Syi’ah Nushairiyyah Dan Kewajiban Memeranginya (1)

قتال النصيرية فرض عين على المسلمين

Syi’ah Nushairiyyah Dan Kewajiban Memeranginya

Penulis: Syaikh Abul Mundzir Asy Syinqithiy

Alih Bahasa: Abu Sulaiman Al Arkhabiliy

Minbar Tauhid Dan Jihad

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji hanya bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dlimpahkan kepada Nabi yang mulia, juga kepada keluarganya serta para sahabat seluruhnya.

Wa Ba’du:

Di antara bencana yang menimpa umat Islam pada hari ini adalah dianggapnya sekte-sekte musyrik yang menyelisihi Islam di dalam Ushul dan Aqidah-Aqidahnya sebagai bagian dari umat Islam! Dan dianggapnya musuh-musuh Islam yang justru benar-benar memerangi sebagai bagian dari pemeluk Islam!

Di antara hal itu adalah upaya-upaya sebagian orang pada hari ini yang berusaha menutup-nutupi hakikat aqidah-aqidah Syi’ah Nushairiyyah yang padahal jelas-jelas menyelisihi Islam, dan upaya orang-orang itu dalam mengajak orang lain untuk memperlakukan sekte ini sebagaimana layaknya perlakuan terhadap kaum muslimin, padahal jelasnya tindakan keji sekte ini terhadap Islam dan kaum muslimin.

Saya telah mengumpulkan nukilan-nukilan ini untuk menjelaskan hakikat aqidah syirik mereka dan permusuhan mereka terhadap Islam, dan untuk mengingatkan prihal kewajiban memerangi mereka atas kaum muslimin. Saya memohon pertolongan dan bimbingan kepada Allah Ta’ala.

Sekilas Tentang Syi’ah Nushairiyyah:

Nushairiyyah adalah sekte Bathiniyyah (kebatinan) yang ekstrim yang terlahir dari rahim Syi’ah Itsna ‘Asyariyyah pada abad ketiga Hijriyyah.

Sekte Imamiyyah Itsna ‘Asyariyyah telah dinamakan dengan nama ini dikarenakan mereka itu meyakini bahwa Imamah adalah salah satu rukun agama ini dan bahwa Imamah itu sebagaimana kenabian adalah ditunjuk oleh Allah ‘Azza Wa Jalla, dan bahwa para imam itu ma’shum serta mereka itu terbatas pada 12 imam saja. Akan tetapi Syi’ah setelah wafatnya imam mereka yang ke 11 yaitu Al Hasan Al ‘Askariy tahun 260 H tanpa keturunan maka mereka terpecah prihal siapa yang menggantinya menjadi berbagai sekte. Dan hampir saja hal itu menjadi akhir perjalanan Syi’ah, di mana telah gugur rukun pokok ajarannya yaitu Al Imam, sampai-sampai sebagian mereka mengatakan bahwa Imamah telah terputus. Maka jalan keluar dari perselisihan ini adalah pernyataan bahwa Al Imam sedang ghaib (menghilang) di mana mereka mengklaim bahwa Al Hasan Al ‘Askariy itu memiliki anak dan bahwa si anak itu menghilang di Sirdaab (gorong-gorong). Dan munculah sejumlah orang dari kalangan Syi’ah yang ekstrim, masing-masing mengklaim bahwa dirinyalah perantara antara Al Imam Al Ghaib dengan pemeluk Syi’ah.

Sedangkan di antara para pengklaim itu adalah pendiri sekte Nushairiyyah yaitu Muhammad Ibnu Nushair An Numairiy Al Farisiy asli yang ghuluw terhadap para imam dan mempertuhankan para imam itu. Dia itu berpaham ibahiyyah (membolehkan segala hal) lagi terkenal dengan kecabulan dan kebejatan, dia menyatakan kebolehan perkawinan sesama laki-laki pada dubur mereka, dengan klaim darinya bahwa hal itu termasuk sikap tawadlu’ dan penundukan diri pada pria yang disodomi; dan dikatakan bahwa dia itu mengklaim sebagai nabi dan rasul.

