Syekh Abu Abdullah Al Azdiy : Risalah Kepada Ulama Terkait Bai’at Untuk ISIS

Dua_Barisan_Mujahidin_Bersatu1

Daulah Islam Di Iraq Dan Syam (ISIS)

M Fachry untuk Al-Mustaqbal Channel

Berikut adalah risalah kepada ulama, mujahidin, dan seluruh kaum Muslimin yang ditulis oleh Syekh Abu Abdullah Al Azdiy terkait apa yang terjadi di bumi Syam dan Iraq (Bai’at untuk ISIS) dan dialih bahasakan oleh ustadz Abu Sulaiman Al Arkhabiliy. Semoga bermanfaat!

Bismillahirrahmanirrahim.                          

Segala puji hanya bagi Allah Rabbul ‘Alamin, shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada Rasul-Nya Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya semua. Amma Ba’du:

Ini adalah surat yang saya tujukan kepada para ulama, mujahidin dan seluruh kaum muslimin, yang berkaitan dengan apa yang terjadi di bumi Syam dan Iraq, dan saya memohon kepada Allah agar menjadikannya diterima dan menjadikannya tulus karena Wajah-Nya Yang Mulia.

Surat kepada para ulama dan mujahidin serta setiap muslim prihal apa yang terjadi di Syam dan Iraq.         

Anda sekalian mengetahui bahwa tujuan dari menjihadi orang-orang kafir adalah penegakkan dien, penerapan syari’at Rabbul ‘Alamin dan melindungi dien kaum muslimin dari musuh kafir asli dan murtad serta menjaga dunia mereka agar mengikuti dien mereka, dan bahwa aqidah prajurit muslim adalah membela, melindungi dan menyebarkan syari’at sebagaimana firman Allah Ta’ala:”Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah (syirik) dan sampai dien itu seluruhnya bagi Allah,” (Al Anfal: 39), dan bukan untuk melindungi penguasa atau pemerintah, dan sebagaimana yang anda sekalian ketahui maksud dari peperangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para khalifah-nya radliyallahu ‘anhum itu bukanlah untuk menjatuhkan pemerintahan orang-orang kafir saja, akan tetapi untuk menjatuhkan pemerintahan orang-orang kafir dan menegakkan pemerintahan syari’at sebagaimana yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat menjatuhkan semua kekuasaan kafir di Jazirah Arab dan beliau memerintahnya dengan syari’at, menampakkan tauhid dan melenyapkan syirik, sedangkan hal ini tidak akan terealisasi kecuali dengan satu bai’at dan satu panji, oleh sebab itu dakwah pertama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau menawarkan dirinya kepada manusia di Mina dan tempat lainnya seraya mengatakan: (Siapa yang melindungi saya, siapa yang menolong saya agar saya bisa menyampaikan risalah Rabb-ku).

Maka upayanya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dibai’at adalah untuk membentuk komunitas kekuatan yang melindungi dakwah dan para sahabatnya dan supaya menjadi basis dan tempat pijakan untuk menginvasi Jazirah Arab, sebagaimana hal itu tsabit dari Jabir Ibnu Abdillah Al Anshariy bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di Mekkah sepuluh tahun mendatangi manusia di tempat-tempat tinggal mereka di musim-musim haji di Mina dan tempat lainnya seraya mengatakan: (Siapa yang melindungi saya, siapa yang menolong saya agar saya bisa menyampaikan risalah Rabb-ku sedang baginya surga), sampai akhirnya Allah mengirim kami untuknya dari Yatsrib maka kami-pun membenarkannya..terus beliau tuturkan hadits secara lengkap, maka kami berkata:

(Terhadap apa kami membai’atmu? Maka beliau berkata: terhadap as sam’u wath thaa’ah pada kondisi giat dan malas, dan terhadap pemberian dana pada kondisi sulit dan mudah, serta terhadap al amru bil ma’ruf dan annahyu ‘anil munkar, dan dengan syarat kalian membelaku bila aku datang kepada kalian di Yatsrib, di mana kalian melindungiku sebagaimana kalian melindungi jiwa kalian, isteri-isteri kalian dan anak-anak kalian sedangkan balasan bagi kalian adalah surga).

