daulah, supaya kamu mengetahui jawaban terhadap pertanyaanmu…

Hendaklah engkau ketahui, bahwa di depan proyek ini ada jalan panjang yang belum kita lalui, dan di depan kematangan buah yang kita amat bersemangat untuk memetiknya ada waktu yang mesti dilaluinya sampai ia matang, dan tampaknya kita ini tergesa-gesa meraih kematangannya dengan keterbakaran semangat kita dan keinginan kuat kita sebelum tiba waktunya… dan kita malah berupaya meloncat dengan umat dan para pimpinannya ke atas fase-fase yang semestinya mereka menempuhnya agar mereka menguasai permasalahan dan berinteraksi bersamanya dengan kematangan sesuai sunatullah dan sebab-sebab yang telah Allah ta’ala tetapkan…

Barangsiapa mempercepat (peraihan) sesuatu sebelum waktunya maka ia dihukum dengan tidak mendapatkannya…

Cukuplah kita berupaya dengan serius lagi tulus dalam proyek kita yang telah kita kaji realitanya dan kita pahami kebutuhan-kebutuhannya dalam arah yang benar, terutama setelah Allah mengkaruniakan terhadap umat ini dengan shahwah da’wiyyah   (kebangkitan dakwah) setelah tidur beberapa dekade, dan yang disusul oleh shahwah jihadiyyah mubarakah; dengan berkat jihad Afghanistan, Chechnya dan Bosnia.

Shahwah jihadiyyah ini adalah termasuk barakah terbesar medan-medan itu meskipun kita tidak memetik darinya sampai saat ini buah-buah yang kita harapkan… kemudian hal itu disusul tragedi 11 Sepetember yang telah membangunkan banyak orang-orang yang tidur dan lalai dengan kedahsyatannya dan dengan kesadisan serta ketegasan serangan sesudahnya terhadap Islam…

Yang mana hal itu menghasilkan di hadapan kita gerakan jihad yang deras ini yang mayoritasnya terdiri dari para pemuda yang tulus yang telah memendam dendam dan pikiran serta pemahamannya mengumpul dan melaju bagaikan banjir yang deras untuk membalaskan dendam dien dan umatnya…

Maka hal yang wajib atas tokoh-tokoh rujukan agama dan ilmu serta para pimpinan gerakan ini adalah mereka berbuat untuk membimbingnya dan mematangkannya dan mengendalikannya serta memegang tangannya untuk merealisasikan dendam yang sebenarnya dan yang sempurna bagi dien ini…

Bukan mereka malah berdiri di hadapannya atau menghadangnya dalam rangka menghentikannya sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang; maka ini tidak ragu adalah termasuk penyempitan bentuk jihad bahkan termasuk penguburannya dan pembunuhannya…

Dan bukan pula mereka hanyut bersama gerakan itu sesuka dia, mereka digiring oleh semangatnya, kelincahannya dan kedangkalan sebagian anggota-anggotanya kepada penceceran kerja keras, umur, kemampuan tenaga dan harta pada aktivitas-aktivitas yang marjuh (lemah) atau tidak terprogram dan tidak ada pengkajian…

Supaya akhirnya para syaikh itu menjadi disetir, hanyut lagi di arahkan bukan mengarahkan, mereka mengikuti bukan diikuti.

Akan tetapi sesungguhnya hal terbesar yang dihaturkan para syaikh, ulama dan du’at yang peka di zaman ini adalah mengarahkan –bukan menghentikan– gerakan ini setelah ia melaju dan membimbingnya –bukan menggugurkannya– setelah ia melesat… serta meluruskannya kepada pilihan-pilihan yang paling tepat, paling manfaat, paling mashlahat dan paling menguntungkan bagi Islam dan pemeluknya serta paling sempurna dalam pembalasan bagi dienullah dengan bentuk yang paling mengesankan; dengan upaya yang serius demi terwujudnya tamkin bagi umat Islam yang telah bangkit untuk mengembalikan kejayaannya dan memulai kembali penaklukan-penaklukannya…

وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ (٢١)

“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya,” (QS. Yusuf: 21).

Dan kami akhiri dengan mengingatkan dengan apa yang telah kami mulai dengannya:

لا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا

“Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan. Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan  hartanya) dan berperang sesudah itu”, (QS. Al Hadid: 10).

Penjara Qafqafa

Rajab 1425 H

 

*******

Bersambung…


[1]   Peribahasa yang dilontarkan bagi orang yang menoleh kepada musuh yang jauh sedangkan disisinya ada musuh yang serupa yang dekat.

Penterjemah: Dlabb adalah hewan semacam biawak yang hidup di lobang.

sumber : http://millahibrahim.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s