Nushairiyyah dinamakan dengan nama ini dikarenakan ia dinisbatkan kepada pemimpin mereka dan pendiri sekte mereka ini yaitu Muhammad Ibnu Nushair. Dan dinamakan Numairiyyah juga sebagai penisbatan kepada dia juga, di mana dikatakan bahwa dia itu maula (mantan budak) Banu Numair; sehingga ia dinisbatkan kepada mereka. Dan mereka dinamakan juga Ma’nawiyyah; dikarenakan mereka mengatakan tentang Ali Ibnu Abi Thalib: bahwa ia itulah al ma’na, yaitu al ilaah (tuhan); di mana mereka mengatakan bahwa Ali adalah Al Imam secara dhahir dan sebagaial ilah secara bathin. Mereka dinamakan juga ‘Alawiyyah dikarenakan mereka mempertuhankan Ali Ibnu Abi Thalib.

Nushairiyyah pada hari ini lebih menyukai nama ‘Alawiyyah daripada nama-nama lainnya yang dahulu mereka dikenal dengannya. Dan penjajahan Perancis telah memberikan keleluasaan kepada mereka untuk mempopulerkan nama ini dan menjadikannya sebagai ciri bagi mereka secara resmi sehingga pada akhirnya mereka tidak dikenal kecuali dengannya. Dan dalam hal itu Muhammad Amiin Ghalib An Nushairiy: “Sesungguhnya Atrak (Turki ‘Utsmaniy)lah yang menghalangi kelompok ini dari penggunaan nama ‘Alawiyyin itu dan mereka malah menyematkan kepadanya nama Nushairiyyin sebagai penisbatan kepada gunung-gunung yang dihuni oleh mereka, sebagai pelecehan dan penghinaan terhadap mereka. Namun Perancis mengembalikan kepada mereka nama ini yang sejak lebih dari 412 tahun mereka dihalangi dari menggunakannya di saat bangsa Perancis datang ke Suriah, di mana telah muncul perintah dari Komisariat Tertinggi di Berut tertanggal 1/9/1920 M yang memerintahkan untuk menamakan pegunungan Nushairiyyin dengan nama tanah-tanah ‘Alawiyyin yang merdeka.” (Tarikh Al ‘Alawiyyin hal 391).

Sedangkan awal mula kejayaan Nushairiyyah dan keberkuasaannya di Syam adalah di masa kejayaan Dinasti ‘Ubadiyyah dan kekuasaannya. Ibnu Katsir berkata tentang Ubaidiyyin: (Mereka itu tergolong khulafa yang paling bengis, otoriter dan paling dhalim, mereka adalah raja-raja yang paling najis prilakunya dan paling busuk hatinya. Di masa kekuasaan mereka muncullah berbagai bid’ah dan munkarat, merebak ahli kerusakan, sedikit di masa mereka orang-orang shalih dari kalangan ulama dan ahli ibadah, serta merebak di negeri Syam sekte Nushairiyyah, Darziyyah dan Hasyisyiyyah) Al Bidayah Wan Nihayah 12/332. Dan tatkala datang penjajahan Prancis maka pengaruh Nushairiyyah makin bertambah dan penjajah memberikan kepada mereka kendali-kendali pemerintahan di negeri-negeri Syam saat kepergiannya.

Hakikat ‘Aqidah Mereka:

Syi’ah Nushairiyyah itu mempertuhankan Ali radliyallahu ‘anhu dan meyakini bahwa tempat tinggalnya adalah awan, oleh sebab itu mereka mengagungkan awan dan bila ia melintasi mereka maka mereka mengatakan: Assalaamu ‘alaika ya Abal Hasan.”  Mereka juga mengatakan bahwa petir adalah suara Ali dan sedangkan kilat adalah cemetinya.

