Hukum Orang Meningggalkan Shalat

Hukum Orang Meninggalkan Shalat Dan Konsekwensinya [1]

1. Hukum orang yang meninggalkan shalat.

Shalat adalah tiang agama Islam,[2] ibadah badaniyyah paling pokok,[3] syari’at semua para Rasul,[4] hal yang paling pertama dihisab dihari kiamat,[5] dan wasiat terakhir Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya tatkala hendak meninggal dunia.[6] Orang yang mengingkari kewajiban shalat yang lima waktu dan dia itu hidup dikalangan kaum muslim, maka dia itu di anggap keluar dari Islam meskipun dia itu melaksanakannya, ini berdasarkan ijma kaum ulama kaum muslimin.

[7] Meninggaalkan shalat fardlu dosanya lebih besar dari dari dosa membunuh jiwa, mengambil harta orang, zina, mencuri, minum khamr[8]. Dan orang yang meninggalkan shalat karena malas sedangkan dia itu meyakini kewajibannya, maka dia juga dianggap kafir murtad[9] dari agama Islam sesuai pendapat yang paling benar, berdasarkan dalil-dalil berikut ini :

Pertama : Firman Allah ta’ala :

فَإِنْ تَابُوْا وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَاِنكُمْ فِي الدِّيْنِ

Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaranu seagama.[10]

Allah ta’ala mensyaratkan untuk adanya ukhuwwah (persaudaraan Islam) antara kaum musyrikin dan kaum mu’minin dengan tiga syarat: Taubat dari syirik, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Bila salah satu dari yang tiga itu tidak mereka penuhi, maka mereka itu bukan saudara kita seagama, padahal ukhuwwah itu tidak tiada dengan sekedar maksiat, karena Allah ta’ala masih menetapkan ukhuwwah antara orang muslim yang membunuh dengan saudara seimannya yang dibunuhnya dalam firman-Nya ta’ala:

فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيْهِ شَيْءٌ

Maka barangsiapa mendapatkan suatu pemaafan dari saudaranya”.[11]

Namun orang yang meninggalkan tiga syarat di atas dihukumi bukan sebagai saudara kita seiman atau mereka itu adalah orang-orang kafir, tapi dikecualikan zakat dari yang tiga hal itu, karena ada hadits yang mengkhususkan yang menjelaskan bahwa yang meninggalkan zakat itu tidak kafir[12].

Kedua : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda :

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

“Antara seseorang dengan kemusyrikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.[13]

Al Imam An Nawawiy Asy Syafiiy rahimahullah berkata: Bahwa yang menghalangi dari kekafirannya adalah karena keberadaan dia tidak meninggalkan shalat, namun bila dia meninggalkannya, maka tidak ada penghalang antara dia dengan kemusyrikan itu bahkan dia telah masuk ke dalamnya.[14]

Dan sebagai bukti hadits itu menunjukan kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari Islam adalah kata alkufru وَالْكُفْرِ  dan Asy Syirku الشِّرْكِ dalam bentuk ma’rifat bukan nakirah, sebab kalau maksudnya kufrun duna kufrin tentu berbentuk nakirah كفر   dan شرك.[15]

Ketiga : Sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam:

اَلْعَهْدُ الَّذِيْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

“Perjanjian antara kita dengan mereka (kaum munafiqin) adalah shalat, barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.[16]

Ini sangat gamblang sekali, pernyataan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa yang meninggalkan shalat adalah kafir murtad dari Islam, hadits ini tentang orang yang meninggalkannya bukan tentang orang yang mengingkari kewajibannya, karena orang yang mengingkari kewajibannya adalah kafir secara munthlaq baik dia melaksanakannya ataupun meninggalkannya.