Ini adalah bai’at pemberian perlindungan, nushrah dan assam’u wath thaa’ah padahal beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam belum memiliki kekuasaan dan kekuatan, maka bagaimana bisa sebagian orang mengatakan bahwa bai’at ini bid’ah? Barangsiapa mengatakan bahwa itu adalah bid’ah maka hadits ini adalah hujjah terhadap dia, karena realita di Iraq dan Syam adalah pemberian perlindungan dan nushrah, dan begitu juga pendapat itu mengandung konsekuensi dia harus menganggap bid’ah dan sesat Al Husen Ibnu Ali radliyallahu ‘anhuma saat ia keluar menuju Iraq seraya mencari bai’at padahal saat itu ia tidak memiliki kekuasaan dan kekuatan dan ia juga berada di bawah kepemimpinan syar’iy, namun demikian ia tidak dianggap bid’ah dan sesat oleh seorang sahabat-pun radliyallahu ‘anhum, akan tetapi mereka menasehatinya agar tidak keluar; karena penduduk Iraq itu tidak akan memenuhi janjinya.

Maka jelaslah dari apa yang telah lalu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di awal dakwah tauhid-nya beliau menawarkan dirinya kepada kabilah-kabilah untuk supaya mereka bai’at terhadap pemberian perlindungan dan pembelaan untuk membentuk komunitas kekuatan yang menjaga dien, syari’at dan kaum muslimin, dan bahwa Anshar telah membai’atnya terhadap pemberian perlindungan, pembelaan dan assam’u wath thaa’ah padahal saat itu beliau belum memiliki kekuatan dan kekuasaan, dan bahwa inilah jalan satu-satunya untuk menegakkan Daulah Islam dan Syari’at. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkan urusan itu pecah belah, masing-masing memiliki jabhah, di mana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memiliki jabhah, Abu Bakar tidak memiliki jabhah, Umar tidak memiliki jabhah dan para sahabat lainnya tidak memiliki jabhah-jabhah dan panji-panji lain, dan mereka juga tidak pernah mengatakan: Sesungguhnya setelah kita bisa menjatuhkan orang-orang kafir di Jazirah Arab maka kita berkumpul dan bermusyawarah untuk membai’at amir. Begitu juga pada zaman Ash Shiddieq para sahabat tidak memiliki banyak jabhat untuk memerangi kaum murtaddin dan pada zaman Umar juga mereka tidak memiliki banyak jabhah untuk memerangi Persia dan Romawi, di mana bai’at dan imarah itu menyatukan kaum muslimin di atas satu panji dan satu kepemimpinan yang mana di bawah panjinya perang dilakukan, hudud ditegakkan, persengketaan-persengketaan diselesaikan, dan ditutup pula celah-celah yang darinya orang-orang kafir dan munafiqin masuk untuk menyusupi kaum muslimin dan memecah belah di antara mereka.

Penerapan uraian yang lalu terhadap Syam dan Iraq dan penjelasan sebagian permasalahan.                      

Seandainya kita terapkan uraian yang lalu terhadap apa yang terjadi di Iraq dan Syam, maka kami katakan setelah memuji Allah:

Pertanyaan: Apakah di Iraq dan Syam itu ada bai’ah syar’iyyah walau itu semu? (((Maksudnya merujuk kepada kekuasaan negara di Iraq dan Syam yang diakui PBB, bukan Daulah Islam Iraq wa Syam “ISIS”, –ed.sirev)))

Jawaban: Tidak ada, karena para penguasa Iraq adalah Rafidlah paghanisme antek yahudi dan nasrani, dan begitu juga di Syam penguasanya adalah Nushairiy kebatinan sedangkan para ulama telah ijma terhadap kekafiran Nushairiyyah dan bahwa mereka itu lebih kafir daripada Yahudi dan Nashrani, silahkan rujuk fatwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tentang sekte Nushairiyyah itu.

Kemudian bila masalahnya adalah seperti tadi, maka wajib atas kaum muslimin untuk mengangkat amir dan membai’atnya oleh orang-orang yang mudah melakukannya,

Al Mawardiy berkata : “Cukup pembai’atan imam itu dilakukan oleh sebagian Ahlul Halli Wal ‘Aqdi dan tidak wajib semuanya ikutan”.

An Nawawiy rahimahullah berkata : “Para ulama telah sepakat bahwa untuk keabsahan bai’at itu tidak disyaratkan adanya pembai’atan semua manusia dan tidak pula seluruh Ahlul Halli Wal ‘Aqdi, namun untuk keabsahannya itu disyaratkan pembai’atan orang-orang yang bisa hadir bersepakat dari kalangan ulama, para pemimpin dan para tokoh masyarakat”.

Sebagaimana nushush (nash-nash) juga telah datang mewajibkan bai’at saat adanya orang yang pantas untuk hal itu, seperti hadits: (Barangsiapa mati sedangkan di lehernya tidak ada bai’at, maka dia mati dengan mati jahiliyyah).