Mereka meyakini trinitas yang terdiri dari Ali, Muhammad dan Salman Al Farisiy, yang darinya mereka membuat simbol yang terdiri dari tiga huruf: (‘Ain, Mim, Sin) dan hal itu ditafsirkan oleh mereka dengan (Al Ma’naa(makna), Al Ismu (nama) dan Al Baab (pintu)). Di mana Al Ma’naa: adalah Al Ghaib Al Muthlaq, yaitu Allah yang mereka simbolkan dengan huruf ‘Ain (ع). Sedangkan Al Ismu adalah gambaran makna dhahir, dan ia disimbolkan dengan huruf Mim (م). Dan sedangkan Al Baab adalah jalan untuk mencapai makna itu, dan ia disimbolkan dengan huruf Sin (س).

Dan mereka meyakini bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu menyatu dengan Ali di malam hari dan terpisah darinya di siang hari, dan bahwa Ali itu telah menciptakan Muhammad, dan bahwa Muhammad telah menciptakan Salman Al Farisiy, sedangkan Salman telah menciptakan lima orang yang mana kendali-kendali langit dan bumi ada di tangan mereka, yaitu:

Al Miqdad: Rabb manusia dan pencipta mereka yang ditugaskan untuk mengendalikan petir, guntur dan gempa.

Abu Dzarr: Adalah yang ditugaskan untuk memutarkan planet-planet dan bintang-bintang.

Abdullah Ibnu Ruwahah: Yang ditugaskan untuk meniupkan angin dan mencabut nyawa manusia.

Utsman Ibnu Madh’un: Yang ditugaskan untuk mengatur lambung, panas badan dan penyakit-penyakit manusia.

Dan Qunbur Ibnu Dzadzan: Yang ditugaskan untuk meniupkan ruh ke dalam badan.

Nushairiyyah mengimani huluul dan tanasukhul arwah (reinkarnasi), mereka meyakini bahwa orang-orang mulia kaum muslimin yang mantap keilmuannya bila mereka mati maka arwahnya menyatu pada badan keledai, sedangkan ulama Nashara bila mati maka arwahnya menyatu pada badan babi, dan ulama Yahudi pada badan kera, dan adapun para penjahat dari kelompok mereka bila mati maka arwahnya menyatu pada badan binatang yang dimakan dagingnya.

Mereka mengimani bahwa manusia itu asalnya adalah bintang-bintang terus dosa menurunkan mereka ke bumi, dan mereka tidak beriman kepada hari akhir dan tidak juga kepada surga dan neraka!

Mereka tidak mengharamkan pernikahan dengan mahram, bahkan mereka meyakini kesamaan semua wanita. Al Qalaqsyandiy telah berkata tentang Nushairiyyah: “Ia adalah sekte terlaknat, terhina, berkeyakinan sama dengan keyakinan Majusi, dimana tidak mengharamkan pernikahan dengan puteri sendiri, saudari sendiri dan ibu sendiri,” beliau berkata: Dan dalam hal ini dihikayatkan banyak cerita tentang mereka.”

Penyair Sekte Nushairiyyah berkata:

ولا تمنعي نفسك المعرسين

من الأقربين أو الأجنبي

بماذا حللت لهذا الغريب

وصرت محرمة للأب

أليس الغراس لمن ربه

وأسقاه في الزمن المجدب

Jangan engkau halangi dirimu dari menikah
Dengan karib kerabat maupun pria lain

Kenapa engkau halal bagi pria asing ini
Namun engkau jadi haram bagi sang ayah?

Bukankah tanaman itu bagi orang yang mengurusinya
Dan yang menyiraminya di masa kekeringan

Nushairiyyah meyakini bahwa barangsiapa telah mengetahui bathin, maka amalan dhahir telah gugur darinya dan dia keluar dari batasanmamluukiyyah (hamba yang dimiliki) dan genggaman ‘ubuudiyyah(penghambaan) kepada batasan hurriyyah (kemerdekaan). Dan bahwa pengenalan tingkatan-tingkatan itu baik dhahir dan bathin adalah puncak ibadah yang mencukupkan dari kewajiban-kewajiban dan ibadah-ibadah.