Keempat : Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُوْرًا وَبُرْهَانًا وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ تَكُنْ لَهُ نُوْرًا وَلاَ بُرْهَانًا وَلاَ نَجَاةً  وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُوْنَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَأُبَيِّ بْنِ خَلَفٍ

“Barang siapa menjaganya (shalat), maka dia itu baginya menjadi cahaya, bukti, dan keselamatan di hari kiamat, dan barangsiapa tidak menjaganya, maka dia itu tidak menjadi cahaya bagianya, tidak menjadi bukti, dan tidak menjadi keselamatan. Dan di hari kiamat dia itu (digiring) bersama Qarun, Firaun, Haman, dan Ubaiy Ibnu Khalaf.[17]

Rahasia hanya empat orang saja yang disebutkan adalah karena mereka itu adalah pentolan orang-orang kafir, dan di sini ada hal yang sangat unik, yaitu bahwa yang meninggalkan shalat itu ada yang dilalaikan oleh hartanya, atau kerajaannya, atau jabatannya, atau perniagaannya, barangsiapa yang hartanya menyibukan dia dari shalat maka dia bersama Qarun, dan barangsiapa yang disibukan oleh kerajaannya darinya maka dia bersama Firaun, dan barangsiapa disibukan oleh jabatannya darinya, maka dia bersama Haman, dan barangsiapa disibukan oleh perniagaannya/usahanya darinya, maka dia bersama Ubaiy Ibnu Khalaf.[18]

Kelima : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لاَ تُشْرِكُوْا بِاللهِ شَيْئًا وَلاَ تَتْرُكُوا الصَّلاَةَ عَمْدًا فَمَنْ تَرَكَهَا عَمْدًا مُتَعَمِّدًا فَقَدْ خَرَجَ مِنَ الْمِلَّةِ

“Janganlah kalian menyekutukan sesuatu dengan Allah, dan janganlah kalian meninggalkan shalat dengan sengaja, karena barang siapa meninggalkannya dengan sengaja, maka dia telah keluar dari agama Islam.[19]

Keenam: Pernyataan para sahabat, bahkan Imam Ishaq Ibnu Rahwiyah rahimahullah telah menghikayatkan ijma para sahabat radliyallahu ‘anhu atas kafirnya orang yang meninggalkan shalat[20]. Telah ada penegasan dari enam belas sahabat atas hal itu[21], di antaranya perkataan Umar Ibnu Al Khaththab radliyallahu ‘anhu:

لاَ حَقَّ فِي اْلإِسْلاَمِ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ

“Tidak ada hak di dalam Islam ini bagi orang yang meninggalkan shalat”. (Al Haitsami menuturkannya dalam Al Majma’ 1/95 dan berkata: Diriwayatkan oleh Ath Thabraniy di dalam Al Ausath sedangkan para perawinya adalah para perawui hadits shahih)

Perkataannya,” Tidak ada hak ( لاَ حَقَّ ),” adalah lafadh nakirah setelah nafyi, dan di dalam ushul fiqh bahwa bila ada isim nakirah setelah nafyi maka berfaidah umum, yang artinya tidak ada hak baik sedikit maupun banyak,[22] berarti di sini orang yang meninggalkan shalat tidak mendapatkan hak sedikitpun di dalam Islam, dan orang yang tidak memiliki hak sedikitpun di dalam Islam adalah bukan orang Islam, karena orang Islam meskipun melakukan maksiat tetap memiliki hak di dalam Islam meskipun sedikit, nah berati orang yang meninggalkan shalat adalah kafir.

Abdullah Ibnu Syaqiq rahimahullah berkata:

كَانَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَرَوْنَ مِنَ اْلأَعْمَالِ تَرْكُهُ كُفْرٌ غَيْرَ الصَّلاَةِ

Adalah para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memandang sedikitpun dari amalan-amalan yang di mana meninggalkannya adalah kekufuran selain shalat.[23]

Di dalam atsar ini dijelaskan bahwa para sahabat semuanya radliyallahu ‘anhum menilai orang yang meninggalkan shalat sebagai orang kafir.