Dan di dalam hadits Hudzaifah yang panjang saat ia bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keburukan di mana beliau berkata di akhirnya: (Para penyeru di atas pintu-pintu Jahannam, barangsiapa menyambut ajakannya maka mereka menceburkannya ke dalamnya).

Maka Hudzaifah berkata: Apa yang engkau perintahkan kepada saya bila hal itu mendapati saya? Maka beliau berkata: (Komitmeni Jama’ah kaum muslimin dan imam mereka), maka lihatlah di saat adanya para penyeru di atas pintu-pintu Jahannam beliau memerintahkannya agar komitmen dengan jama’ah dan imamnya.

Umat ini telah memiliki satu abad memerangi musuh kemudian bila datang waktu memetik buahnya, maka buah itu tidak dipetik oleh kaum muslimin; dikarenakan peperangan mereka itu tidak dengan bai’at dan panji yang menegakkan dien dan ingin menerapkan syari’at Rabbul ‘Alamin, namun ia itu peperangan di bawah slogan-slogan jahiliyyah seperti wathaniyyah (kebangsaan), nasionalisme, membebaskan tanah air dan menjatuhkan pemerintahan (((yang tengah berkuasa, –ed.sirev))), sedangkan semua ini adalah peperangan di jalan thaghut atau di bawah panji-panji yang intisab kepada Islam tanpa keinginan penerapan syari’at dan penegakkan dien, akan tetapi untuk menegakkan negara sekuler atau nasionalisme atau demokrasi.

Dan kalian memiliki pelajaran pada Al Ikhwan Al Muslimun di Mesir, di mana sesungguhnya mereka itu telah menanggalkan banyak dari Ushul Aqidah demi ridlo orang-orang nasrani dan orang-orang mulhid, namun demikian tetap saja mereka itu tidak ridlo dengan Al Ikhwan Al Muslimin dan bahkan mereka menjatuhkan pemerintahannya. Dan di sisi yang berlawanan, negara-negara kafir dan nifaq telah bersekongkol terhadap Thaliban Afghanistan, namun mereka tidak mampu memecah belah barisan mereka dan mengalahkan mereka, bahkan justeru orang-orang kafir-lah yang kalah dan mereka akan pergi meninggalkan Afghanistan, dikarenakan mereka itu di bawah bai’at satu amir.

Maka bagaimana seandainya Ahli (((penduduk, –ed.sirev))) Syam dan Iraq bersatu di bawah satu amir? Maka ia akan menjadi kebaikan yang besar bagi seluruh umat ini dan orang-orang yahudi akan keluar dari Syam.

Pendapat-Pendapat Dan Bantahan-Bantahan.   

1. Sebagian orang mengatakan bahwa amir di Syam itu majhul (tidak diketahui).

Maka jawaban terhadap hal ini adalah: Apa yang telah lalu dari ucapan Al Mawardiy dan An Nawawiy bahwa cukup sebagian orang dari Ahlul Halli Wal ‘Aqdi yang bisa hadir saja dan tidak harus semuanya. Dan bagaimana majhul orang yang di bawah imarahnya ada ribuan prajurit di Syam dan di Iraq?

Kemudian sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala dibai’at oleh orang-orang Anshar terhadap assam’u wath thaa’ah, pengedepanan kewajiban saat hak ditelantarkan, pemberian perlindungan dan pertolongan, jumlah mereka itu 70 orang pria sedangkan beliau tidak dilihat dan tidak dikenal oleh seluruh orang-orang Anshar dan bai’at-pun dilakukan, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-pun keluar sembunyi-sembunyi dalam hijrah bersama Ash Shiddiq radliyallahu ‘anhu.

Maka bagaimana (majhul) sedangkan amir di Iraq dan Syam itu dikejar dan dicari oleh negara-negara kafir dan nifaq untuk dibunuh.

2. Sebagian orang berdalil dengan nash-nash syura dan bahwa tidak diangkat sebagai amir kecuali lewat syura, seperti firman Allah ta’ala : “Dan ajaklah mereka bermusyawarah di dalam urusan itu,” dan firman-Nya ta’ala : “Dan urusan mereka dimusyawarahkan di antara mereka,” dan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak para sahabatnya untuk bermusyawarah.

Dan jawaban terhadap hal ini adalah: Bahwa nash-nash ini datang menjelaskan bahwa amir itu mengajak musyawarah para sahabatnya, jadi ia adalah syura bagi amir yang telah memiliki bai’at dan imarah, dan bukan syura antara jabhah dengan jabhah lainnya, dan syura juga tidak wajib dan tidak mengikat amir.