Penyair mereka yang tadi mengatakan:

لكل نبي مضى شرعه

وهذي شريعة هذا النبي

فقد حط عنا فروض الصلاة

وفرض الصيام فلم نتعب

إذا الناس صلوا فلا تنهضي

وإن صوموا فكلي واشربي

ولا تطلبي السعي عند الصفا

ولا زورة القبر في يثرب

Setiap nabi telah lalu ajarannya
Dan ini adalah ajaran Nabi ini

Sungguh telah digugurkan dari kami kewajiban shalat
Juga kewajiban shaum maka kami tidak lelah

Bila manusia shalat maka jangan engkau bangkit
Dan bila mereka shaum maka makanlah dan minumlah

Jangan engkau susah sa’i di Shafa
Dan jangan pula ziarah kuburannya di kota Yatsrib

Nushairiyyah juga menghalalkan minum khamr, bahkan khamr itu di dalam ajaran mereka menempati posisi yang sangat istimewa yang sampai pada tingkat pengagungan! Oleh sebab itu banyak sekali penyebutan khamr dan pujian terhadapnya di dalam syair-syair mereka, sebagaimana yang dikatakan salah seorang mereka:

اشرب الخمر إن فيه شفاء

حيث كان مزاجها زنجبيلا

وإذا ما شربتها وهي صِرْفٌ

فكل داء يعود عنك رحيلا

وإنها في كؤوسها تتلالا

في الدياجي كأنها قنديلا

إن موسى الكليم حين رآها

في دجا الليل والركام هطيلا

قال إني آنست جذوة نار

جانب الطور في ضياء شعيلا

ثم نوح النبي لما طغى الماء

شربها فنال خيرا منيلا

وكذا السيد الرسول احتساها

حين أُلْقِيْ عليه قولاً ثقيلا

قال يا أيها المزمل قم في ال

ليل طوعاً ورتل الترتيلا

ناشية الليل أشد وطأ

وهي للعارفين أقوم قيلا

Minumlah khamr karena ada kesembuhan di dalamnya
Bila jahe campurannya

Bila engkau meminumnya dengan kemurniannya
Maka semua penyakit lenyap dari dirimu

Sungguh ia dalam selokinya mengkilap
Di gelap malam bagaikan lentera

Musa Al Kalim sungguh saat melihatnya
Di kegelapan malam dan derasnya hujan

Ia berkata sungguh aku teringat nyala api
Di sisi gunung Thur yang terang sekali

Kemudian Nuh saat air bah meluap
Ia meminumnya sehingga mendapatkan banyak kebaikan

Juga Rasul sang penghulu mulia meneguknya
Saat disampaikan kepadanya ucapan yang berat

Berkata hai orang yang berselimut bangunlah
Di malam hari dengan kerelaan dan tilawahlah

Minuman di malam hari itu lebih berasa
Dan ia (khamr) bagi ‘arifin adalah lebih mantap

Dan yang lain berkata:

وما الخمر إلا كماء السماء

أبيحت فقدست من مذهب

Khamr itu tidak lain bagaikan air hujan
Yang dihalalkan maka alangkah sucinya pendapat itu

Dan berkata yang lain:

ولقد لعنت لمن يحرم شربها

وجميع أهل الشام والحجاج.