Al Hafidh Al Mubarakfuriy rahimahullah berkata: Dzahir perkataan Abdullah Ibnu Syaqiq ini menunjukan bahwa para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meyakini bahwa meninggalkan shalat adalah kekufuran, dan dzahirnya ungkapan itu adalah bahwa pendapat ini adalah yang telah disepakati oleh para sahabat, karena perkataannya,” Adalah para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,” adalah bentuk jamak yang diidlafatkan (yang berfaidah umum).[24]

Dan masih banyak perkataan para sahabat yang berkenaan dengan hal ini, silahkan lihat Majmauz Zawaid karya Al Haitsamiy Asy Syafiiy 1/292, 295.[25]

Adapun menurut akal: Sesungguhnya tidak mungkin orang yang memiliki keimanan meskipun sebesar biji sawi terus dia selalu meninggalkan shalat[26], maka ketika dia tidak shalat berarti dia tidak memiliki iman sedikitpun.

2. Konsekuensi bagi orang yang meninggalkan shalat.

Setelah kita mengetahui bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir, maka kita harus mengetahui konsekuensi bagi orang yang meninggalkan shalat itu supaya kita tidak terjerumus dalam hal-hal itu:

Pertama:

Dia tidak halal menikah dengan wanita muslimah, berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوْهُنَّ اللهُ أَعْلَمُ بِإِيْمَانِهِنَّ فَإِنْ عَلِمْتُمُوْهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلاَ تَرْجِعُوْهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لاَ هُنَّ حِلٌّ لَهٌمْ وَلاَ هُمْ يَحِلُّوْنَ لَهُنَّ

Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka, maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir, mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.[27]                 

Dan firman-Nya ta’ala:

وَلاَ تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتَّى يُؤْمِنُوْا

“Dan jangalah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman.[28]

Dan barangsiapa memaksakan kehendak kemudian menikahkan puterinya yang muslimah kepada laki-laki yang tidak shalat, maka pernikahannya batal/tidak sah dan wanita ini tidak halal bagi laki-laki itu, dan pernikahan itu harus dibatalakan. Dan bila Allah ta’ala memberinya hidayah sehingga dia mau shalat maka harus melakukan akad baru nikah lagi.[29]

Tanbih penting:


Syaikh Muhammad Ibnu Shalih Al Utsaimin semoga Allah memaafkannya berkata ketika menjawab suatu pertanyaan yang berhubungan dengan masalah di atas: Bila seseorang murtad (di antaranya meninggalkan shalat) setelah melakukan akad nikah, maka tidak terlepas dari dua keadaan: Pertama: Bila murtadnya sebelum melakukan hubungan badan atau khalwat yang mengharuskan ‘iddah (seperti keduanya masuk kamar dan menutupi pintunya tanpa berhubungan badan, pent), maka pernikahannya harus dibatalakan (fasakh), dan si wanita itu tidak halal kecuali dengan akad baru (setelah dia masuk Islam kembali dengan kembali shalat,pent). Kedua: Bila kejadian murtadnya setelah berhubungan badan atau khalwat yang mengharuskan ‘iddah (dalam arti si laki-laki itu suka melakukan shalat saat pelaksanaan akad nikahnya, pent), maka urusannya tergantung atas selesainya ‘iddah (maksudnya pernikahannya lepas dan si wanita harus ber’iddah, pent), bila dia bertaubat sebelum si wanita selesai dari ‘iddah, maka si wanita itu adalah isterinya (tanpa harus akad nikah lagi, pent), namun bila taubat dari murtadnya terjadi setelah habis masa ‘iddah si wanita, maka mayoritas ulama memandang bahwa si wanita itu tidak halal kecuali dengan adanya akad nikah baru, dan sebagian ulama mengatakan bahwa dia itu halal baginya bila dia (laki-laki) kembali kepadanya, dan sesungguhnya selesainya ‘iddah itu menggugurkan kekuasaan si laki-laki atasnya namun tidak mengharamkan si wanita atasnya bila dia (laki-laki) kembali ke dalam Islam…(terus beliau melanjutkan):