Dan berkaitan dengan imarah maka sesungguhnya Ash Shiddiq menjabat sebagai amir (khalifah) tanpa syura, bahkan para sahabat radliyallahu ‘anhum memahami dari isyarat-isyarat bahwa beliau-lah khalifah setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: (Allah dan kaum mu’minin menolak (siapapun) kecuali Abu Bakar), dan dikarenakan beliau mengedepankannya untuk mengimami manusia pada saat beliau sakit menjelang wafatnya, dan karena nash-nash lainnya. Dan ash Shiddiq telah berwasiat untuk Umar (menjadi khalifah) dan tidak ada syura, dan Umar radliyallahu ‘anhu menjadikan urusan (pengangkatan khalifah sesudahnya) pada sisa dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga dan diridloi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dikarenakan mereka itu orang-orang Quraisy.

3. Sebagian orang mengatakan: Kenapa Abu Bakar Al Baghdadiy Al Husainiy Al Qurasyiy dikedepankan terhadap para komandan jabhah-jabhah lainnya di dalam pembai’atan.

Jawaban terhadap hal ini: Bahwa beliau itu keturunan Bani Hasyim lagi dari suku Quraisy, sedangkan bila ada Amir Qurasyiy maka yang selain Quraisy tidak boleh dikedepankan terhadapnya, bahkan tidak boleh selain Qurasyiy mengedepankan diri terhadapnya, di mana Ash Shiddiq radliyallahu ‘anhu telah berhujjah terhadap Anshar di hari Saqifah dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: (Para Imam (pemimpin) itu dari Quraisy) untuk mengurungkan Anshar dari khilafah tatkala mereka telah membai’at Sa’ad Ibnu ‘Ubadah radliyallahu ‘anhu, maka mereka-pun radliyallahu ‘anhum menarik diri darinya atau dari ikut serta di dalamnya.

Maka perhatikanlah bagaimana Sa’ad ibnu ‘Ubadah radliyallahu ‘anhu meninggalkan bai’at untuk Qurasyiy dan bagaimana Anshar radliyallahu ‘anhum meninggalkannya untuk suku Quraisy, padahal orang-orang Quraisy itu hijrah (para pendatang) terus Anshar memberi mereka tempat, membela mereka, berjihad bersama mereka dan membagi dua hasil panen kebun-kebun mereka untuk muhajirin (Quraisy) serta mereka lebih mementingkan muhajirin itu terhadap diri mereka sendiri. Telah tsabit di dalam Shahih Al Bukhariy dari hadits Mu’awiyah dan Abdullah Ibnu ‘Amr radliyallahu ‘anhum bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: (Sesungguhnya urusan (kepemimpinan) ini pada Quraisy, tidak seorang-pun memusuhi mereka melainkan Allah pasti menceburkannya ke dalam neraka dengan telungkup di atas wajahnya selagi mereka itu menegakkan dien ini).

Dan telah tsabit di dalam Ash Shahihain bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: (Manusia itu pengikut bagi Quraisy dalam urusan ini, muslim mereka pengikuti bagi muslim mereka (Quraisy) dan orang kafir mereka pengikuti bagi orang kafir mereka (Quraisy)).

Tidak sedikit dari ulama telah menghikayatkan ijma bahwa khalifah kaum muslimin itu wajib berasal dari suku Quraisy, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: (Para imam itu dari Quraisy).

Dan An Nawawiy berkata: “Khilafah itu dikhususkan bagi suku Quraisy”.

Dan diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau berkata: (Kedepankan Qurasiy dan jangan kalian mengedepani mereka).

Al Mawardiy berkata : “Dan bersama nash ini maka tidak ada sedikit syubhat bagi orang muslim untuk menentang di dalamnya dan tidak ada pendapat bagi orang yang menyelisihi di dalamnya”.

4. Sebagian orang mengatakan: sesungguhnya jihad itu adalah jihad difa’ (jihad defensif) dan ia itu tidak butuh kepada amir.

Maka jawaban terhadap hal ini: Bahwa jihad difa’ (deffensive) itu tidak butuh kepada izin imam, namun izin imam itu hanya dibutuhkan di dalam jihad thalab (offensive), dan ini berkaitan dengan izin bukan berkaitan dengan kewajiban pengangkatan imam saat imam itu tidak ada, maka ini adalah hal lain sedangkan yang tadi adalah hal lain pula.

