Sirah Nabawiyah, Teladan Abadi Perjuangan Umat Islam

Sesungguhnya misi pendirian negara Islam membutuhkan pembangunan spiritual dengan meneladani contoh panutan terdahulu melalui gerakan, duduk, dan bangunnya. Contoh panutan ini haruslah seorang hamba yang shaleh. Jadi wajib mengikuti contoh-contoh panutan, yakni dengan meneladani figur-figur manusia yang memperoleh petunjuk.  Demikian Syekh Abu Qotadah menjelaskan dalam kitabnya, Al Jihad wal Ijtihad.

 

Beliau melanjutkan, bahwa beliau meyakini bahwa tiadalah suatu kebenaran yang dibutuhkan oleh manusia di dunia ini kecuali dia pasti akan mendapatkan sesuatu yang mencukupinya di dalam Al Kitab dan As Sunnah. Maka apa gunanya membuat jauh harapan, yakni seseorang mencari air ketika dia dapat mengambilnya dari tempat yang dekat, tapi dia malah pergi ke sumber airyang jauh, yang boleh jadi akan memberatkan dirinya dan menjauhkan pencarian tanpa perlu.

 

Jihad Fie Sabilillah Dalam Sirah Nabawiyah

 

Dalam masalah perubahan (mengubah kemungkaran) diantaranya adalah dengan Jihad Fie Sabilillah, maka jihad menjadi hukum syar’i dan fardhu ‘ain pada beberapa kondisi yang telah diketahui dengan baik oleh para ulama.

 

Jihad Fie Sabilillah dan memerangi orang-orang kafir adalah hukum syar’i dan fardhu ‘ain dalam beberapa keadaan dan fardhu kifayah dalam beberapa keadaan yang lain. Contohnya, apabila pembuat hukum syar’i yakni Allah SWT mengatakan bahwa penguasa yang murtad wajib diperangi, maka ketetapan hukum ini tidak bisa diubah dan diganti!

 

Jihad adalah hukum seperti hukum-hukum syar’i lainnya, tergantung pada kemampuan dan kesanggupan. Bahkan syar’i telah memerintahkan kita agar membangun quwwah dan istitho’ah (kekuatan dan kesanggupan). Keduanya masuk dalam kategori i’dad. Syekh Abu Qotadah menjelaskan bahwa kaum Muslimin tidak boleh mencari pengganti-pengganti dan wasilah-wasilah lain untuk menghapuskan hukum jihad dan malah menyelewengkannya dengan menyebut keikut sertaan dalam pemilu sebagai Jihad Fie Sabilillah, dan menjadikan alat perjuangan ini (pemilu) sebagai pengganti Jihad Fie Sabilillah.

 

Jihad itu wajib dan siapa yang tidak mampu berjihad , maka dia wajib i’dad, dan jika dia tidak mampu juga i’dad, maka dia wajib menjauhi firqah-firwah sesat yang ada. Jihad bukan wasilah, tapi ibadah, yakni ibadah yang diperintahkan oleh agama dan ia adalah perkara syar’i yang tidak mengenal perubahan ataupun pengembangan dan pergantian. Apa yang bukan agama menurut pandangan sahabat, maka pada hari ini tidak boleh disebut sebagai agama.

 

Syekh Abu Qotadah menjelaskan bahwa Sirah Nabawiyah kaya dan tiada bandingnya di dalam memahami hukum-hukum perubahan dan prinsip-prinsip berhubungan dengan berbagai kasus kejadian.

 

Di dalam Sirah Nabawiyah terdapat perang frontal yang menyeluruh, seperti pada Perang Badar, dan Perang Uhud. Ada ightiyaal (pembunuhan dengan tipu muslihat) dan pembersihan biang-biang kekafiran (seperti pembunuhan Ka’ab bin Asyraf dan biang kekafiran yang lain).

 

Di dalam Sirah Nabawiyah terdapat kesepakatan-kesepakatan dan perjanjian-perjanjian , seperti Perjanjian Hudaibiyah dan Kesepakatan Damai antara Rasulullah SAW., dengan Yahudi pada saat awal hijrahnya.

 

Di dalam Sirah Nabawiyah terdapat revolusi dan perubahan vertical yang menyeluruh, terdapat jihad defensif, seperti Perang Uhud, dan Perang Khandaq, dan juga ada perang Ofensif, seperti Futuh Mekkah dan Perang Hunain, bahkan Perang Mu’tah, Perang Tabuk dan beberapa perang yang lain yang berkumpul di dalamnya jihad defensif dan ofensif, serta mencerai beraikan dan menakut-nakuti musuh.

 

Demikianlah, Sirah Nabawiyah merupakan kisah riwayat yang kaya dan sarat dengan pengalaman, yang memenuhi jiwa seorang Muslim, mengayakan batinya dan menghidupkannya dengan adanya contoh yang baik bagi sebagian besar peristiwa peperangan dan taktik-taktiknya. Akan tetapi buku-buku Sirah Nabawiyah saat ini malah menjadi buku-buku untuk mendapatkan berkah, bukan buku-buku untuk ilmu dan pengetahuan.

 

Ilmu perang, taktik-taktik dan sarana-sarananya adalah ilmu-ilmu yang bersifat humanis dan telah populer, baik suka ataupun tidak. Sesungguhnya ilmu-ilmu itu termasuk perkara yang seharusnya kita menangisi umat Islam atas berpalingnya mereka dari ilmu-ilmu tersebut. Ilmu-ilmu itu lahir dari pengalaman empirik dan pengkajian dari kolektifitas akal yang sangat interes terhadap ilmu-ilmu, dan diambil dari tempat-tempatnya yang cuma diketahui oleh para pengkaji dan peneliti.

 

Kadang orang fasik kuat memahami ilmu tadi sedang orang beriman lemah memahaminya, dan saat itu kita mengeluh seperti Umar bin Khattab ra., mengeluhkan ketika dia mengatakan : “Ya Allah sesungguhnya aku berlindung diri kepada-Mu dari kelemahan orang yang taqwa dan kekuatan orang yang fajir.”

 

Wallahu’alam bis showab!

 

sumber: M Fachry untuk Al-Mustaqbal.net

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s