Adapun masalah anak yang telah terlahir dari hubungan keduanya (dalam pernikahan saat si laki-laki dalam keadaan tidak shalat, pent), maka bila dia itu meyakini bahwa nikahnya itu sah, karena keberadaan dia bertaqlid kepada orang yang tidak memandang adanya kekufuran akibat meninggalkan shalat, atau dia tidak mengetahui bahwa orang yang meninggalkan shalat itu kafir, maka sesungguhnya anak-anak itu adalah anaknya dan dinisbatkan kepadanya. Adapun bila dia mengetahui bahwa meninggalkan shalat itu kekafiran dan bahwasannya si isteri itu tidak halal baginya karena dia tidak shalat, dan bahwasannya hubungan badan yang dia lakukan dengannya adalah hubungan badan yang haram, maka dalam keadaan seperti ini sesungguhnya si anak tidak dinisbatkan dan tidak diikutkan kepadanya. Ini adalah masalah dari sekian masalah besar yang menimpa banyak manusia pada masa sekarang ini.[30]

Dan begitu juga bila yang tidak shalat itu adalah wanita, maka tidak boleh seorang muslim menikahinya sampai ia taubat dan masuk Islam dengan melakukan shalat lagi, dan bila dia itu tidak melakukan shalat setelah rumah tangga berjalan dan sedangkan si suami adalah orang yang taat shalat, maka pernikahannya lepas sehingga dia tidak halal baginya, berdasarkan firman Allah ta’ala:

وَلاَ تُمْسِكُوْا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ

”Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir.[31]

Dan si laki-laki harus menasehatinya agar dia bertaubat, dan bila kembali taubat maka bila si suami menginginkan dia tetap bersamanya sebagai isterinya maka itu adalah haknya.

Asy Syaikh Abdul Aziz Ibnu Abdillah Ibnu Baz semoga Allah memaafkannya berkata: Bila dia (laki-laki) menikahi wanita muslimah sedangkan dia (laki-laki itu) tidak shalat, maka nikahnya itu tidak sah, namun bila wali menikahkannya dengan keyakinan akan sahnya nikah itu atau karena tidak mengetahui keadaan laki-laki itu, maka anak-anaknya itu dinasabkan kepadanya (laki-laki itu). Dan anak-anak itu dianggap sebagai anak syar’iy karena ada faktor syubhat. Dan kewajiban laki-laki  itu bila dia bertaubat kepada Allah ta’ala dan Allah ta’ala memberinya hidayah agar dia memperbaharui pernikahannya kembali (maksudnya mengulangi akad nikahnya lagi) dengan wanita muslimah itu. Dan adapun bila ternyata bila dia tidak taubat (dari meninggalkan shalatnya), maka keduanya wajib dipisahkan, karena laki-laki itu tidak sepadan dengan wanita itu, Allah ta’ala telah berfirman tentang pernikahan laki-laki kafir dengan muslimah:

لاَ هُنَّ حِلٌّ لَهٌمْ وَلاَ هُمْ يَحِلُّوْنَ لَهُنَّ

”Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.[32]

Dan firman-Nya ta’ala:

وَلاَ تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتَّى يُؤْمِنُوْا

“Dan jangalah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman.[33]

Maksudnya: Jangan nikahkan mereka (orang-orang musyrik) sampai mereka beriman.[34]

Beliau semoga Allah memaafkannya juga berkata ketika menanggapi pertanyaan laki-laki yang tidak shalat menikahi seorang wanita: Bila isterimu itu seperti kamu di saat akad nikah tidak shalat, maka akad nikahnya shahih[35], adapun bila dia (isterimu) itu shalat, maka wajib memperbaharui akad nikahnya, karena wanita muslimah tidak boleh dinikahkan kepada orang kafir, berdasarkan firman-Nya ta’ala:

وَلاَ تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتَّى يُؤْمِنُوْا

“Dan jangalah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman.[36]

Maksudnya janganlah kalian (para wali) menikahkan wanita-wanita muslimat kepada orang kafir sampai mereka masuk Islam, dan berdasarkan firman-Nya ta’ala:

