Berawal Dari Sosok “Ninja” Hingga “Celana Cingkrang”

mujahidah dfdg

Shoutussalam – “Tok… Tok… Tok…”  terdengar suara ketukan pintu depan rumah selepas tarawih, mungkin kakakku baru pulang dan datang untuk menginap.

Aku pun tak keluar kamar, tak membukakan pintu. Sayup-sayup kudengar suara Mama sedang berbincang, dari suaranya aku bisa menebak bahwa lawan bicara Mama adalah seorang wanita dewasa, wanita? Bukan kakak? Siapa yang bertamu semalam ini? Pikirku dalam hati. Namun rasa kantuk membuatku enggan untuk memuaskan rasa penasaran ini.

Tak lama kemudian, “Dii… Diandraaa… Ayo bangun, sini sebentar, Nak!”

Hah? Aku? Ada apa Mama memanggilku? Pasti berhubungan dengan wanita itu, kudengar Mama pun masih berbincang dengannya.

“Iya Maaa, sebentar Di ganti baju dulu…” jawabku.

Perlahan kubuka pintu kamar untuk mengintip, siapa gerangan tamu yang datang. Hitam, hitam, dan hitam. Hanya itu yang bisa kulihat dari celah pintu kamarku, seorang wanita dewasa mengenakan jubah hitam lengkap dengan purdahnya, dan dua orang anak kecil yang berpenampilan sama.

“Diandra… Maaf yaa mengganggu istirahatnya, Ummu mau pamit. Kami sekeluarga mau pindah rumah, pergi malam ini,” ucap wanita itu padaku saat aku menghampirinya.

“Sofiya, Maryam… Ayo sayang salam dulu sama kak Diandra,” pintanya sambil menoleh pada kedua anaknya, malu-malu mereka menghampiriku untuk mencium tanganku.

“Ummu kok pindahannya mendadak sekali? Kan kasihan Sofiya sama Maryam masih betah tinggal di sini…” tanyaku pada Ummu Jaisy, kedua anak perempuannya pun mengangguk-angguk di balik jubah kebesarannya.

“Ah iya, afwan. Memang mendadak, kami juga tak menyangka harus secepat ini. Mohon maaf yaaa, bila selama ini kami sudah merepotkan dan pernah berbuat salah. Kami izin pamit, Abi sudah menunggu…”

 

**********

Dulu aku mengira bahwa mereka adalah keluarga ninja, yang sedang menyembunyikan wajahnya dari mata-mata musuh. Ada pula yang berkata bahwa wajah mereka terlalu jelek untuk dilihat, mereka malu jika harus menampakkannya sehingga memilih untuk menyembunyikannya.

Tapi aku tak percaya, karena aku pernah melihat wajah mereka dan mereka bukan ninja. Saat ini, justru aku merasa iri pada mereka yang bisa berpakaian seperti itu.

Paradigma ini belum lama berubah, berawal saat aku mempunyai teman baru  yang… aneh. Bagaimana tidak? Di saat teman-teman lelaki ku memakai skinny jeans, dia memilih memakai celana kain yang cingkrang, di saat teman-teman lelaki ku menghabiskan waktu luang untuk nongkrong atau main billiard, dia memilih untuk pulang atau ke Masjid. Terlalu aneh untuk anak muda zaman sekarang!!!

Akhirnya aku terdorong untuk mencari tahu, kemudian mengetikkan keyword ”Celana Cingkrang” di search engine Google. Banyak informasi yang kudapat mulai dari cingkrangadalah budaya Arab, cingkrang adalah mode saat kebanjiran, sampai cingkrang adalah teroris. Semakin dicari semakin aneh tulisan orang-orang yang berusaha menjawab pertanyaanku tentang celana cingkrang.

Saat rasa penasaran ini sampai pada titik puncaknya, Allaah Subhanahu wa Ta’alamemberiku petunjuk melalui sebuah website Islam yang memuat firman-Nya dan hadits-hadits Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam.

Di sana dibahas tentang pakaian Muslim dan Muslimah yang sesuai dengan perintah Allaah, disebutkan bahwa seorang Muslim dilarang isbal[1] [i](menjulurkan pakaian melebihi mata kaki) dan seorang Muslimah diwajibkan untuk menjulurkan kerudungnya hingga menutupi dada[2] dan memakai jilbab ke seluruh tubuhnya[3].

Hmmm…  Apakah maksudnya tidak isbal seperti teman baruku yang aneh? Apakah maksudnya kerudung dan jilbab seperti tetangga ninja ku? Apakah memang seperti itu? Otakku berusaha berpikir keras.

