Mengenal Muchsin, Sahabat Farhan, Penembak Densus 88 Di Solo

M Fachry untuk Al-Mustaqbal.net

 

JAKARTA-Muchsin (19) adalah sahabat Farhan, anggota Mujahidin Abu Sayyaf yang menewaskan anggota Densus 88, Bripda Suherman, dalam baku tembak di Jalan Veteran, Tipes, Solo, Jum’at (31/08/2012). Saat ini, jenazah Muchsin bersama Farhan masih di RS Polri Kramat Jati menunggu hasil autopsi. Siapakah sebenarnya Muchsin?

 

Nilai PPKN Muchsin Jelek!

 

Siapa sangka, Muchsin (19) sahabat Farhat yang menembak mati anggota Densus 88 adalah anak Jakarta, dan bersekolah di SMP 126 Condet, Jakarta Timur. Menurut Ibu Zakiah, yang akrab disapa Bu Kiki, guru sejarah Muchsin, nilai rapor Muchsin untuk pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN)  rata-rata hanya mendapat nilai 6, sementara pendidikan agama rata-rata 7.

 

Hal ini sebagaimana  terlihat dari rapor Muchsin yang diperoleh detikcom dari SMP 126, Jakarta Timur, Senin (3/9/2012). Nilai mata pelajaran PPKN saat di kelas 1 di semester 1 mendapat nilai 6. Pada semester 2, mengalami kenaikan menjadi 7. 

Namun saat di kelas 2, nilai PPKN Muchsin kembali ke angka 6, di semester tiga, dan di semester 4, naik sedikit menjadi 6,5.

Sedang untuk mata pelajaran agama, nilai rata-rata Muchsin tujuh sejak kelas 1. Tidak ada perubahan hingga dia naik kelas.

 

Muchsin Anak Baik Dan Pendiam

 

Semasa bersekolah di SMP 126, Muchsin dikenal sebagai anak baik dan pendiam.

 

“Orangnya pendiam,” kata Kepala Sekolah SMP 126 Kuslani, saat ditemui di kantornya di Condet, Jaktim, Senin (3/9/2012).

Kuslani baru menjabat sebagai kepala sekolah. Dia juga tidak tahu sosok Muchsin. Namun dia mendengar tentang Muchsin dari beberapa guru yang lain.

“Saya tidak tahu secara pribadi langsung,” tambah Kuslani.

Muchsin yang lulus dari SMP 126 sekitar 5 tahun lalu itu pun tidak memiliki prestasi yang menonjol. Ekstra kurikuler pun tak ada yang diikuti Muchsin.

“Cuma katanya dia suka breakdance, katanya ya. Itu juga dengar-dengar saja,” terangnya.

 

Namun kini, nama Muchsin dan juga kawannya Farhan, menjadi terkenal dan menjadi buah bibir, pasca baku tembak di Jalan Veteran, Tipes, Solo, Jum’at (31/08/2012) yang menewaskan seorang anggota Densus 88, Bripda Suherman.

 

Ayah Muchsin : Anak Saya Mati Syahid

 

Muchsin (19), ternyata meninggalkan banyak petanda sebelum kematiannya. Beliau sempat mengirim pesan SMS kepada kakaknya Sidik. Dia meminta agar KTP yang dititipkan ke kakaknya itu dibakar kalau terjadi sesuatu pada dirinya.

“Muchsin sebelum pergi ke Solo menitip KTP dan ATM. Dia meminta kalau ada apa-apa KTP-nya dibakar saja,” kata ayah Muchsin, Muslim saat ditemui di rumahnya di Batu Ampar, Jaktim, Senin (3/9/2012).

Muchsin pergi ke Solo pada 26 Agustus lalu. Dia pamit hendak mengurus yayasan di Solo. Yayasan itu tengah mengolah bisnis ikan. KTP itu diberikan pada kakaknya sebelum keberangkatannya. Pesan SMS masuk sebelum peristiwa penyergapan Densus 88 pada Jumat (31/8).

 

“Loh kok dibakar! Polisi sudah tahu semua,” kata Muslim kepada Sidik yang dititipi KTP. Muslim baru tahu anaknya tewas pagi tadi.

Sementara itu menurut tetangga, Muchsin memang pendiam. Tapi kalau bertemu tetangga selalu menyapa. Bahkan pada lebaran kemarin, tetangga sempat saling menyapa dengan Muchsin dan bermaaf-maafan.

“Sebelum lebaran juga dia pernah membawa rekan-rekannya di pesantren ke rumahnya. Tapi cuma makan-makan saja,” imbuh tetangga Muchsin, Ade.

Ibu rumah tangga yang rumahnya tak jauh dari Muchsin itu menuturkan, sehari-hari di Jakarta, kala pulang dari pesantren, Muchsin berpenampilan biasa saja. Tak ada kata-kata atau perilaku yang mencerminkan dengan kekerasan.

“Dia juga mengaku sudah lulus dari pesantren dan kerja di restoran yang ada mess-nya. Dan dia tinggal di sana,” tambah Ade.

 

Selain sempat mengirim pesan SMS kepada kakaknya, Muchsin juga sempat membuar surat wasiat untuk sang ayah, Muslim, di sebuah buku tulis bersampul coklat dia meminta maaf pada sang ayah.

“Sebelumnya aku minta maaf apabila dalam keseharianku punya salah sama Bapak. Dan aku juga minta enggak bisa bantu Bapak di rumah lagi. Aku sangat berterima kasih sama Bapak,” tulis Muchsin dalam buku seperti yang ditunjukkan ayahnya, di kediamannya di Batu Ampar, Jaktim, Senin (3/9/2012). Ucapan salam mengawali wasiat itu.

Dalam buku tulis itu juga tersimpan coretan-coretan tangan dalam tulisan sambung. Tak jelas kata-kata yang ditulis pria 19 tahun yang pernah mondok di Pesantren Ngruki, Solo itu.
“Saya temukan hari Minggu kemarin,” jelas Muslim memberi keterangan.

 

Muslim, sang ayah dari Muchsin (19), ikhlas anaknya tewas ditembak mati Densus 88 di Solo. Dia yakin anaknya mati syahid karena perjuangannya.

“Saya ikhlas. Walaupun anak saya sudah meninggal, itu mati syahid,” jelas Muslim saat ditemui di rumahnya di Batu Ampar, Jaktim, Senin (3/9/2012).

Muchsin merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Ibunya sudah meninggal sejak lama. Muchsin diasuh ibu tiri sejak kecil. Selama tinggal di Jakarta bersama keluarga, Muslim mengaku anaknya itu tak pernah neko-neko.

“Saat pergi pamit ke Solo, pada 26 Agustus dia mengaku mau bantu temannya di yayasan yang punya lahan untuk bisnis ikan,” jelas Muslim.

Muchsin disekolahkan di pesantren sejak lulus SMP 126 Jaktim pada 2007 lalu. Menurut Muslim, anaknya setelah lulus pesantren sempat mengajar mengaji di Solo.

“Sekarang saya sudah ikhlas apapun itu,” terang Muslim yang bekerja serabutan ini.

 

Selamat jalan Muchsin, Wallahu’alam bis showab!

 

Sumber : diolah dari detikNews.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s