فَلاَ تَرْجِعُوْهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لاَ هُنَّ حِلٌّ لَهٌمْ وَلاَ هُمْ يَحِلُّوْنَ لَهُنَّ

maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir, mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.[37] [38]

Masalah:

Bila ada laki-laki dan wanita melangsungkan akad nikah, sedangkan keduanya tidak pernah shalat, kemudian Allah ta’ala memberi keduanya hidayah sehingga mereka rajin shalat, maka pernikahannya itu sah, tidak usah diulangi lagi karena keduanya ketika melangsungkan akad nikah dalam keadaan kafir, dan orang kafir sah nikah dengan orang kafir. Namun bila di saat akad nikah itu si wanita rajin shalat sedangkan si laki-laki tidak, kemudian dia diberi hidayah sehingga shalat, maka pernikahannya harus diulangi, karena tidak sah seorang muslimah menikah dengan orang kafir.[39]

Kedua:

Gugurnya hak perwalian. Bila yang meninggalkan shalat itu adalah bapak atau saudara atau orang yang memiliki hak perwalian bila dia itu muslim, maka hak perwaliannya itu gugur karena dia meninggalkan shalat. Tidak boleh seorang bapak yang tidak shalat menjadi wali bagi pernikahan puterinya yang muslimah, saudara laki-laki yang tidak shalat tidak boleh menikahkan saudarinya yang muslimah, karena tidak ada perwalian orang kafir atas orang muslim,[40] berdasarkan firman Allah ta’ala:

وَلَنْ يَجْعَلَ اللهُ لِلْكَافِرِيْنَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ سَبِيْلاً

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir atas orang-orang mu’min.[41]

Bila ada muslimah yang semua wali-walinya tidak shalat maka walinya adalah pihak yang berwenang.

Ketiga:

Gugurnya  hak pengurusan (hadlanah) atas anak-anaknya, karena tidak hak hadlanah bagi orang kafir atas orang muslim, berdasarkan firman-Nya ta’ala:

وَلَنْ يَجْعَلَ اللهُ لِلْكَافِرِيْنَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ سَبِيْلاً

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir atas orang-orang mu’min”.[42]

Keempat:

Sembelihannya tidak halal. Bila orang yang tidak shalat menyembelih hewan, maka sembelihannya tidak halal dimakan, karena di antara syarat halalnya hewan sembelihan yaitu si penyembelihnya harus orang orang muslim atau ahlu kitab (Yahudi dan Nashrani), sedangkan orang yang murtad itu bukan termasuk mereka, maka sembeliahnnya haram, jadi sembelihan orang yang tidak shalat itu lebih busuk dari sembelihan orang Nashrani dan Yahudi.[43] Bahkan bila seseorang murtad dari Islam masuk agama nashrani tetap sembelihannya tidak halal, karena status dia masuk agama Nashrani tidak diakui oleh Islam.

Kelima:

Dia tidak diperbolehkan masuk ke kota Mekkah dan tanah haramnya,[44] berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِنَّمَا الْمُشْرِكُوْنَ نَجَسٌ فَلاَ يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَذَا

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Mesjidil Haram sesudah tahun ini.[45]

Keenam:

Bila salah satu anggota keluarganya, atau kerabatnya meninggal dunia, maka dia tidak berhak mendapat warisan.[46] Dan dia dianggap tidak ada, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لاَ  يَرِثُ الْمُسْلِمُ الْكَافِرَ وَلاَ الْكَافِرُ الْمُسْلِمَ

“Orang muslim tidak mewarisi orang kafir, dan orang kafir tidak mewarisi orang muslim. (Al Bukhari dan Muslim).