Kemudian sesungguhnya keberadaan imam dan pembai’atannya itu menyatukan kalimat, mempersatukan barisan serta menjadi lebih kuat dalam menghadang musuh yang menduduki negeri-negeri kaum muslimin yang memerangi dien mereka, merobek kehormatan-kehormatan mereka serta menumpahkan darah mereka, dan juga memutus hujjah orang yang mensyaratkan panji untuk jihad difa’.

Ya subhanallah, apakah keberadaan manusia tanpa imam itu menjadi sebab bagi kemenangan sedangkan pembai’atan mereka kepada imam menjadi sebab bagi kekalahan?!

5. Sebagian orang mengatakan: Kami memerangi orang-orang kafir dan murtaddin di atas berbagai jabhah dan jama’ah-jama’ah yang beragam serta panji-panji yang berbeda-beda. Kemudian bila rezim thaghut Syam telah jatuh, maka kami menunjuk majelis Syura yang akan memilih amir.

Jawabannya adalah: Bahwa tafarruq (cerai berai) dan tahazzub) (berkelompok-kelompok) ini adalah menyalahi tindakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang telah lalu di mana beliau meminta bai’at sebelum memulai memerangi orang-orang kafir, bahkan sebelum beliau memulai dalam memerangi orang-orang kafir, kemudian sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak akan membiarkan jabhah-jabhah dan kelompok-kelompok ini, akan tetapi mereka akan menghabisinya satu demi satu dengan cara “aku memakan di hari memakan banteng putih”, di mana mereka memulai dengan yang paling kuat dengan menyingkirkannya dan mempropokasi orang terhadap mereka kemudian kelompok yang kedua terus yang ketiga sampai mereka tidak menyisakan orang yang ada bau-bau Islam, dan mereka membentuk militer yang sekuler dan membeli manusia dengan harta atau dengan penyiksaan, pembunuhan dan pengusiran.

6. Kenapa sebagian orang masih belum mau berbai’at dan berkumpul di bawah kepemimpinan satu amir?

Jawabannya: Adalah dikarenakan banyak dari mereka akal, pola pikir dan prilakunya masih terpaku pada pembagian batas-batas wilayah versi Sykees Pycot yang terlaknat, di mana orang yang tinggal di Suriah mengatakan: Bagaimana bagi orang Iraq menjadi amir terhadap kita atau sebaliknya?

Atau masih ada pada dirinya sisa kontaminasi kotoran sekatan kewarganegaraan, sedangkan sebagian yang lain masih bertindak dan berpikir dengan pola pikir Hizbiyyah dan Jama’ah bukan dengan aqidah Tauhid yang mana orang muslim membangun al wala dan al bara di atasnya, sungguh Allah ‘Azza wa Jalla tidak mengatakan: Sesungguhnya orang-orang Syam atau orang-orang Iraq atau orang-orang Mesir atau penduduk asli atau orang-orang Arab itu bersaudara, namun yang Allah katakan adalah : “Sesungguhnya orang-orang mu’min itu bersaudara,” dan sebagian yang lain tidak menyadari terhadap permainan intelejen kafir yang ingin merobek-robek persatuan umat dan agar umat ini tidak memetik hasil jihad dengan penegakkan Daulah Islam, dan tidak menyadari juga terhadap makar media yang busuk dan corong-corong terompetnya dari kalangan ulama suu’ yang telah menjual dien mereka dengan dunia dan melakukan talbis terhadap manusia demi kepentingan dunia berupa harta, kedudukan atau keterkenalan.

Dan kesimpulan dari uraian yang lalu adalah bahwa buah jihad di Syam dan di Iraq tidak akan dipetik, dan Daulah Islam tidak akan ditegakkan, serta kaum muslimin tidak akan selamat dari tipu muslihat orang-orang kafir, permainan mereka serta dari makar busuk mereka kecuali dengan pembai’atan satu amir di bawah satu panji serta satu kekuatan yang melindungi kaum muslimin, menegakkan syari’at Allah dan menjaga kehormatan mereka.

Ya Allah kumpulkan kekuatan para mujahidin serta satukanlah barisan dan panji mereka…

Ditulis Oleh Abu Abdillah Al Azdiy.

Jazirah Arab.

Awal Bulan Shafar 1435.

Penterjemah berkata: Selesai diterjemahkan pada 20 Shafar 1435H di LP Kembang Kuning Nusakambangan.

Sumber: http://www.gulfup.com/?dg25xQ

Sumber : Al-Mustaqbal Channel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s