Aku Muslimah, jika demikian lantas bagaimana dengan pakaianku selama ini? Apakah bisa dikatakan telah berkerudung dan berjilbab? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus-menerus menginterogasi pikiranku, dalam hati aku pun berkaca diri.

Sejak kapan? Mengapa aku baru mengetahuinya? Hal ini terdengar terlalu aneh bagiku, batinku dalam hati…

Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana permulaannya, maka berbahagialah orang-orang yang asing.” [4]

 

**********

Ukhti fillaah… aku tak bermaksud menggurui atau mencela dirimu yang telah begitu sempurna Allaah ciptakan. Aku menulis pengalamanku di atas hanya untuk mengingatkan diriku, juga dirimu, bahwa hidayah itu hanya milik Allaah[5] ia bisa datang kapan pun, di mana pun, dengan hikmah apa pun –sekalipun hal itu terdengar aneh bagiku– sesuai dengan kehendak-Nya.

Maka dari itu, marilah kita meminta hidayah hanya kepada Allaah. Tanyalah diri ini, apakah kita telah mencari untuk menjemput hidayah-Nya? Ataukah selama ini kita hanya menunggu hidayah datang menyapa namun ternyata saat hidayah datang kita tak kunjung menyambutnya dan malah mengabaikannya?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi[6],

“Kuciptakan kamu untuk berbakti kepada-Ku, maka janganlah kamu main-main. Kujamin rizkimu, maka janganlah kamu memayahkan dirimu. Hai anak Adam! Carilah Aku, niscaya engkau akan menemukan-Ku. Jika kamu menemukan-Ku, berarti kamu menemukan segala sesuatu (yang kamu inginkan), dan jika Aku luput darimu (karena ulahmu), berarti segala sesuatu pasti luput darimu, karena Aku lebih baik bagimu daripada segala sesuatu.”

Ingatlah Ukhtiii… bahwa wanita shalihah adalah seseorang yang cerdas dalam memilih sahabat dekatnya, terlebih lagi sahabat terdekat dalam menuntut ilmu akan perkara-perkara yang menjadi ajaran diin nya, karena Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallambersabda,

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” [7]

Terakhir, aku ingin mengajakmu merenungkan firman-Nya ini,

 

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al Hadiid: 16)

Karena itu marilah kita jemput dan sambut hidayah Allaah❤❤❤

Wallaahua’lam

 

_______________________________________

Foot Note:

[1] Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

من جر ثوبه خيلاء ، لم ينظر الله إليه يوم القيامة . فقال أبو بكر : إن أحد شقي ثوبي يسترخي ، إلا أن أتعاهد ذلك منه ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إنك لن تصنع ذلك خيلاء . قال موسى : فقلت لسالم : أذكر عبد الله : من جر إزاره ؟ قال : لم أسمعه ذكر إلا ثوبه

Barangsiapa menjulurkan pakaiannya karena sombong, tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat. Abu Bakar lalu berkata: ‘Salah satu sisi pakaianku akan melorot kecuali aku ikat dengan benar’. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘Engkau tidak melakukan itu karena sombong’.Musa bertanya kepada Salim, apakah Abdullah bin Umar menyebutkan lafadz ‘barangsiapa menjulurkan kainnya’? Salim menjawab, yang saya dengan hanya ‘barangsiapa menjulurkan pakaiannya’. ”. (HR. Bukhari 3665, Muslim 2085)

Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

ما أسفل من الكعبين من الإزار ففي النار

Kain yang panjangnya di bawah mata kaki tempatnya adalah neraka” (HR. Bukhari 5787)

Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

ثلاثة لا يكلمهم الله يوم القيامة ولا ينظر إليهم ولا يزكيهم ولهم عذاب أليم المسبل والمنان والمنفق سلعته بالحلف الكاذب

Ada tiga jenis manusia yang tidak akan diajak biacar oleh Allah pada hari Kiamat, tidak dipandang, dan tidak akan disucikan oleh Allah. Untuk mereka bertiga siksaan yang pedih. Itulah laki-laki yang isbal, orang yang mengungkit-ungkit sedekah dan orang yang melariskan barang dagangannya dengan sumpah palsu”. (HR. Muslim 106)

[2] Firman Allaah Subanahu wa Ta’ala,

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya…” (QS An Nuur: 31)

[3] Firman Allaah Subanahu wa Ta’ala,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab: 59)

[4] HR. Muslim dalam Kitabul Iman (no. 145 (232)) dari Shahabat Abu Hurairahradhiyallaahu ‘anhu

[5] Firman Allaah Subanahu wa Ta’ala,

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

 

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al Qashaas: 56)

[intan]

Sumber : shoutussalam.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s