Ketujuh:

Bila dia mati, tidak boleh dimandikan, tidak pula dikafani, tidak pula dishalatkan, dan tidak pula dikuburkan dipekuburan kaum muslimin, karena dia itu bukan tergolong mereka, namun mayatnya dibawa ke tempat yang jauh dengan pakaian yang dia kenakan dan dikubur agar baunya tidak menganggu kaum muslimin, serta tidak halal seorang pun baik itu temannya atau saudaranya atau anaknya atau orang tuanya atau suaminya atau isterinya mendoakannya dan memintakan rahmat dan ampunan baginya[47]serta tidak halal pula mengatakan almarhum si fulan, berdasarkan firman Allah ta’ala:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِيْنَ آمَنُوْا أَنْ يَسْتَغْفِرُوْا لِلْمُشْرِكِيْنَ وَلَوْ كَانُوْا أُولِيْ قُرْبَى مِنْ بَعْدَ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيْمِ

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang yang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasannya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahannam.[48]

Allah melarang Nabi dan orang-orang mu’min untuk memintakan ampunan bagi orang-orang musyrik, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa meninggalkan shalat adalah macam dari sekian kemusyrikan[49]

Kedelapan:

Seluruh amalan orang yang meninggalkan shalat tidak ada artinya dan tidak sah,[50] berdasarkan Firman Allah ta’ala:

وَلَوْ أَشْرَكُوْا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوْا  يَعْمَلُوْنَ

Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka aamalan yang telah mereka kerjakan”.[51]

Kesembilan:

Pada hari kiamat dia digiring bersama Firaun, Haman, Qarun, dan Ubaiy Ibnu Khalaf yang merupakan tokoh-tokoh kekufuran, dan dia tidak akan masuk surga selama-lamanya.[52] Ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُوْرًا وَبُرْهَانًا وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ تَكُنْ لَهُ نُوْرًا وَلاَ بُرْهَانًا وَلاَ نَجَاةً  وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُوْنَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَأُبَيِّ بْنِ خَلَفٍ

Barangsiapa menjaganya (shalat), maka dia itu baginya menjadi cahaya, bukti, dan keselamatan di hari kiamat, dan barang siapa tidak menjaganya, maka dia itu tidak menjadi cahaya bagianya, tidak menjadi bukti, dan tidak menjadi keselamatan. Dan di hari kiamat dia itu (digiring) bersama Qarun, Firaun, Haman, dan Ubaiy Ibnu Khalaf.[53]

Ini sekelumit tentang masalah yang berekenaan dengan orang yang meninggalkan shalat, mudah-mudahan menjadi hujjah dan peringatan atas orang yang tertimpa musibah ini, semoga Allah ta’ala menjadikan tulisan ini bermanfaat bagi penulisnya dan bagi semua orang yang membacanya, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui dan Maha Kuasa akan itu semua.

 

(Abu Sulaiman Aman Abdurrahman).


[1] Tulisan ini adalah di antara sekian tulisan saya saat saya dahulu masih berada di barisan salafi maz’um, tapi karena isinya bermanfaat maka saya izinkan untuk disebarkan sekarang, walaupun ada nukilan dari sebagian syaikh yang saya anggap menyimpang dalam permasalahan sikap terhadap pemerintah murtad dan permasalahan manhaj lainnya, namun para ulama rujukan Tauhid dan Jihad tidak mengkafirkan mereka itu, dan mereka juga kadang mengambil ucapan para syaikh itu dalam permasalahan fiqh, dan di sinipun saya tetap mencantumkan fatwa-fatwa mereka. Saya katakan hal ini agar para ikhwan tauhid tidak bingung.

[2] Di dalam hadits Shahih riwayat At Tirmidzi 2616.

[3] Al Mulakhkhash Al Fiqhiy 1/67.

[4] Ibid.

[5] Riwayat At Tabraniy di dalam Al Ausath sebagaimana yang dituturkan oleh Al Haitsamiy di dalam Al Majma’ 1/291-292.

[6] Di dalam hadits Shahih riwayat Imam Ahmad 1/290.

[7] Majmu Fatawa Ibni Baz 4/137, Kifayatul Akhyar 652, dan Al Mulakhkhash Al Fiqhiy 1/67.

