Pedang Terhunus Bagi Para Penghina Nabi SAW

Syekhul Islam, Ibnu Taimiyah rahimahullah, dalam bukunya Ash Sharimul Maslul ‘ala Syatim Ar Rasul menjelaskan secara detail bagaimana hukum bagi para penghina Nabi SAW, yakni dibunuh!

 

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan kewajiban agung tersebut dalam bukunya ke dalam empat permasalahan, yakni :

 

Pertama, penjelasan tentang dalil-dalil Al Qur’an dan As-Sunah, Ijma’ dan Qiyas tentang kekufuran orang yag mencaci (menghina, melecehkan) Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam beserta syariat untuk membunuhnya.

 

Kedua, kewajiban untuk membunuh pencaci maki meskipun dia seorang kafir dzimmi karena dia merusak janjinya dengan makiannya terhadap Rosul. Hukuman ini tidak boleh diganti dengan fidyah (tebusan), pembebasan budak, atau pemberian. Hukumnya tidak seperti hukum seluruh orang kafir.

 

Ketiga, hukum pencaci jika bertaubat. dalam pembahasan masalah ini maka Syaikhul islam menjelaskan kewajiban untuk membunuhnya tanpa proses istitabah (diminta bertaubat), karena kemurtadannya sangat berat, dan mengandung permusuhan thd Alloh Azza wa Jalla dan RosulNya. Begitu pula keadaan setiap orang yang murtad yang kemurtadannya mengandung permusuhan dan perlawanan terhadap Alloh Azza wa Jalla dan RosulNya.Dia harus dibunuh meskipun dia bertaubat, dan ini sebelum dia bisa melakukan taubatnya tersebut.

 

Keempat, perbedaan antara cacian dan kekufuran. Disini, beliau menjelaskan bahwa iman itu bukan semata-mata pembenaran (tashdiq) saja. namun, adalah pembenaran terhadap khabar (informasi dari Allah) serta ketundukan terhadap perintah. Sesungguhnya iman menuntut adanya kecintaan dan pengagungan yang merupakan amalan hati. maka kekufuran terjadi bukan dengan mendustakan semata,namun juga dengan mengabaikan ketundukan dan kepasrahan. Dan, penghinaan serta pelecehan terhadap agama atau Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam merupakan bukti akan kekufuran yang terdapat di dalam hati, mengingat tidak adanya kecintaan dan pengagungan tersebut.

 

Dicari, Hidup Atau Mati

 

Para penghina Nabi SAW sudah sepantasnya mendapatkan hukuman mati, sebagaimana syariat Islam mengaturnya. Kisah-kisah kematian tragis para penghina Nabi SAW sudah seharusnya menjadi pelajaran berharga, mulai dari zaman Rasulullah SAW, hingga saat ini.

 

Ibnu ‘Abbas berkata, “Seorang wanita dari kabilah Khathamah, bernama Asma’ binti Marwan, mengejek nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  melalui syairnya. Mendengar ejekan tadi, Nabi berkata kepada para sahabatnya, “Siapa yang siap menyelesaikan urusan wanita itu untukku?” Seorang lelaki bernama Umair bin Adi bin Al-Khatami berdiri, “saya”

 

Lalu ia pergi mencari wanita tadi dan lalu membunuhnya. Setelah menyelesaikan tugasnya, dia langsung kembali dan melaporkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliaupun kemudia bersabda, “Kambing betina sudah tidak bisa lagi menanduk.

 

Umair lalu menuturkan, “Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berpaling kepada para sahabat yang ada di sekelilingnya, dan kemudian berkata, “Apabila kalian ingin melihat seorang lelaki yang menolong Allah dan Rasul-Nya secara diam-diam dan tidak diketahui orang, maka lihatlah kepada Umair bin Adi.” (Disebutkan oleh Ibnu Taimiyyah dalam Ash-Sharim Al-Maslul, hlm. 95)

 

Di bulan November 2004 Theo Van Gogh harus menerima hukuman atas apa yang telah diperbuatnya. Seorang lelaki Muslim pemberani, Abu Zubair, menghadangnya di tengah jalan, menembakkan pistolnya delapan kali dan kemudian menggorok leher orang tersebut.

 

Theo Van Gogh harus menerima hukuman tersebut karena telah membuat film yang menghina Nabi SAW., dan juga menghina Islam, berjudul “Submission”. Dalam salah satu adegan di film tersebut ditunjukkan ayat-ayat Quran tertulis di atas tubuh perempuan-perempuan yang mengenakan pakaian menerawang, dengan buah dada tampak. Ayat-ayat itu menyebut perkenan Allah bagi laki-laki untuk memukul istrinya. Wajah perempuan-perempuan dalam film bikinan Van Gogh itu tampak bengap.

 

Di tahun 1989, Salman Rushdie menulis novel yang berjudul “The Satanic Verses” yang berisikan penghinaan kepada Nabi Muhammad SAW., dan juga kepada Islam. Sejak saat itu, Salman Rusdhie tidak pernah berani menampakkan hidungnya di muka umum, karena fatwa mati telah dialamatkan kepadanya.

 

Tahun 2005, koran Jyland Posten Denmark memuat 12 karikatur yang menghina Nabi saw. Di Belanda, Geert Wilders, anggota Parlemen Belanda dari Partai Kebebasan, juga menghina Islam melalui berbagai pernyataan, tulisan dan film yang dibuatnya. Untuk kedua pelaku penghinaan tersebut, pelakunya masih dicari hidup atau mati.

 

Kini, film Innocence of Muslim, besutan Sam Bacile alias Nakoula Basseley Nakoula yang diproduksinya pada tahun 2011 harus dipertanggung jawabkan di hadapan seluruh umat Islam. Pedang terhunus sudah diarahkan ke Sam Bacile meskipun kini dia menyembunyikan diri. Allahu Akbar!

 

Wallahu’alam bis showab!

 

M Fachry

 

sumber Al-Mustaqbal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s