Sungguh ia telah dilaknat bagi orang yang mengharamkan meminumnya
Juga semua penduduk Syam dan jama’ah haji

Nushairiyyah mengklaim bahwa pengharaman khamr itu satu macam belenggu dan beban berat yang ditetapkan terhadap orang yang mengingkari keimanan kepada Ali. Dan di antara keyakinan mereka sebagaimana ia merupakan keyakinan semua Syi’ah Rafidlah adalah memusuhi sahabat Rasul, membenci mereka, dan menganggap ibadah dengan melaknat mereka dan mencela mereka terutama kepada Abu Bakar dan Umar radliyallahu ‘anhuma, di mana orang-orang Syi’ah itu mengklaim bahwa Abu Bakar dan Umar itu adalah najis lagi terlaknat dan keduanya adalah Jibt dan Thaghut, dan keduanya juga adalah dua Fir’aun dan dua Haman umat ini. Dan saking dengkinya mereka terhadap Umarradliyallahu ‘anhu sesungguhnya mereka selalu merayakan hari iedketerbunuhannya dan mereka menamakannya sebagai (hari keterbunuhan Dilam la’anahullah). Hari ini adalah hari ketujuh di bulan Rabi’ul Awwal pada setiap tahun.

Syakhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam menjelaskan aqidah Syi’ah ini: (Orang-orang yang dinamakan Nushairiyyah itu, mereka dan seluruh ragam Qaramithah Bathiniyyah adalah lebih kafir daripada Yahudi dan Nasrani; bahkan mereka itu lebih kafir dari banyak kaum musyrikin, dan bahaya mereka terhadap umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamadalah lebih dasyat dari bahaya orang-orang kafir muharib seperti orang-orang kafir Tattar, Frank dan yang lainnya; karena sesungguhnya mereka itu di hadapan kaum muslimin yang bodoh berpura-pura menampakkan keberpihakan dan loyalitas kepada Ahlul Bait, padahal sebenarnya mereka tidak beriman kepada Allah, Rasul-nya, dan Kitab-nya, dan tidak pula beriman kepada perintah, larangan, pahala, siksa, surga, neraka dan kepada seorang rasul-pun sebelum Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan juga tidak beriman kepada satu millah-pun dari millah-millah terdahulu, akan tetapi mereka mengambil firman Allah dan sabda Rasul-Nya yang dikenal di tengah kaum muslimin seraya mentakwilnya terhadap masalah-masalah yang mereka ada-adakan; seraya mengklaimnya bahwa ia adalah bathin). Majmu’ Al Fatawa 35/149.

Dan Syaikhul Islam juga ditanya tentang hukum Darziyyah dan Nushairiyyah, maka beliau menjawab: (Darziyyah dan Nushairiyyah itu adalah orang-orang kafir dengan kesepakatan kaum muslimin, tidak halal memakan sembelihan mereka, dan tidak halal menikahi wanita mereka, bahkan mereka itu tidak diakui dengan jizyah; karena sesungguhnya mereka itu murtaddun dari dienil Islam, bukan orang Islam; bukan Yahudi dan bukan Yasrani, mereka tidak mengakui kewajiban shalat lima waktu, kewajiban shaum Ramadlan dan kewajiban haji; dan tidak mengakui pengharaman apa yang diharamkan Allah dan Rasul-nya seperti bangkai, khamr dan yang lainnya. Dan bila mereka menampakkan dua kalimat syahadat bersama keyakinan-keyakinan ini maka mereka itu kafir dengan kesepakatan kaum muslimin. Adapun Nushairiyyah, maka mereka itu adalah para pengikut Abu Syu’aib Muhammad Ibnu Nushair di mana dia itu tergolong orang-orang ghuluw yang mengatakan: Sesungguhnya Ali adalah tuhan, seraya mereka menyenandungkan:

أشهد أن لا إله إلا

حيدرة الأنزع البطين

ولا حجاب عليه إلا

محمد الصادق الأمين

ولا طريق إليه إلا

سلمان ذو القوة المتين

Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah kecuali
Haidarah (Ali) Al Anza’ Al Bathin

Dan tidak ada hijab terhadapnya kecuali
Muhammad Ash Shadiqul Amin

Dan tidak ada jalan kepadanya kecuali
Salman Dzul Quwwatil Matin

(Majmu’ Al Fatawa 35/161)

Bersambung…

sumber : http://millahibrahim.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s