[8] Kitabush Shalat, Ibnu Al Qayyim Al Jauziyyah: 16.

[9] Fiqhul Ibadat  135, Majmu Fatawa Ibni Baz 4/137, Hukmu Tarikish Shalah Ibnu Utsaimin: 9.

[10] At Taubah: 11.

[11] Al Baqarah: 178.

[12] Fiqhul Ibadat 136 dalam hadits Muslim no: 24.

[13] Muslim no: 134, Kitabul Iman.

[14] Syarhun Nawawiy ‘Ala Shahih Muslim 1/62.

[15] Iqtidlaush Shiratl Mustaqim 1/208-209.

[16] Hadits Shahih riwayat Ahmad 5/346, 355, At Tirmidzi 2621 Kitabul Iman.

[17] Riwayat Ahmad 2/169, Ibnu Hibban 254, dan Al Haitsami di dalam Al Majma’ 1/292 menisbatkannya kepada Ath Thabrani dalam Al Kabir dan Al Ausath, dan berkata Para perawi Ahmad terpercaya, dan Al Mundziriy berkata dalam At Targhib1/386: Dan Isnadnya jayyid.

[18]  Kitabush Shalah: 46-47.

[19] Al Mundziri menisbatkannya di dalam At Targhib Wat Tarhib 1/379 kepada Ath Thabrani dan Muhammad Ibnu Nashr dalam Kitabush Shalah, dan berkata: Dengan dua isnad yang laa ba’sa bihima (lumayan).

[20] Al Muhalla 2/242-243.

[21] Asy Syarhul Mumti’ 2/28.

[22] Hukmu Tarikish Shalat: 11.

[23] Riwayat At Tirmidzi dalam Kitabul Iman 2622, Al Albaniy berkata: Isnadnya Shahih, dan telah dimaushulkan oleh Al Hakim 1/8 dari Abdullah Ibnu Syaqiq dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu berkata: …dan berkata: Shahih sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim, dan Adz Dzahabiy berkata: Isnadnya Shalih. Lihat Al Misykah 1/183.

[24] Tuhfatul Ahwadzi 7/309-310.

[25] Silahkan rujuk Kitabush Shalah karya Ibnu Al Qayyim.

[26] Hukmu Tarikish Shalah: 11, Asyarhul Mumti’ 2/28.

[27] Al Mumtahanah: 10.

[28] Al Baqarah: 221.

[29] Fiqhul Ibadat: 138-139.

[30] Fatawa Islamiyyah 3/244-245.

[31] Al Mumtahanah : 10.

[32] Al Mumtahanah : 10.

[33] Al Baqarah : 221.

[34] Majmu Fatawa Ibni Baz 4/152.

[35] Karena orang kafir dengan orang kafir nikahnya sah.

[36] Al Baqarah : 221.

[37] Al Mumtahanah : 10.

[38] Fatawa islamiyyah 3/242.

[39] Ibnu Baz di dalam Fatawa Islamiyyah 3/242.

[40] Fiqhul Ibadat: 139, Fiqhus Sunnah 2/197.

[41] An Nisaa: 141.

[42] An Nisaa: 141.

[43] Hukmu Tarikish Shalah: 13.

[44] Ibid.

[45] At Taubah: 28.

[46] Ibid. 14.

[47] Ibid 14, Fiqhul Ibadat: 139-140.

[48] At Taubah: 113.

[49] Fiqhul Ibadat: 140.

[50] Majmu Fatawa Ibni Baz 4/139.

[51] Al An’am : 88.

[52] Hukmu Tarikish Shalah : 15.

[53] Riwayat Ahmad 2/169, Ibnu Hibban 254, dan Al Haitsami di dalam Al Majma’ 1/292 menisbatkannya kepada Ath Thabrani dalam Al Kabir dan Al Ausath, dan berkata Para perawi Ahmad terpercaya, dan Al Mundziriy berkata dalam At Targhib1/386: Dan Isnadnya jayyid.

Sumber : http://millahibrahim.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s